Bukan Train to Busan

Putri Ariffani

 

Bulan November kemarin saya berkesempatan mengunjungi Busan. Ceritanya ngerayain hari lahir di negara orang biar kece (sombong). Hahahahaha… menghadiahi diri sendiri yang sudah bekerja keras dan kebetulan berangkat ke sana pas hari lahir.

Tepatnya hari ke-2 saya di Seoul, saya dan kawan menuju Busan dengan KTX, kereta cepat ala-ala shinkansen begitu. Dari Seoul menuju Busan bisa di tempuh dengan pesawat, harga lumayan mahal waktu tempuh sebentar, jika naik Bus harga murah tetapi waktu tempuh lebih lama. Dan akhirnya pilihan kami jatuh ke kereta api, (selain karena terinspirasi oleh Ahjuzzi Gong Yoo di Train to Busan) harga tidak terlalu mahal jarak tempuh hanya 2 jam dan waktu untuk memilih kereta fleksible.

Sampai di Busan kami langsung mengunjungi Taejongdae National Park, naik bis depan Stasiun Busan langsung menuju Taejongdae, jadi ini adalah pantai berbatu lebih tepatnya bukit di pinggir laut  begitu, untuk mengelilingi Taejongdae bisa jalan kaki atau naik Danubi Train seharga 3000won. Kami memilijh naik Danubi Train,  ada 3 pemberhentian di sini. Saya lupa namanya, tetapi dari sini kita bisa melihat laut lepas, ada teropong yang disediakan untuk melihat sekitar.

Lanjut di Pemberhentian ke-2, kami menuju menuju Mercusuar. Kebetulan di sana ketemu sama Oppa-Oppa yang lagi wamil.. happy donk kita…hahahhahaha…. Ternyata di Taejongdae ada tempat untuk pelatihan militer (Jadi kalau beruntung bisa kayak saya yang ketemu oppa-oppa lagi latihan militer di sini).

Di pemberhentian ke-3, ada kuil dan beberapa monument. Karena saya tidak kuat dingin dan angin yang kencang jadi saya hanya mengunjungi kuil yang mudah dicapai.

Dari Taejongdae kami menuju penginapan, dan tidak jauh dari Busan International Film Festival.

Sampai di penginapan kami beristirahat sebentar dan sorenya menuju BIFF, saya tidak tahu apakah di sini ada cinema atau teater, tetapi jalan yang saya masuki penuh dengan toko dan penjual kaki lima.

Nemu jajanan namanya Hotteok  semacam roti goreng yang isi dengan kacang-kacangan seperti almond, kwaci, kacang dll, rasanya enak. Wajib coba selain karena ini halal harganya antar 1700-2000won. Perjalanan dilanjuntkan dengan kalap belanja. Karena lapar akhirnya makan di rameyon dan odeng disertai kimchi dan ini kimchinya enak banget.

Hari berikutnya kami pergi pagi-pagi sekali, tujuan kami adalah Gwangalli Beach, jangan lupa foto depan jembatan,  semacam ikon kali yak. Karena jembatan ini bertingkat dan panjang. Banyak pantai di Busan yang bisa dikunjungi, tapi kami memilih Gwangalli ya karena jembatan ini. dan lagi-lagi secara kebetulan, di Gwangalli ada acara pembukaan IDF Congress 2019, kami diminta untuk jadi penonton dadakan, lumayan dapat jajan dan minum buat bekal di jalan. Jajannya seperti kue beras isinya lagi-lagi kacang-kacangan.

Perjalanan selanjutnya ke Gamcheon, sebenarnya dari jarak Gamcheon dari penginapan lebih dekat, tapi karena ingin menikmati pantai lebih dulu makanya kami ke Gwangalli yang berseberangan.

Gamcheon ini biasa disebut Santorininya Busan. Perkampungan yang warna-warni. Cantik! Kita bisa membeli peta seharga 2000won, ada permainan gitu, kita bisa isi stamp untuk tiap tempat.   Tapi saya dan kawan hanya menyusuri setengah dari perkampungan ini. hahahha, yah bukan karena tidak kuat hanya karena kami tidak ingin kemalaman sampai Seoul, makanya siang hari kami segera kembali ke Seoul.

Perjalanan ke Busan cukup menyenangkan  bagi saya dan memberi kesan yang baik, penduduknya ramah ketika kami kebingungan akan naik bis yang mana saja, beberapa penduduk yang sudah berumur memberitahu kami meski kami bisa menangkap samar-samar bahasa mereka karena dari mereka jarang sekali ada yang bisa berbahasa Inggris. Ada untungnya juga hobi nonton drama korea. Susah bahasa itu biasa ya.

 

 

4 Comments to "Bukan Train to Busan"

  1. ariffani  16 November, 2019 at 00:29

    asal jangan Train ke KOSAN aja Pak james…. hahahahhahaa

  2. ariffani  16 November, 2019 at 00:29

    Hallo Oppa DJ, wahh,,, kenapa itu tak bisa dibuka potonya ??

    ada masalah kah?

    kemarin ke Semarang Oppa belom tapi tak sempat mengunjugi kampung warna warni, karena tak tertarik, padahal dari hotel sangat dekat.

  3. Dj. 813  10 November, 2019 at 18:50

    Hallo Putri . . .
    Senang mebaca ceritamu . . .
    Sayang nya, kami di Jerman tidak bisa melihat foto-foto yang kami tayangkan .
    Tidak jadi masalah, yang penting bisa baca ceritamu .
    Ternyata ada juga kampoeng warna wani seperti di Malang dan di Semarang.
    Yang di Malang, üernaj Dj. kunjungi, tapi yang di Semarang, belum pernah .
    Menyenangkan, ditunggu cerita berikut nya .
    Salam manis dari Mainz .

  4. James  10 November, 2019 at 10:09

    asal jangan Train ke BOSAN aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.