Momentum dan Peran Penting Kaum Perempuan dalam Kesiapsiagaan Bencana

Ratman Aspari

 

Setiap bulan Maret dan April, adalah momentum penting bagi kaum perempuan, ada tiga hal yang spesial dalam waktu berdekatan dan semuanya bicara tentang kaum hawa.

Pertama, tanggal 08 Maret, merupakan Hari Perempuan Internasional, berdasarkan penelusuran dari wikipedia, Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari 1909 di New York dan diselenggarakan oleh Partai Sosialis Amerika Serikat. Demonstrasi pada tanggal 8 maret 1917 yang dilakukan oleh para perempuan di Petrograd memicu terjadinya Revolusi Rusia. Hari Perempuan Internasional secara resmi dijadikan sebagai hari libur nasional di Soviet Rusia pada tahun 1917, dan dirayakan secara luas di negara sosialis maupun komunis. Pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Sebuah cerita yang beredar di lingkaran internal para kolomnis Perancis, bahwa ada seorang perempuan dari buruh pabrik tekstil melakukan demonstrasi pada 8 Maret 1857 di New York. Demontsrasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melawan penindasan dan gaji buruh yang rendah, tetapi demonstrasi tersebut dibubarkan secara paksa oleh pihak Kepolisian. Pada tanggal 8 Maret 1907, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai peringatan terhadap kasus yang terjadi 50 tahun yang lalu. Temma Kaplan berpendapat, “peristiwa tersebut tidak pernah terjadi, tetapi banyak orang Eropa yang percaya bahwa tanggal 8 Maret 1907 merupakan awal dari terbentuknya Hari Perempuan Internasional.”

Kedua, tanggal 21 April, sudah tidak asing lagi bagi kita semua, bahwa tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Kartini. Raden Adjeng Kartini, lahir di Jepara, 21 April 1879 dan wafat di Rembang, 17 September 1904 pada usia 25 tahun, adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Dan bagi kaum perempuan di Indonesia tentu memiliki kenangan indah ketika merayakan Hari Kartini, untuk pertama kalinya.

Ketiga, tanggal 26 April, apa sebenarnya makna tanggal 26 April bagi kaum perempuan pada tahun 2019 ini. Sebagaimana kita ketahui, bahwa tanggal 26 April, sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB), tonggak sejarah telah ditorehkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak tahun 2017 dengan menginisiasi lahirnya Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB).

Jumlah partisipan yang terlibat  tahun (2017) sebanyak : 10.500.000 orang, tahun (2018), sebanyak : 30.500.000 orang dan target peserta untuk tahun 2019, sebanyak : 50 juta orang. Para partisipan berasal dari berbagai kelompok masyarakat, kalangan instansi pemerintah, NGO, Komunitas Penggiat Kebencanaan, Sekolah/Kampus, Lembaga Usaha dan Pribadi/Perorangan. Mereka mendaftarkan diri secara online, melalui website Panitia Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB), dialamat :  https://siaga.bnpb.go.id/hkb/daftar  

Pilihan tanggal 26 April, sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB), tidak lain untuk mengingatkan kita semua, bahwa tanggal tersebut merupakan tonggak sejarah disahkanya UU No.24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, dimana UU tersebut merupakan perangkat hukum yang merubah paradigma dalam kegiatan penanggulangan bencana, dari responsif menjadi preventif, lebih menekankan pada pengurangan risiko bencana.

Sejak saat itulah terjadi perubahan yang sangat mendasar dan ada lompatan besar dalam kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia. Semangat dan momentum sejarah inilah yang perlu untuk terus diingat, diabadikan sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB), setiap tanggal 26 April.

Dalam setiap peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana, penekanan kegiatannya adalah  dengan latihan evakuasi mandiri dan simulasi kesiapsiagaan bencana, hal ini penting karena selama ini kita masih merasakan kurangnya pemahaman tentang karakteristik bencana dan risiko. Masih kurangnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan, serta kurangnya pelatihan kesiapsiagaan bencana secara teratur, sehingga kesiapsiagaan bencana belum menjadi budaya di tengah masyarakat kita.

Di samping itu, sesuai dengan enam arahan Presiden Joko Widodo pada rakornas penanggulangan bencana di Surabaya, dimana dalam point ke enam presiden menekankan pentingnya untuk melakukan simulasi, latihan penanganan bencana secara berkala dan teratur untuk meningkatkan masyarakat kita secara berkesinambungan sampai ketingkat terendah (RW/RT), sehingga masyarakat kita betul-betul siap menghadapi bencana.

Ingat, takdir kita berada di wilayah rawan bencana, hal ini bukan untuk kita sesali, tetapi kita harus berupaya sekuat tenaga mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana, yang sewaktu-waktu dapat saja terjadi disekitar kita. Walaupun kita selalu berharap bencana tidak pernah terjadi, tetapi upaya kesiapsiagaan melalui latihan harus terus dilakukan, agar kita memiliki insting, naluri yang kuat untuk dapat menyelamatkan diri ketika terjadi bencana.

Fokus utama Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2019, BNPB melalui Direktorat Kesiapsiagaan sebagai penanggung jawab kegiatan ini, menitik beratkan perhatianya pada kaum perempuan. Tema besar yang diangkat, “Jadikan Perempuan Sebagai Guru Kesiapsiagaan Bencana, Jadikan  Rumah Sebagai Sekolahnya”.

Sampai di sini jelas bahwa tiga momentum penting dalam bulan Maret dan April tahu ini, menempatkan kaum perempuan sebagai point penting, mendapat apresiasi dan perhatian yang begitu tinggi. Sejarah telah membuktikan bahwa dengan segala keterbatasanya, kaum perempuan mampu melakukan perubahan yang mendasar untuk kemaslahatan bagi masyarakat ditengah-tengah kehidupanya.

 

Gerakan Srikandi Siaga Bencana

Dalam rangka meningkatkan kapasitas, kemampuan dan pemahaman bagi kaum perempuan dalam hal kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana, BNPB membentuk Gerakan Srikandi Siaga Bencana.

BNPB menggandeng Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat, keduanya sepakat untuk menjalin kerjasama dalam kegiatan penanggulangan bencana melalui suatu ikatan kerjasama yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman, dimana penandatanganannya dilakukan di Graha Marinir, Kawasan Senen, Jakarta Pusat, pada hari, Rabu (06/03).

Dari BNPB diwakili oleh Sekertaris Utama, Dody Ruswandi mewakili Kepala Badan, sedangkan dari Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat oleh Ibu Wien Ritola Tasmaya selaku Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat.

Maksud dan tujuan dari Nota Kesepahaman ini adalah untuk meningkatkan hubungan baik antar kelembagaan dalam kegiatan penanggulangan bencana. Adapun ruang lingkupnya terdiri dari tiga tahap, yaitu pada prabencana, saat bencana dan pasca bencana.

Dalam kata sambutannya Dody Ruswandi, menyampaikan bahwa sosialisasi kesiapsiagaan bencana itu harus dimulai dari rumah dan sosialisasi yang paling efektif adalah melalui ibu-ibu. Disisi lain Sekertaris Utama BNPB juga menyampaikan sambutan dari Kepala Badan, yang menekankan perlunya kita semua mengambil peran dan tanggung jawab dalam kegiatan penanggulangan bencana, karena kebencanaan adalah urusan semua pihak. Disamping itu Kepala Badan juga mengajak kita semua untuk berinvestasi dalam kesiapsiagaan bencana, untuk meminimalisir dampak buruk dari bencana.

Sementara itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat, Wien Ritola Tasmaya, menyampaikan bahwa Nota Kesepahaman antara Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat dengan BNPB ini menjadi acuan dan kekuatan kaum perempuan untuk ikut berperan dalam menyelesaikan masalah bangsa dalam merespon masalah kebencanaan.

“Kaum perempuan memiliki peran strategis dalam penanggulangan bencana dan sangat efektif dalam mentransfer pengetahuan dan wawasanya tentang kesiapsiagaan bencana kepada anak-anaknya, keluarga dan lingkungan sekitarnya,”jelas Wien Ritola Tasmaya.

Pembentukan Srikandi Siaga Bencana, dilakukan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK), dengan semangat tema besar Hari Kesiapsiagaan Bencana 2019, “Jadikan Perempuan Sebagai Guru Kesiapsiagaan Bencana, Jadikan  Rumah Sebagai Sekolahnya”. Mempersiapkan kaum perempuan baik dari kalangan Dharma Wanita Persatuan (DWP) maupun organisasi wanita lainnya, serta pribadi, untuk dilatih menjadi fasilitator kesiapsiagaan bencana melalui Bimbingan Teknis Kesiapsiagaan Bencana.

Direktorat Kesiapsiagaan menyiapkan materi dan kurikulum untuk bimbingan teknis tersebut, prinsipnya yang mudah dipahami, beberapa hal penting yang disampaikan dalam  Bimbingan Teknis (BIMTEK) Srikandi Siaga Bencana, adalah untuk memperluas akses informasi terkait kebencanaan bagi kaum perempuan, meningkatkan kapasitas perlindungan diri, mendidik keluarga siaga bencana dan melindungi keluarga dari ancaman bencana, serta mendidik masyarakat disekitarnya menjadi lebih waspada dan siaga bencana.

Para peserta yang mengikuti bimbingan teknis, selain mendapatkan pemaparan terkait kebencanaan di Indonesia dan berbagai teori kesiapsiagaan dari narasumber yang kompeten dalam bidangnya, diakhir kegiatan juga melakukan simulasi/latihan kesiapsiagaan bencana.

Dengan demikian setiap peserta yang telah mengikuti bimbingan teknis ini, diharapkan bisa menjadi agen penggerak kesiapsiagaan bencana, mampu menularkan wawasan dan  pengetahuanya tentang kesiapsiagaan bencana tersebut kepada anak, keluarga dan lingkungan sekitarnya.  

BNPB dalam hal ini Direktorat Kesiapsiagaan, mengawali Bimbingan Teknis (BIMTEK) Srikandi Siaga Bencana bagi jajaran pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan di lingkungan BNPB sendiri yang dilaksanakan pada tanggal, 18 Desember 2018, di Graha BNPB yang dikuti oleh, 45 orang peserta.

Dan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan di lingkungan BNPB saat ini sebagian sudah menjadi tim fasilitator, menularkan pengetahuanya kepada para peserta Bimtek Srikandi Siaga Bencana, baik yang diadakan di lingkungan kerja BNPB maupun atas undangan dari instansi lain diluar BNPB.

Sampai tulisan ini dibuat, Bimbingan Teknis (BIMTEK) Srikandi Siaga Bencana sudah dilakukan dibeberapa daerah, Jakarta, Surabaya, Padang, dll. Dan dalam rangkaian kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2019, BNPB melalui Direktorat Kesiapsiagaan Bencana membuka Bimbingan Teknis (BIMTEK) Srikandi Siaga Bencana, terbuka untuk umum, pelaksanaan kegiatannya di Graha BNPB, waktu pelaksanaan tanggal 21, 22, 25, 26 dan 27 Maret 2019. Masing-masing peserta bisa mengikuti kegiatan bimtek tersebut untuk satu sesi, dalam satu hari ada dua sesi, sesi pagi dari pukul 08.30 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB dan sesi kedua/sesi siang (pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 16.30 WIB), target peserta untuk setiap sesi sebanyak dua puluh lima peserta.

Sejak pengumuman hari pertama disebarkan (melalui media social), respon dari berbagai kalangan yang berminat ikut Bimtek Srikandi Siaga Bencana, luar biasa banyaknya, jumlah yang mendaftar mencapai empat ratusan orang lebih, dari target jumlah peserta seratus orang, dengan latar belakang organisasi, pribadi, dan dari berbagai daerah di Indonesia.

Melihat potensi besar kaum perempuan yang ingin terlibat dalam kegiatan penanggulangan bencana, khususnya dalam kesiapsiagaan bencana ini, sudah harus menjadi perhatian khusus bagi BNPB kedepanya, perlu adanya tindak lanjut dari sekedar Bimbingan Teknis (BIMTEK) Srikandi Siaga Bencana ini ke jenjang berikutnya, perlunya melibatkan Pusdiklat BNPB untuk meindaklanjuti pelatihan yang lebih mendalam bagi perempuan sebagai agen kesiapsiagaan bencana, untuk menumbuhkan budaya sadar bencana dilingkungan sekitarnya dan pada akhirnya akan menjadikan bangsa kita tangguh bencana.

 

Bicara Perempuan dan Bencana

Dalam berbagai kesempatan, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B. Wisnu Widjaja, selalu menekankan, perlunya memperkuat kapasitas, kemampuan dan pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana bagi kaum perempuan. Dengan demikian maka secara otomatis akan menularkan kemampuan dan pengetahuanya tersebut kepada anak-anak, anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. Hal ini sesuai dengan kodrat kaum perempuan itu sendiri yang selalu ingin melindungi anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

Dalam acara talkshow sebagai rangkaian kegiatan penandatanganan kesepahaman antara Dharma Wanita Persatuan Pusat dengan BNPB, dengan tema ‘Peran Perempuan Dalam Menjaga Keselamatan Keluarga dan Lingkungan”, di Graha Marinir, Jakarta Pusat, awal Maret 2019, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B. Wisnu Widjaja, menyampaikan beberapa fakta-fakta, bahwa perempuan dan anak-anak merupakan pihak yang paling banyak terdampak ketika terjadi becana.

Mengutip dari (Peterson K, 2007), bahwa perempuan dan anak-anak berisiko meninggal (14 kali) lebih besar dari pria dewasa. Disamping itu, B. Wisnu Widjaja juga menyampaikan berberapa kasus kejadian bencana, seperti kejadian Cylone di Bangladesh (1991), total korban sebanyak 14.000 (90% perempuan), (Ikeda, 1995).

Sementara pada kejadian Badai Katrina, US, sebagian besar korban adalah ibu-ibu Afro-American beserta anak-anaknya. Dan sebanyak 60 – 70% korban bencana adalah wanita dan anak-anak serta lansia, korban Tsunami Aceh banyak para korban (ibu) meninggal bersama anaknya.

Menurut pandangan B. Wisnu Widaja, melihat data-data diatas banyak hal yang melatarbelakangi dan faktor penyebabnya, antara lain, adanya pembatasan-pembatasan konstruksi sosial ditengah masyarakat kita, hal ini menyebabkan  perempuan menjadi rentan ketika terjadi bencana.

Dan yang paling menyedihkan, berdasarkan data-data dari lapangan, bahwa para korban bencana dari kaum perempuan ini, posisinya selalu dekat dengan anak-anaknya, artinya karena kodrat perempuan itu selalu ingin melindungi anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Sementara kemampuan dirinya untuk melakukan penyelamatan dan kesiapsiagaan diri sangat rendah.

“Walaupun tinggal dua langkah dirinya akan selamat, sosok seorang ibu (kaum perempuan) akan selalu berpikir bagaimana kondisi rumahnya, kondisi anak-anak dan keluarga lainya, dan ia akan rela kembali hanya untuk memastikan bahwa kondisi rumah, anak-anak dan anggota keluarga lainnya aman, tanpa menghiraukan keselamatan dirinya,”jelas B.Wisnu Widjaja, memberikan ilustrasi.

Atas dasar itulah, menurut Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, kalau kaum perempuan dengan kondratnya yang selalu ingin melindungi ini, diperkuat kapasitas, kemampuan dan pemahamanya tentang keiapsiagaan bencana, maka secara otomatis akan menularkan pengetahuannya tersebut kepada anak-anak, anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian diharapkan kesiapsiagaan diri sendiri dalam menghadapi bencana ditengah masyarakat akan meningkat, sehingga dapat menumbuhkan budaya sadar bencana dan bisa meminimalisir jumlah korban akibat bencana.

Karena berdasarkan hasil kajian dan survey situasi penyelamatan pada Gempa Kobe di Jepang (1995). Sembilan puluh lima persen korban selamat  karena mampu menyelamatkan diri, sebanyak (34,9%), dan diselamatkan oleh anggota keluarga, sebanyak (31,9%), serta diselamatkan oleh tetangga, sebanyak (28,1%), artinya berdasarkan data survey tersebut betapa pentingnya kesiapsiagaan diri sendiri.

Memperkuat kapasitas dan pemahaman kaum perempuan dalam hal kesiapsiagaan bencana, tidak berhenti hanya melaui Bimbingan Teknis menjelang Hari Kesiapsiagaan Bencana, tetapi harus terus bergulir secara masif, berskala nasional dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, pemerintah dan masyarakat umum, bertahap, berjenjang dan berkelanjutan. Hal ini untuk melahirkan Srikandi – Srikandi Siaga Bencana yang siap terjun menularkan pengetahuanya kepada masyarakat luas, sesuai dengan kiprahnya masing-masing, untuk terwujudnya budaya sadar bencana, di tengah masyarakat kita. (WS)

 

#SiapUntukSelamat

#BudayaSadarBencana

#SrikandiSiagaBencana

#KitaJagaALAMJagaKita

#HKB2019

#HKB26April

 

(Tulisan & foto : W. Suratman/staf Pusat Analisis Situasi Siaga Bencana/Pastigana BNPB)

 

 

One Response to "Momentum dan Peran Penting Kaum Perempuan dalam Kesiapsiagaan Bencana"

  1. arman  22 November, 2019 at 16:39

    Terima kasih Baltyra, sudah ikut berkontribusi positif dalam mempopulerkan gerakan kesiapsiagaan bencana di Indonesia, salam sukses selalu buat tim Baltyra #SiapUntukSelamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.