Catatan Reda #1

Re Ranting

 

Kau masih meringkuk di dadaku. Menguarkan aroma asmaragama yang tercipta dari persenggamaan semalam: religiuseksualiti! 

Kau selalu menyebut itu daripada kata bercinta. Dan kau selalu membantah bahwa intercourse hanya sebatas birahi. Ia murni. Serupa meditasi. 

Rambutmu yang berantakan pelan-pelan kusisir dengan jemariku. Kau menggeliat. Membiarkan helai-helai itu terkumpul di sisi bahumu hingga aku leluasa mengamati dagumu yang menyegitiga. Kelopak matamu yang serupa mawar. Hidungmu yang runcing. Pipimu, alismu, bibirmu yang tak pernah bosan kuciumi. Kau makhluk yang ditakdirkan sempurna bagiku. Dan berpaling darimu adalah dosa terbesar. 

“Kau tak tidur?” Igaumu, mengubah posisi tanganmu.
“Aku menjagamu.” 
“Ada Tuhan yang selalu menjaga kita. Tidurlah! Kau lelah.” 

Aku tersenyum. Mengusap dahi dan kelopakmu. 

“Aku ingin mengganti tugas Tuhan. Menjagamu.” Bisikku di telinganya.
“Apakah Tuhan juga insomnia sepertimu?” Tanyamu lugu, masih terpajam.
“Mungkin. Yang aku tahu, Tuhan tak pernah tidur. Dia menjaga ciptaannya. Mengabulkan keinginan-keinginan makhluknya.” 
“Pasti lelah menjadi Tuhan.” Pelan-pelan kelopakmu terbuka. Kau menatapku dalam. “Kalau aku jadi Tuhan, aku akan duduk diam di rumahku. Lalu membiarkan mereka yang suka mengadu mencari jalannya sendiri. Mereka sudah diberi akal yang sempurna, mengapa masih mengeluh dan minta-minta pada Tuhan?” 
“Mungkin mereka ingin Tuhan selalu perhatian. Mereka juga butuh diperhatikan. Sama sepertimu bukan?”

Kau terdiam, jemarimu yang lentik mempermainkan bulu-bulu di dadaku. 
“Kau pernah melihatnya?”
“Siapa?”
“Tuhan.”
“Tidak pernah.”
“Lantas mengapa kau memercayainya? Kalau Tuhan menipumu bagaimana?” 

Aku meremas pundakmu. Kadang kau seperti bayi. Sangat menggemaskan.
“Kau tahu apa yang aku lakukan saat pertama kali aku melihat foto profilmu dan awal-awal kita bertegur sapa lewat messanger?

Memercayaimu! Itu mengapa aku begitu setia menunggumu pulang. Seandainya aku tak memercayaimu, aku akan terbang ke negri Paman Sam dan menemuimu. Aku mungkin akan tersesat di kota New York dan seperti orang gila mencari keberadaanmu. Tapi aku memilih bersabar. Karena aku percaya, menunggu, menanti, bersetia dengan rindu akan melahirkan rasa yang lebih berat. Seperti rasaku padamu saat ini.” 

Matamu berbinar-binar. Rasanya aku ingin mengungkapkan segala yang aku pendam selama ini. Namun belum sempat aku berkata-kata, bibirmu telah lebih dahulu menyumpal mulutku. Kau seperti beludru. Yang membuatku tak hendak beranjak meski pagi hampir berganti siang. 

 

Singapura
Reda

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA.com, semoga betah dan kerasan ya…Terima kasih Dewi Aichi sudah mengajak satu lagi penulis baru.

 

 

2 Comments to "Catatan Reda #1"

  1. Re  24 October, 2019 at 04:28

    Thank you, kak Dewi

  2. James  12 October, 2019 at 12:22

    W e l k o m e

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.