Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya

Syanti-Srilanka

 

Pada waktu upacara hari kemerdekaan yang ke 74 di KBRI Colombo. Saya mendapat kehormatan untuk mengeruk tumpeng, sebagai salah satu wanita warga negara Indonesia yang tertua di Srilanka.

Duapuluh sembilan tahun lalu kami mendarat di Katunayake airport Srilanka, tepatnya 19 Augustus 1990 early in the morning. Merupakan kedatangan yang pertama untuk saya dan putri kami yang waktu itu baru berumur dua tahun delapan bulan.

Saya dilahirkan di kota Serang Banten, yang waktu itu masih kota kecil yang sepi. Sekarang kota Serang telah menjadi ibu kota propinsi Banten, sudah berubah menjadi kota yang ramai.

Banten terkenal dengan daerah mistik  ilmu hitam dan jawara. Saya dibesarkan di lingkungan yang penuh mistik. Kami selalu dibuat takut disertai segala macam larangan, seperti jangan bermain setelah magrib karena ada “Kalongwewe” yang suka menculik anak kecil dan disembunyikan di susunya yang besar. Atau kalau lewat daerah tertentu, harus bilang “Numpang lewat” kalau enggak mahluk halusnya marah bisa kesambet…..dan lain-lain seperti bunyi burung seak yang terbang cuma malam hari ditunggangi oleh kuntilanak.

Pada usia 16 tahun saya meninggalkan kota Serang untuk sekolah ke Bandung. Sejak itu saya pulang ke Serang ke rumah orangtua hanya untuk berlibur. Saya melalui masa pendidikan, bekerja dan menikah di Bandung.

Tidak pernah bermimpi mendapat jodoh orang asing menetap di negara orang. Kami bertemu di Bandung, pada waktu ia mengadakan penelitian untuk program master. Setelah dua tahun ia kembali ke Srilanka, tanpa ada keputusan…..kami sama-sama tidak berani mengambil keputusan. Karena orang tua saya tidak menyetujui hubungan kami dengan berbagai alasan. Dan pernikahan di Srilanka, pada umumnya berdasarkan horoscope dan kasta. Keluarganya masih terikat dengan tradisi.

Tetapi cinta kami tak pernah padam, setelah tiga tahun berpisah akhirnya kami memutuskan untuk menikah dengan segala resikonya. Akhirnya keluarga kami merestui pernikahan kami dan keluarganya menerima saya sebagai menantu, walaupun anaknya telah melanggar tradisi mereka.

Kami bahu membahu membangun rumah impian kami. Pernikahan berbeda bangsa dan tradisi, membuat kami harus menghadapi berbagai problem…..kadang kami bertengkar karena masing-masing merasa dirinya benar dan kami juga tertawa bersama. Suka dan duka kami lalui bersama.

Sekitar sebelas tahun yang lalu, di Facebook sempat booming game “Farm Town” saya termasuk salah satu orang yang addicted game tersebut.
Membuat saya ingin memiliki kebun di alam nyata. Pada waktu saya kemukakan keinginan saya ….. suami saya tertawa sambil berkata:

“Berkebun yang sesungguhnya, tidak semudah di computer cuma tinggal click…. harus kerja keras, kasih pupuk, siram tanaman dan tangan kotor berlumuran tanah!”

Tetapi entah mengapa setelah pensiun, ia menyetujui idea saya. Pada waktu itu kami melihat iklan dari sebuah newspaper, dijual kebun kelapa seluas 2.5 acres di luar kota sekitar 130 km dari tempat tinggal kami. Kebetulan kami ada uang sesuai dengan harga yang mereka minta.

Kebun tersebut berada di tengah kebun lain, kiri kanan dan depan kebun tetangga. Di belakang terdapat danau kecil …danau tadah hujan jadi hanya musim hujan ada air nya. Keadaannya benar-benar masih seperti hutan, selain berbagai jenis burung termasuk peacock, rusa, kelinci, babi hutan termasuk ular…..kami memberi nama “Kebun Emak”

Kini usia pernikahan kami sudah lebih dari 32 tahun dan putri kami telah menikah 5 tahun yang lalu. Kami memutuskan untuk menetap di Kebun Emak dan rumah kami di Colombo ditempati oleh putri kami bersama suaminya.

Di usia kami yang sudah pukul 4.00 sore, sudah menjelang senja…… sebentar lagi matahari terbenam. Setiap sore kami berdua duduk di veranda menikmati secangkir tea, sambil mengenang masa lalu kami. Bagaimana kami kadang terjatuh sampai babak belur, tetapi karena pertolongan Tuhan kami bangkit lagi dan “cinta” yang membuat kami selalu bersama. 

Pada waktu suami masih dinas, ia sangat sibuk dengan pekerjaannya dan sering bertugas ke luar negri….”Mama minggu depan ada meeting di UN center Vienna, harus ke Afghanistan, ada training di Japan, Malaysia…..etc.
Kami sering berpisah….. pada waktu itu saya lebih sering hanya berdua dengan putri kami.

Sekarang hampir setiap hari kami bersama-sama dan hanya berdua menikmati udara yang segar dan kicauan burung, tidak ada polusi dan bising suara kendaraan. Kami hidup sederhana seperti penduduk di sekitar kami….tidak ada junk food, jauh dari KFC atau Pizza Huts. Untuk kebutuhan kami sehari-hari, kami ke jalan utama sekitar 1,5 km dari kebun kami atau ke Wariyapola kota terdekat sekitar 12 km.

Setiap pagi bangun tidur, memandang keluar melalui jendela kamar pemandangan yang begitu indah….. kenapa saya ada di sini jauh dari keluarga dan kampung halaman. Kita tidak tahu apa yang terjadi di hari esok.

Terima kasih Tuhan atas semuanya!

Hidup adalah pilihan! ……. Segala sesuatu ada masanya. Untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

 

 

4 Comments to "Untuk Segala Sesuatu Ada Masanya"

  1. Syanti  31 October, 2019 at 10:29

    Hall nemci! Terima kasih sudah membaca tulisan saya!

  2. Syanti  28 October, 2019 at 09:51

    Nemci terima kasih! Sudah membaca tulisan saya. GBU

  3. Syanti  27 October, 2019 at 08:11

    Terima kasih nemci, yang telah membaca tulisan saya.

  4. nemci  22 October, 2019 at 12:19

    halo kak syanti.. cerita yang indah sekali..
    semoga akan ada selalu cerita dari kak syanti yaa..

    love dari makassar

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.