Catatan Reda #3

Re Ranting

 

Catatan sebelumnya:

Catatan Reda #1

Catatan Reda #2

 

Setelah regukan terakhir, aku bangkit dan menyusulmu. Kau duduk di sofa ruang tamu. Bahumu yang masih berguncang menahan langkahku. Aku seperti patung. Hilang renjana. Meluruk ke dalam ceruk kenestapaan yang tanpa sengaja aku toreh dalam nadirku sendiri: inilah kali pertama aku melihatmu berderai. 

Kutahu kau tak selemah itu. Keceriaan selalu membalut suaramu saat kita berbicara lewat telepon genggam. Bahasamu dalam setiap pesan yang kau kirim selalu menarik sudut bibirku. Bila kini kau menangis, artinya ada sesuatu yang dalam. Tapi apa? 

“Tidakah asmaragama ini berakhir?” tanyamu, suaramu parau. “Harusnya aku sadar sejak awal, mencintai yang tak bisa dimiliki bukanlah sesuatu yang muskil. Aku memiliki cara sendiri untuk mencintai. Namun persenggamaan tetap saja menyatukan sukma. Dan tubuh.” 

Aku terdiam. Hanya jemariku saja yang mengelus pundakmu. Mencipta tenang. Namun segalanya sia-sia. Guncangan itu makin terasa. Dan aku mencoba menguatkan diri. Bersimpuh di hadapanmu. Menatap wajah piasmu. 

“Hai, bukankah kau selalu menyemangati, segalanya akan baik-baik saja?” 

“Aku tahu,”

“Lantas apa yang mengganggu?” 

“Rasa yang dalam itu. Aku takut bila nantinya berganti semenjana.”

“Tak akan ada yang berubah, cantik. Tidak akan.” 

Aku memelukmu. Meremas punggungmu. Seperti ingin membiarkan tubuhmu masuk ke dalam diriku hingga penyatuan ini benar-benar sempurna. Namun menyadari kota New York telah menantimu dan segudang kesibukan sudah memanggil-menggilmu sejak pertama kali aku menjemputmu di bandara, sepertinya tak mungkin kau tetap tinggal. Aku musti ikhlas melepas. Bahkan, seperti katamu, jika rasa yang dalam itu berganti semenjana. 

“Kau pasti akan kesepian saat hari pertama menjejakkan kaki di New York nanti. Tapi…” 

“Tidak. Itu tidak akan terjadi.” Sanggahmu buru-buru. 

Kau menyeka sisa air mata dengan punggung tanganmu dan memaksakan diri tersenyum.

“Ada dua malaikat yang menjagaku. Kalau kesepian, aku akan mengajak mereka minum bir di roof top atau nonton di bioskop. Aku sering berbincang-bincang dengan malaikat. Kadang menggosip tentang bosku. Bahkan menggunjing Tuhan.” 

Kau tertawa. Meski terpaksa. Bagimu itu lucu. Namun hatiku entah mengapa jadi sakit. Begitu sepinyakah kau di negri orang?

“Malaikat tidak suka bir. Dia hanya menemaniku dan membantuku mengupas kulit kacang. Kalau aku bosan. Biasanya aku mengusir mereka. Meraka akan pergi ke dapur mencari soft drink. Kau bisa bayangkan malaikat meminum Coca-Cola atau Pepsi. Mereka sahabat baik. Tak pernah berhianat.” 

Berbicara seperti ini, membuat wajahmu kembali merona.

“Aku juga tak pernah berkhianat.”

Kau memicingkan mata. “Sejauh ini, mungkin kau belum mengkhianatiku. Tapi bagaimana dengan hati yang lain?” 

“Tidak akan ada yang terluka, cinta. Asal segalanya terjaga.” 

Aku benci kalimatku sendiri. Yang membuatku tampak sebagai pecundang. 

Kau tak menjawab apapun. Matamu mengarah pada langit-langit ruangan bercat baby blue. 

“Aku mencoba untuk tak menghianati siapapun. Termasuk religiuseksualiti kita.” Kataku.

“Ah… Aku lelah membahas itu. Membuat perutku lapar.” 

“Oh ya kamu mau spaghetti?” 

“Sepagi ini? Belum juga jam sepuluh.” 

“Aku ingin makan spaghetti satu piring berdua. Memakannya satu persatu bersamamu dari ujung ke ujung.” 

“Kalau begitu, masaklah untukku.” 

“Baik, tuan putri.” 

Aku tersenyum. Lalu bangkit menuju ke dapur. Sementara kau masih duduk di sofa. Mengeringkan sisa air mata dengan bibir tersenyum.

Singapura
Reda

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.