Rekonsiliasi dengan Ibu

Wesiati Setyaningsih

 

Ikatan batin terkuat seseorang adalah dengan Ibunya. Bagaimanapun dia pernah menghuni rahim Ibunya selama sekian bulan sebelum akhirnya terlahir ke dunia dan menjadi individu yang terpisah dari Ibunya. Yang menjadi masalah, tidak semua Ibu memahami kondisi emosinya sendiri.

Ini yang menjadi perenungan saya setelah chating dalam grup dengan 4 orang teman perempuan lain, usia sebaya saya, sekitar 50an tahun. Ada yang menjelang, ada yang sudah lebih sedikit. Obrolan konyol di grup berubah curhatan, tiba-tiba kami menyadari bahwa kami ini anak-anak yang ‘tidak diharapkan’ Ibu kami masing-masing.

Yang satu bilang, Ibunya terpaksa menikah karena pacarnya sudah mapan, padahal dia ingin kuliah. Dijanjikan bisa kuliah setelah menikah, ternyata malah hamil duluan maka rencana kuliah gagal. Seumur hidup si anak sulung ini, Ibunya seolah menganggap dia penghalang. Teman lain bilang, Ibunya membenci dia karena seolah dia yang merestui Bapaknya selingkuh dengan perempuan lain hingga akhirnya menceraikan dia. Seumur hidup Ibunya memusuhi dia. Teman lainnya punya problemanya sendiri-sendiri yang intinya Ibu mereka tidak menginginkan mereka.

Saya sendiri, Ibu saya ‘tidak menginginkan saya’ karena hidup waktu itu masih susah. Bapak dan Ibu masih kost di sebuah rumah besar milik seorang priyayi. Bisa saja dalam benak Ibu saya, bayi yang dikandungnya adalah ‘sesuatu’ yang menyusahkan. Yang jelas sekuat apapun Ibu berusaha meyakinkan saya bahwa beliau mencintai saya, makin tampak aneh di mata saya.

Saya jadi menyimpulkan, masalah hidup seseorang bisa jadi berawal dari sebuah hubungan yang tidak lancar dengan ibunya. Si Ibu tidak sadar kalau emosi yang mereka alami telah mempengaruhi anak yang dikandungnya. Bahkan terbawa ketika anak ini lahir dan besar. Sialnya, tidak ada yang menyadari bahwa anak ini keracunan emosi ibunya. Sepanjang hidup dia mencari ada yang salah dalam dirinya tapi tidak ketemu.

Ketika bahasa kata-kata tak bisa membuat saya dan Ibu saling memahami, saya menyerah. Saya putuskan melakukan komunikasi lewat batin saja. Jadi saya duduk meditasi, mengatur nafas sampai cukup hening, lalu saya hadirkan sosok Ibu di depan Ibu saya. Semua yang tak mampu saya ucapkan pada Ibu saya karena hanya akan membuat kesalahpahaman, saya sampaikan lewat batin. Air mata tumpah ruah. Tersedu, tergugu, sampai mata perih. Tapi ketika semua sudah tuntas, hati terasa lega. Yang ada hanya rasa kasih. Karena hati sudah tinggal berisi kasih, sekarang yang saya ucapkan dalam hati adalah, “Ibu, aku sayang sama Ibu..” itu saja berulang-ulang.

Hubungan dengan Ibu saya membaik karena saya tak lagi ingin menjelaskan apapun lewat kata-kata. Apalagi Ibu lebih ingin saya mendengarkan jadi saya diam. Bahasa batin lebih efektif. Juga muncul keinginan untuk lebih banyak memberi bahasa sentuhan. Sesekali Ibu saya peluk dan saya cium. Sudah tidak ada lagi rasa segan. Yang ada hanya keinginan memberikan kasih yang lebih banyak. Sepertinya saya sudah mulai berhasil memperbaiki hubungan emosi dengan Ibu saya.


Menyadari hal ini, saya berikan juga pada murid-murid saya. Pasti beberapa dari mereka juga mengalami hal yang sama seperti saya, konflik yang tak berujung dengan ibu mereka. Saya berikan silent time rekonsiliasi ini siapa tahu menjadi solusi.

Caranya, seperti biasa, saya ajak mereka fokus pada nafas dan berterima kasih pada nafas. Dengan nafas yang masih menyatu dengan tubuh, artinya kita masih diberi kesempatan untuk meraih pengalaman dan belajar. Kemudian saya minta mereka untuk berterima kasih pada tubuh. Setelah selesai, baru saya minta mereka membayangkan sosok Ibu di depan mereka.

Saya minta mereka membayangkan sosok Ibu di depan mereka tersenyum dan siap menerima apapun yang akan mereka sampaikan. Saya bilang,
“Sampaikan apapun yang kalian ingin sampaikan.”

Saya beri waktu buat mereka dan tidak memberikan instruksi apa-apa, hanya terdengar music relaksasi. Beberapa anak menangis, ada yang biasa saja, ada yang sampai tersedu. Beberapa yang lain masih tetap tenang.

“Puaskan semua yang ingin kalian sampaikan,” saya diam beberapa saat. “Sekarang bayangkan kalian memeluk Ibu anda, katakan,
“Ibu aku minta maaf apapun yang pernah Ibu lakukan padaku, dan maafkan aku untuk apapun yang pernah aku lakukan pada Ibu.”
“Ibu, aku menerima Ibu apa adanya, dan terima aku apa adanya diriku.”
“Ibu, aku mencintai Ibu apa adanya Ibu, dan cintai aku apa adanya diriku.”
Sekarang mintalah restu pada ibu. “Ibu, ijinkan aku untuk bahagia. Bahagialah melihat aku bahagia. Ijinkan aku bangga pada diriku. Banggalah melihat aku bangga pada diriku sendiri.”
Rasakan pelukan hangat yang penuh kasih sayang. Kemudian perlahan lepaskan pelukannya. Anda lihat wajah Ibu tersenyum bahagia. Iklaskan sosok Ibu pergi meninggalkan anda sendiri.”

Demikian kalimat yang saya ucapkan untuk membimbing mereka melakukan rekonsiliasi dengan Ibu masing-masing. Silent time saya akhiri dengan meminta mereka self love. Dan sesi selesai.

Beberapa anak masih tersedu. Sampai sesi selesai dan boleh membuka mata. Saya beri waktu untuk menenangkan diri. Satu dua saya bantu untuk release.

Gara-gara kegiatan silent time yang bikin beberapa anak nangis ini, ketika saya masuk kelas ada yang bilang, “Ma’am nangis-nangis aja.”
Saya bengong, “Nangis-nangis? Apa itu?”
“Itu yang diem trus kita jadi nangis-nangis.”
“Oalah. Silent time.”

Ternyata beberapa anak suka kegiatan ini karena di sesi ini mereka bebas melepaskan emosi mereka sampai nangis, karena setelah itu lega. Dalam hati saya berdoa, semoga kegiatan silent time ini yang saya berikan memberi manfaat buat mereka.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Rekonsiliasi dengan Ibu"

  1. Alvina VB  7 December, 2019 at 21:09

    Nice article mbak Westi; saya juga ikutan menitikan air mata. Hubungan saya dan ibu saya biasa2 saja, tetapi lebih baik/mesra setelah tinggal berjauhan. Hubungan saya dan anak saya jauhhhhh lebih terbuka dan lebih baik dari hubungan saya dengan ibu saya. Saya belajar banyak dari hubungan saya dengan ibu saya dulu yg tidak mau saya teruskan ke anak saya. Tetapi cerewetnya seorang ibu ya sama saja, he..he…

  2. Sierli FP  7 December, 2019 at 15:29

    Bu Wesi taruh bawang merah yaaa di artikel ini .. *-*

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.