Catatan Reda #4

Re Ranting

 

 

Catatan sebelumnya:

Catatan Reda #1

Catatan Reda #2

Catatan Reda #3

 

Aku mencium aroma spaghetti dalam telanjang tubuhmu. Ingin aku menirisnya. Mencampurnya dengan krim dan dedaunan herbal lalu menaburi dengan parutan keju. 

Aku ingin melahapmu perlahan dari ujung ke ujung. Tubuhmu yang al dente – tak keras, tak juga benyeh – terasa seperti santapan yang Tuhan sediakan di Taman Eden. 

“Jangan percaya naga. Mulutnya selalu mengajarkan dusta. Ia akan merayumu agar mau berbagi spaghetti.” bisikmu tepat di telingaku. 

“Tidak. Aku hanya percaya padamu dan yang menciptakan tubuh spaghettimu.”

“Sampai saat ini aku tak tahu mengapa Hawa tidak memasak spaghetti untuk Adam.”

“Dia lebih suka apel. Atau mungkin makanan organic. Kau tahu dulu Hawa telanjang, sepertimu saat ini. Dia musti menjaga badan. Agar Adam tak perpaling.”

“Apakah di surga ada spaghetti? Aku lebih memilih spaghetti daripada salad yang membuatku merasa seperti ulat.”

“Mungkin ada. Kalau tidak, kita bisa minta malaikat untuk mengambilnya dari bumi.” 

“Apa nantinya kita akan sama-sama di surga – seperti saat ini?”

“Aku tak tahu. Bukannya kau akrab dengan Tuhan? Mungkin kau bisa tanyakan.” 

“Kalau Tuhan mengabulkan, aku ingin diam di surga bersamamu. Dan memasak spaghetti berdua dengan telanjang kapanpun kita mau.” 

“Pasti, cantik. Pasti!”

Tawamu berderai. Kau menghambur di pelukku. Tak peduli dengan tubuhku yang belepotan. Lalu kau menghadiahiku ciuman singkat. Di bibirku. 

“Kalaupun kita tak bersama di surga, setidaknya kita bisa melakukan apapun yang kita mau dengan tubuh telanjang. Di sini.”

“Seperti di taman Eden.”

“Ya. Sepertinya pabrik pakaian tak akan bangkrut hanya karena kehilangan dua customer.” 

Kau terkekeh. Kembali duduk di mini bar. Menunggu spaghetti. Sembari menuang jus aple ke dalam gelas, aku mengamati tubuhmu.

Telanjang. 

Apa yang tersurat dan tersirat dalam tiap tubuh yang telanjang? Eros, Philia, Agape, Storge? Kita mengenakan pakaian dan memoles wajah kita, namun dapatkah kita menyembunyikan urat malu dari Tuhan? Kesejatian manusia adalah ketelanjangan: lahir dan mati tanpa membawa apa-apa. 

Hidup hanyalah ceruk di antara alpha dan omega. Kita tak punya sehasta. Hanya hasrat untuk berkuasa: pada tubuh, pada ruh, pada makhluk, pada semesta. 

Kita tak malu lagi menelanjangi diri. Persengketaan yang berujung tumpah darah. Isu-isu politik, ras, agama, yang terus menerus digerus menjadi barang rongsok. Bahasa kasih terabaikan. Cinta pada sesama serasa sebuah puisi: indah namun hayali. 

Singapura
Reda

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.