Perjalanan Religi (6)

Ninik Atmodipo

 

Artikel sebelumnya:

Perjalanan Religi (5)

 

Hubungan bilateral antara Jordan dan Israel

Sebelum saya cerita mengenai Israel. Ada baiknya kita buka lembaran terdahulu mengenai Jordania. Jordania ini memegang peranan sangat penting bagi warga dunia yang akan berkunjung ke Israel. Ketika penerbangan saya yang sangat melelahkan. Sydney-Abudhabi, kemudian Lanjut Abudhabi-Jordan. Kemudian jalan darat Jordan-Israel.

Pertanyaan saya kenapa mesti naik turun pesawat. Sungguh melelahkan kenapa mesti ke Jordan segala. Ini suatu pertanyaan “lebay” maklum ibu-ibu yang kurang faham dunia politik dan airline rule.
Baru mikir jelas, saya pernah kerja di dunia pesawat international. Betul…pesawat Etihad harus turun di AbuDhabi. Kenapa saya tak naik Jordan Air dari Australia. Saya tidak tahu apakah Jordan Air terbang dari kota-kota besar di Australia. Saya belum riset. Ada yang tahu? Silahkan tambahkan di komen.

Yang jelas perhitungan ekonomi dari travel agent/group tour saya yang memilih Etihad karena mungkin murah. Emirate juga terbang dari Australia ke Dubai. Cuman harganya saya kira lebih mahal. Dari Dubai terbang ke Jordan. Kelihatan pemerintah Australia lebih cenderung berhubungan dengan maskapai negara United Arab Emirate.
Kalau terbang dari Indonesia sungguh enak, cepat dan murah. Saudi Arabia Air, Garuda Air, Lion Air dsb. Ada yang bisa nambah berita, silahkan!

Kembali ke Jordan, Jordan itu negaranya lebih besar dari Israel tapi tidak mempunyai sumber alam minyak dan gas. Sebagai negara kerajaan yang mencoba bersikap netral terhadap urusan perang antara Arab dan Israel sangat tidak mudah. Majesty raja Hussein dari Jordania Bersama Perdana Menteri Israel Yizhak Rabin berusaha bersahabat dengan mengadakan perjanjian “The Washington Declaration Israel-Jordan-Amerika Serikat, tanggal 25 July 1994. Presiden Clinton sebagai saksinya.
Salah satu isi dari deklarasi yang berdasar Security Council Resolutions 242 dan 338 mengenai segala aspek kebebasan, kebersamaan dan hukum.

Kedua negara ini setuju untuk mempromosikan keselarasan hubungan antara tiga agama Yahudi, Islam dan Kristen. Demikian juga dibukanya perbatasan penyeberangan antara Jordan dan Israel. Sebuah kebebasan untuk negara-negara yang akan berkunjung ke Israel dan Jordan.

Namun perjanjian itu sempat dilanggar oleh Israel sekitar bulan November 2017. Seperti biasa provokasi Mahjidil Aqsa. Israel sebagai “occupying power” bertanggung jawab untuk pemeliharaan “status quo” di Jerusallem ternyata telah melanggar International Law/Hukum International. Majesty Raja Abullah penguasa Jordan sempat bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai masalah tsb. Dari jaman dahulu sampai sekarang persoalan Mahjidil Aqsa ini hampir tidak pernah selesai. Selalu ada intrik-intrik tersembunyi.

Untuk itu bagi para pemeluk agama Islam, pergilah sekarang ke Mahjidil Aqsa, sebelum terjadi pelanggaran International lagi oleh pihak Israel. Mahjidil Aqsa itu adalah milik kaum muslim meskipun kepemilikan itu dibawah tangan Israel. Mengerti maksud saya? Paham? Silahkan pergi kesana dan buktikan sejarahnya.

Tanggal 26 Otober 1994 pemerintah Jordan dan Isreal telah menandatangi perjanjian “treaty” sejarah perdamaian yang berhubungan mendamaikan antara Israel dan Palestina.

Kira-kira begitulah cerita kenapa kita semua harus menyeberang dari perbatasan jalan darat antara Jordan dan Israel. Kalau beruntung pemeriksaan imigrasi Israel minim sekitar 3 atau 4 jam lamanya. Kadang bisa 7 jam lebih. Bayangkan kami satu bis diperiksa satu-satu paspor dan bawaannya. Yang kira-kira dicurigain akan diinterview.

Dari 49 orang yang berada di bis. 9 orang diinterview oleh yang berwajib pihak Israel. Pertanyaannya macam-macam tentunya. Ditengah malam buta kami menunggu di dalam bis karena 9 anak-anak muda dari group kami belum dikeluarkan dari “border control”.
Menunggu dan menunggu mulai dari jam 9 malam sampai dengan jam 12 malam. Belum juga keluar semuanya.

Kebetulan saya melenggang keluar nomor satu setelah tour leader, pemeriksannya gak nanya macam-macam. Ingatanku melayang, dimana payungku? Wah ternyata teringat kemungkingan jatuh di dalam kantor Imigrasi Israel. Akhirnya kuputuskan keluar dari bis. Sempat ketua group bilang: “ngapain masuk kantor imigrasi? Keluar aja susah, ini masuk lagi”. “Payungku ketinggalan di dalam”. Sambil mengemis ngemis penjaga keamanan yang bawa senjata laras Panjang. Aku bilang: “payungku ketinggalan di dalam”. Bersyukur mereka percaya dengan alasanku. Akhirnya aku dibawa masuk ke dalam kantor imigrasi lagi. Dengan tenang aku masuk mencari cari dimana gerangan payungku yang kubeli di Brisbine Australia. Musim hujan di Israel. Ternyata tak ketemu.

Pengalaman masuk kantor imigrasi/border control di Israel. Ternyata juga sama dengan border control Australia. Karena udah pernah kerja disitu jadi gak ada ketegangan yang terjadi. Malah diajak ngobrol sama petugas di dalam. “Ente tinggal dimana di negara Australia?” Ngobrol-ngobrol menyenangkan. Meskipun ada beberapa anggota regu masih ditahan di dalam.
Yang lebih lucu lagi, ada dua kawan perempuan yang sedang ke toilet. Toilet ada di luar halaman. Mereka tahu masih banyak yang ditahan belum dikeluarkan dari imigrasi. Setelah keluar dari toilet, mereka “jinjit-jinjint” mengintai di pintu jendela kantor imigrasi / border control. Ingin melihat ngapaain aja tuh yang pada belum dikeluarkan.

Belum selesai mengintai, tiba-tiba senapan Panjang diarahkan ke mereka berdua. Jantung berdentak: “maaf..maaf tuan, kita cuman mau lihat kawan kita sudah selasai pemeriksaan?”. Itulah sekedar seriusnya di perbatasan. Dimana-mana border control.

Ini photo border control keluar dari wilayah Israel menuju Palestina

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.