Catatan Reda #2

Re Ranting

 

Catatan sebelumnya:

Catatan Reda #1

 

Kau selalu menguji: akankah hati terbagi-bagi?
 
Lewat retina birumu, kutemukan telaga. Ia menggenang. Menampilkan tenang. Meski kutahu di kedalamannya tersimpan tumpukan dedaunan, ranting-ranting bahkan batang pohon yang melapuk.  Entah apa yang kau cemburui. Apa pula yang kau takutkan ketika semua detik yang kumiliki saat ini adalah milikmu? Tiap detik jantung ini selalu mendetakkan namamu?

“Aku cemburu pada Tuhan.” bisikmu saat kita duduk di mini bar yang menyekat dapur dan ruang tamu. Tubuh telanjangmu yang hanya dilapisi kimono menerawang begitu sempurna ditempa cahaya pagi.

Aku hampir tersedak dan menumpahkan kopi yang baru saja aku seruput. Dan kau melirikku tajam.

“Aku serius.” 

Pelan-pelan kau menyisip kopimu. Matamu nyalang ke luar jendela kaca yang sengaja didesain selebar mungkin agar lanskap kota yang berpuluh-puluh kilo meter jauhnya terbingkai sempurna. 

“Mengapa cemburu? Bukankah harusnya Dia yang cemburu bila tiap detik kau selalu menjajah pikiranku?”

“Kecemburuan itu yang membuat aku cemburu. Cemburu mengapa Dia musti cemburu. Cemburu mengapa Dia marah ketika Hawa memetik kuldi dan menelannya. Lalu mengusir Adam dan dirinya dari surga. Seandainya itu tak terjadi, mungkin kita masih berada di surga. Jauh dari kebisingan hidup dan bayang-bayang masa lalu.” 

Aku memiringkan tubuhku dan mengelus kepalamu. Saat kau mulai bicara seperti ini, yang ingin kulakukan adalah merengkuhmu dan menenggelamkanmu dalam ciuman panjang. 

“Ini surga, Sayang. Menikmati pagi berdua seperti ini bagiku adalah surga. Kita terlalu dipusingkan oleh hal-hal rumit. Kesibukan yang mengkapitalisasi hidup dan pikiran kita. Lalu kita lupa bahwa nikmat yang sesungguhnya adalah cara, bukan hasil. Ketenangan adalah proses, bukan result! Kesejatian diri adalah ketika kita bisa menikmati proses. Melewati anak tangga satu demi satu. Itu mengapa Tuhan mengusir Adam dan Hawa. Agar anak cucunya mengerti, bahwa untuk kembali ke zaman azali, menuju garba, butuh proses dan waktu yang kadang menyakitkan.” 

Aku menyeruput kopiku dan meletakkan cangkir porselen di atas tatakan. Kembali menatapmu. 

“Atau sebenarnya kau cemburu bila aku memiliki perempuan lain?” 

“Tidak.”

“Artinya kau tak mencintaiku?”

“Tidak seperti itu.” 

“Lalu?” 

“Karena aku tidak bisa mendominasi hidupmu. Aku memiliki caraku sendiri untuk mencintai. Dan itu murni.” 

Aku menghela napas. Jawaban itu terlalu menyakitkan bagiku. Apakah kau tahu aku telah berbagi?

“Kapan kau kembali ke New York?”  tanyaku, memutar topik pembicaraan.

“Bukannya aku sudah bilang berkali-kali. Lusa. Tinggal dua hari. Dan nanti malam, mungkin jadi malam terakhir untuk kita.”

“Kau tidak ingin menghabiskan malam terakhir bersamaku?” 

“Rasanya tidak mungkin. Aku punya keluarga. Orang tuaku ingin aku berangkat dari rumah.”

“Ini juga rumah. Rumahku. Rumah kita.” 

Kau mengunci mulutmu. Mungkin kau jengah mendengar perkataanku.

“Kau masih akan menghubungiku?” 

“Jangan khawatir. Aku masih selalu sama. Tak ada yang akan berubah setelah pertemuan ini.” 

“Kau terluka pernah mengenalku?” 

Bibirmu bergetar. Matamu nanar. Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Tapi aku tak hendak menggali terlalu dalam. Aku tahu, ketika segalanya diungkapkan, tak hanya kau yang tersakiti. Aku lebih-lebih. Aku membiarkan segalanya terbungkus dalam misteri. Tak perlu melibatkan tetek bengek perkara dari luar. Hanya tentang kita. Rasa kita. 

“Aku bahagia, ” katamu lirih, menoleh padaku, “mengenalmu.” 

Kau bangkit. Berjalan ke ruang tamu dengan kepala menunduk. Aku bisa merasakan langkah berat itu. Sebuah beban yang membuat pundakmu terguncang……

Singapura
Reda

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.