Rokok (5)

Rizky Dwinanto

 

BRANDING

Usiaku 3.5 tahun saat pertama kali mendengar lagu We Are The Champion-nya Queen ditayangkan di TV. Iklan. Visualisasinya pebalap yang memenangkan seri moto GP tahun itu. Menggambarkan perjuangan seseorang mencapai kemenangan. Kerja sama dan jatuh bangun lalu menjadi juara. Aku penguasa remote, jadi selalu kutonton sampai habis.

Nama pebalap itu Kevin Schwantz. Gak pernah dengar? Wawasan kakak sebatas rosa rosi rosa rosi sih.

Yang pasang iklan Lucky Strike, brand milik British American Tobacco, lawan tanding Marlboro milik Philips Morris. LS mensponsori team Suzuki-nya Kevin. Di tahun itu penjualan LS melebihi Marlboro setelah selama ini selalu kalah.

Panjang iklannya dua menit setengah. Buset. Padahal iklan produk non rokok paling 15 detik, maksimal 30 detik. Pabrik rokok memang kaya raya. Nanti kutulis tentang duit keuntungan bikin rokok.

Lalu lihat video ini. I Love the Blue of Indonesia. Video pariwara terbaik tahun sekian sekian. Durasi asli lebih dari satu menit. Itu durasi iklan yang sangat panjang untuk ukuran Indonesia. Yang kuupload durasi paket hematnya. Keren iklannya. Aku pakai sebagai ringtone bertahun-tahun.

Kedua iklan itu cakep. Tak selalu menyebabkan orang merokok. Aku ingin jadi pebalap bukan perokok. Iklan Bentoel biru membuatku merasa diriku titisan burung elang.

Iklannya tanpa ada visualisasi orang merokok karena dilarang. Dulu iklan rokok bisa ditayangkan di jam berapapun. Sekarang makin ketat. Banyak aturan lokal maupun global terhadap iklan rokok. Balap F1 dan Moto GP pernah disponsori Marlboro, Lucky Strike, Camel, Dunhill, Ardath, 555. Sekarang logo rokoknya harus hilang.

Bicara iklan adalah tentang branding. Pabrikan rokok membayar biro iklan terbaik di muka bumi untuk membranding rokoknya. Harapannya brandingnya tertanam di benak konsumen. Lalu produknya laku.

Champion/juara adalah Lucky Strike
Bentoel adalah Blue of Indonesia
Mana Ekspresimu!! X-Mild
Break the Limit Starmild
Gak ada loe gak rame (persahabatan) Sampoerna Hijau
Goyang Sejati
How Low Can You Go A Mild
Jin nyebelin Djarum 76
Bisa nambahin?

Begitulah cara pabrikan rokok survive. Branding branding branding. Karena iklan dipersulit. Bayar mahal gak papa. Wong sugeh memang bebas. Tidak ada produk selain rokok sesukses branding produk rokok.

Jangan bandingkan iklan I Love The Blue sama iklan sabun krim Ekonomi ya kak.

Bagaimanapun salut kepada Djarum mau mengalah 37 langkah. Kalau bukan karena high passion, mereka tak akan mau menggelontorkan duit untuk badminton tanpa keuntungan apa-apa. Salut sekali lagi.

Nanti kita pikir sama-sama bagaimana agar rokoknya laku, badminton berjaya.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.