Catatan Reda #5

Re Ranting

 

 

Catatan sebelumnya:

Catatan Reda #1

Catatan Reda #2

Catatan Reda #3

Catatan Reda #4

 

Kita bicara tentang ruang. Sesuatu yang diciptakan oleh sekat. Sementara kau ingin semesta. Memeluk hampa. Meniadakan grafitasi. Mengasingkan diri dalam solitude. 

“Tanpamu, aku hampa. Tanpa Tuhan, aku tiada.” Ucapmu. Mengemasi piring kotor di atas mini bar. 

ku mengambil serbet dan mengelap sisa-sisa spaghetti di atas permukaan kaca. Aku sempat melirik bayanganmu lewat pantulan kaca mini bar sebelum beranjak ke tempat cuci piring.

“Kita bisa menciptakan keriuhan. Seperti ranjang yang berderit selama kita bercinta, mungkin. Tak mungkin selamanya kita sembunyi dalam solitude. Dunia begitu ramai. Seperti kotamu yang tak pernah tidur.” 

“Aku benci New York.” Katamu. Sedikit berteriak. 

Gemercik air dan dentingan piring yang beradu dengan gelas terdengar jelas di telingaku. Seperti isyaratkan suara hatimu: riuh!

Aku berjalan perlahan. Memeluk tubuh spaghettimu. Mengirup aroma mawar yang tersembunyi di balik leher jenjangmu. 

“Menetaplah di sini.” 

“Tidak mungkin. Kau bercanda bukan?” Katamu. Menumpuk piring dan mengelap tanganmu yang basah dengan napkin yang mengantung di sisi tembok dapur. 

“Aku…” 

“Aku paham. Tak perlu kau lanjutkan.” 

Kau berbalik. Mengaitkan kedua tanganmu di bahuku. Aku tak merasa birahi meski kita sama-sama telanjang. Hatiku seperti berada dalam ruang hampa. Mengambang. Yang bisa kulakukan hanyalah memelukmu lebih erat. Seolah tak ingin melepas. 

“Maafkan aku melukaimu.” 

“Sudah berapa kali kau minta maaf? Belum juga puas?”

“Aku takut mempermainkanmu.”

“Kau berniat untuk mempermainkanku?” 

“Tidak. Sama sekali tidak.” 

“Lalu?”

“Aku hanya jatuh cinta. Aku selalu merasa cemburu. Aku selalu curiga kau memiliki kekasih lain. Aku takut perasaan itu menghancurkan asmaragama sebelum kita bertemu seperti ini. Aku takut….”

“Kalau kau takut, artinya kau tak yakin? Bagiku mencintai dan memutuskan pada siapa cinta itu dilabuhkan bukanlah sesuatu yang mudah. Harusnya aku kecewa setelah kebenaran itu terungkap. Namun tidak. Aku masih mau menemui dirimu. Masih bersetia dengan janji. Masih berusaha tak merubah apapun. Karena aku memiliki caraku sendiri untuk mencintai. Cinta yang tak bersekat. Cinta yang tak memiliki grafitasi. Dan cinta itu, berlabuh padamu.” 

“Apa kau berencana menghindar setelah tiba di New York?” 

“Berapa kali kau mengulang pertanyaan itu dan berapa kali aku musti mengulang jawaban?” 

Aku terdiam. Menatap matamu. Dalam. 

“Aku hanya mencintai. Tak perlu banyak definisi.” Rintihmu.

“Sebesar itukah cintamu?” 

“Aku tak tahu. Aku hanya berusaha menerima dirimu. Apapun keadaannya. Dan bersetia dengan janji. Aku tidak tahu bagaimana tentangnmu.”

“Aku… Maafkan aku.” 

Kembali aku memeluk ruang hampa yang kutangkap di tubuh sintalmu. Kini terasa ada sekat yang tak mengenakan meski tubuh kita tak bersekat sehelai benangpun.

Kadang kau begitu dekat. Kadang kau berada di antara ribuan galaksi. Yang bila kupaksa menjangkaumu, seluruh kekuatan meluruh. 

Semestinya kita tak lagi berbicara tentang ruang. Petak-petak yang mengurung kita dalam definisi. Lalu kita memuntabkan diri. Marah pada waktu. Pada keadaan dan garis nasib. 

“Karena kau tak benar-benar yakin aku ada dan bersenyawa dengan ruhmu.” Igaumu. Dipelukku. 

“Aku ingin memasukimu. Betapa besar keinginanku untuk merasukimu.” 

“Dan kau masih terjajah oleh keinginan? Bukan laku?” Kau melepas pelukanku. “Ngilmu laku. Bahkan dalam religiuseksualiti, laku merupakan puncak tertinggi dari hakikat bercinta. Tak perlu banyak kata. Tak perlu banyak janji. Hanya laku. Semua tentang laku.” 

Kau melepasku. Kembali berjalan menuju ruang tamu. Berbaring di atas sofa berbahan latex yang halus. Kau memejamkan Mata. Serupa meditasi. Tubuhmu menguarkan aroma kembang ara. Dan entah mengapa, ketika aku ingin menyentuhmu, kau menjelma dewi aprodit! Membuatku selalu ingin memuja. Dengan segala kesucian asmaragama.

Singapura
Reda

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.