Orang Kampung Masuk Kota

Wendly Marot

 

Hari-hari penuh kenangan di Manila akan segera berakhir beberapa hari lagi. Kurang lebih hampir empat bulan saya menapaki beberapa lorongnya. Ini mungkin terlalu singkat untuk menulis sejarah, namun ini lumayan panjang untuk menciptakan kenangan. Yah! Kenangan menapaki Kota beribu Jeepney penghasil asap biru yang menyengat hidung dan kadang mengaburkan pandangan.

Saya mencoba mengabadikan kenangan singkat ini dalam beberapa potret diri dan juga beberapa coretan yang mungkin tak bermakna. Ketika saya menampilkannya di facebook, banyak temanku yang bilang bahwa saya kurang kerjaan. Tapi apa pun penilaian orang, saya tetap laju menceriterakannya kepada setiap orang yang ingin mendengarkan dan ingin membaca tulisan-tulisan yang jauh dari kesan profesional. Seperti halnya tulisan ini.

Saya menikmati setiap hari-hariku di Manila, tepatnya di Quezon City. Saya akui, selama berada di ibu kota Filipina ini, saya tidak banyak berbuat, tidak banyak bicara, tidak banyak jalan, hanya banyak bersandiwara, duduk dengan teman pastor dari Indonesia sambil menikmati rokok atau redlabel dan banyak berdiam diri untuk melihat ke dalam diri, merenung tentang apa sebenarnya yang sedang saya cari dan saya perjuangkan dalam hidup ini. Sekali lagi, empat bulan terlalu singkat untuk sebuah sejarah, tetapi cukup panjang untuk menciptakan kenangan. Untuk itu, saya pun lebih banya menulis kisah-kisah kecil selama beberapa bulan ini dalam catatan harianku.

Saya datang dari kampung, dengan mentalitas kampung dan mungkin pas kalau disebut kampungan. Yah saya harus akui itu, orang kampung masuk kota. Di sini naik kereta untuk pertama kali. Di sini pula untuk pertama kali saya menikmati pemandangan kota dari ketinggian, ketika mengunjungi teman yang tinggal di lantai 20-an di sebuah apartemen.

Di sini pula saya baru memulai menikmati hiruk pikuk, keluar masuk mall dan berjumpa manusia yang berjubel keluar masuk pusat perbelanjaan setiap hari, meskipun saya bisa pastikan banyak dari antara mereka yang datang hanya untuk menikmati wifi dan AC gratis karena Manila termasuk kota yang berhawa sangat panas.

Saya juga menduga ini karena kadang saya jumpai orang tidak membawa apa-apa saat pulang dari pusat perbelanjaan ini, seperti halnya saya sendiri yang kadang datang hanya untuk menghibur diri dengan kata-kata cuci mata. Cuci mata artinya melihat hal baru yang tidak lazim di dalam biara, termasuk melihat barang-barang baru yang hanya bisa dimiliki dalam hayalan dan takan bisa digapai dalam dunia nyata.

Saya adalah anak kampung yang baru masuk kota. Karena itu tidak heran (saya sendiri menyadarinya) ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Manila, saya masih membawa sifat kampungan saya yang suka bertanya kalau bingung.

Di bandara, karena tidak ada kenalan, saya bertanya pada satpam tentang di mana saya harus menunggu jemputan (kebetulan teman saya sudah berjanji untuk menjemput); saya bertanya kepada pusat informasi tentang apa password wifi airport (saya butuh untuk memudahkan saya mengontak teman yang menjemput); bertanya pada teman penumpang yang tidak saya kenal tentang di mana dia tinggal dan sebagainya. Bahkan saya pernah kepo kepada teman penumpang di dalam kereta tentang berita apa yang sedang dia baca dari koran yang sedang dia pegang. Pernah juga terjadi ada orang yang begitu merasa terganggu karena saya bertanya dia mau ke mana dan sedang buat apa.

Kemudian baru saya tahu, bahwa hidup di kota, jangan terlalu banyak tanya kepada orang lain apa lagi bertanya tentang kehidupan orang lain. Saya menyesali semua itu, dan karena itu saya menghapus dari memoriku tentang satu prinsip yang selalu kupegang dari dulu “malu bertanya, sesat di jalan”. Jika engkau harus bertanya, minta maaflah terlebih dahulu dan buat seolah-olah bertanya adalah dosa.

Misalnya, jika kau mau bertanya tentang jalan, kau harus memulainya dengan, mohon maaf, boleh saya tanya sesuatu? Kau hanya boleh bertanya jika yang ditanya mengijinkan engkau bertanya bahkan untuk pertanyaan yang sederhana. Atas nama menghargai privasi orang, di Kota jangan sembarang bertanya.

Di Manila membuat saya bisa menyimpulkan sendiri dan mungkin hanya berlaku untuk diri sendiri bahwa hidup di Kota butuh nyali untuk mencoba sendiri dan untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain. Yah, untuk pergi ke satu tempat yang baru saja, jangan mengharapkan ada orang yang akan membantumu untuk menunjuk jalan.

Satu kali saya ingin ke sebuah museum, temanku yang seorang Filipina hanya berpesan, silahkan cek di google map dan saya menunggu anda di sana. Di situ saya kembali sadar akan kekampungan saya, ternyata saya juga gelap gulita dalam mengoperasikan google map. Maka, kepada sopir taxi saya pun harus dengan rendah hati bertanya dan seperti tadi, memulainya dengan minta maaf. Mohon maaf, apakah anda boleh membantu saya?

Dan butuh waktu yang agak lama saya mendapat jawaban, boleh! Apa yang bisa saya bantu? Kalau jawaban sudah begitu, saya merasa, Tuhan sudah mengerjakan dua hal sekaligus: pertama, Dia mengampuni dosa saya yaitu dosa bertanya kepada sopir, dan kedua adalah Dia membuka jalan untuk saya lewat sopir.

Ada banyak hal yang membuat saya sebagai orang kampung bingung tujuh keliling hidup di kota. Namun saya tidak bisa menyebutnya di sini satu persatu. Akan tetapi, ada satu hal yang mengganggu pikiran saya hingga saat ini dan mungkin akan terus mengganggu saya dalam hidup selanjutnya. Yah sangat mengganggu karena ini menyentuh sampai ke kedalaman hati saya.

Satu hari, saya diberi hadiah biskuit oleh guru di sekolah karena berhasil menyebut sekurang-kurangnya 40 kata sifat dalam Bahasa Inggris. (Yah, selama belajar Bahasa Inggris memang kami dibuat seperti baru masuk SD dulu yang baru belajar Bahasa Indonesia. Harus diumpan dengan hadiah). Karena tidak suka makan-makanan yang manis-manis, maka saya membawa biscuit itu pulang. Dari stasiun kereta, saya memilih jalan kaki menuju rumah. Di jalan itu, bertemu dengan para pengemis adalah hal yang biasa.

Seperti hari itu, saya dihadang oleh satu keluarga pengemis di jalan dan mereka meminta uang. Karena tidak memiliki uang, saya pun membuka tas dan mengambil biscuit dan memberikannya kepada si peminta. Tuhan Allah, bukannya menerima dengan berterima kasih, sidia malah menjawab saya dengan kasar: “I’m asking for money, not for food! (Saya tidak tahu persis, apakah Bahasa inggris ini benar atau tidak).

Saya tersenyum melihat biskuitku dibuang ke jalan. Lalu, saya memungutnya kembali dan melanjutkan perjalanan. Saya tidak tahu, Tuhan menganggap saya bersalah atau tidak ketika dalam hati saya berkata: “sudah miskin tapi tetap sombong”. Saya berharap Tuhan mau memaafkan saya jika saya marah dan sempat berjanji untuk tidak memberikan apa-apa lagi kepada mereka. Bagaimana mungkin kita tidak sakit hati, ketika kita memberikan sesuatu dengan penuh belas kasih, eh malah reaksinya begitu kejam.

Hingga kini, hingga hari-hari terakhir mau pulang ke kampung dan kembali jadi orang kampung, saya masih belum paham dan mungkin akan terus menjadi misteri untukku, mengapa si pengemis itu menjawab saya seperti itu. Saya pernah menceriterakan pengalaman itu kepada temanku, dan teman itu menjawab bahwa itu sudah lazim terjadi di Kota ini dan mungkin juga terjadi di kota-kota lain. Saya tidak tahu karena memang saya ini orang kampung yang kebetulan masuk kota untuk waktu yang tidak terlalu lama.

 

 

2 Comments to "Orang Kampung Masuk Kota"

  1. Dj. 813  10 November, 2019 at 18:39

    Bung Qendly Marot . . .
    Pengalaman anda sangat menarik , mirip dengan pengalaman saya, awal tahun ini, selama 3 bulan pulang ke Indonesia .
    Walau saya, sudah hampir 45 tahun tinggal di Eropa, dan setiap 2 tahun pulang ke Indonesia,
    Tetap jadi orang kampoeng . . . Hahahahahaha . . . ! ! !
    Bagaimana tidak, kami tinggal di Eropa dikota kecil, walau ibu kota negara bahagian .
    Tapi sepi dan tenang, juga tidak ada yang namanya Mal .
    Bila mudik, malah kadang bisa bikin stress, karena terlalu bising dengan manusia yang begitu berjubel .
    Bertanya bukan berarti bersalah atau dosa, kita minta maaaf, sebelum bertanya, karena kemungkinan memganggu waktu yang ditanya .
    Kebiasaan saya jalan kaki dan saat 3 bulan, saya lewati sekitar 20 kota di Indonesia dengan hanya sebagai Back Packer .
    Walau saya juga gunakan Google Map, tetapi sering salah jalan dan juga bertanya ke Satpam . . . Hahahahahaha . . . ! ! !
    dalam perjalanan menggunakan jasa Kereta Api, Bus , Travel , juta pesawat . . .
    Karena saya 3 bulan sendirian, jelas, ingin ngobrol sama tetangga sebelaj kursi.
    Juga di Restauran, warung atau dimana saja selalu mencari teman bicara , agar tidak kesepian .
    Saya harap, anda tetap menulis . . .
    Salam Kasih dalam Kristus Jesus dari kota Mainz .

  2. James  10 November, 2019 at 10:02

    Orang Kampung masuk Kota = Orang Kota masuk Kampung, ksama saja keduanya banyak tanya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.