Memaknai Tradisi Gumregan

Wiwit Sri Arianti

Menjadi menantu orang Gunungkidul membuatku bisa belajar banyak tentang tradisi yang tidak pernah kutemukan di daerahku dan daerah lain yang pernah kukunjungi. Sejak lulus dari Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS) “Tarakanita” Yogyakarta, dan sudah banyak daerah yang kukunjungi saat bertugas sebagai Pekerja Sosial mulai dari Sabang sampai Papua, baru kali inilah kutemui sebuah tradisi yang disebut Gumregan.

Gumregan yang sering disebut masyarakat sebagai hari raya sapi, merupakan tradisi “syukuran” atas rezeki binatang piaraan yang tetap dilaksanakan sampai sekarang oleh sebagian masyarakat Gunungkidul, termasuk keluarga suamiku yang sekarang juga dilaksanakan oleh suamiku. Kenapa suamiku juga melaksanakan tradisi Gumregan, karena saat ini beliau sudah beralih profesi dari seorang konsultan Unicef, sebuah organisasi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), kembali ke desa dengan menjadi pemelihara ternak / penggemukan sapi di desanya. Di bawah ini sebagian sapi peliharaan kami di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Gumregan dilaksanakan pada Wuku Gumreg, salah satu nama Wuku dalam sistem penanggalan Jawa, wuku akan berganti setiap lima hari sekali, atau sepasar. Setiap sepasar memiliki nama wukunya masing-masing yang berurutan dan berulang-ulang kembali lagi dari wuku pertama seperti layaknya bulan.  Dalam setahun ada 30 wuku dan dalam setiap periode/sepasar memiliki nama sendiri-sendiri, salah satunya adalah wuku Gumbreg. Sehingga dalam satu tahun biasanya akan menemui 2 wuku Gumreg.

Pelaksanaan Gumbreg ini dilengkapi dengan makanan dari berbagai macam hasil bumi jenis umbi-umbian seperti singkong (ubi kayu), ubi, mbili, talas (kimpul) serta uba rampe among-among berupa jadah, ketupat, dan tidak ketinggalan dengan tumpeng-nya, serta bunga setaman berupa bunga mawar, melati, kenanga, kantil (cempaka putih) dan irisan daun pandan diletakkan dalam daun pisang, seperti foto di bawah ini.

Ketupat dan rangkaian dari janur (daun kelapa yang masih muda) selain diletakkan di dalam nampan bersama umbi-umbian dan jadah serta tumpeng untuk dikendurikan, juga diletakkan di dalam kandang ternak dengan digantung di bawah atap kandang seperti yang ada di foto di bawah ini.

Rangkaian utama dalam syukuran gumreg adalah berdoa bersama, mengajukan permohonan dan berterimakasih atas rejeki ternak yang dipelihara. Rasa syukur ini sangat penting karena keyakinan bahwa semakin bersyukur akan semakin berlimpah rejeki dan anugerah lainnya dari Allah SWT. Sehingga syukuran dijadikan tradisi yang terus dijaga dan dilaksanakan agar keberadaan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, unggas dan lain sebagainya, dapat bermanfaat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Setelah berkat atau makanan dan semua ubo rampe siap, akan dibagi dua, satu dibawa oleh ibu-ibu atau bapak-bapak ke pedukuhan untuk dikendurikan dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Mbah Kaum setelah shalat Ashar seperti foto di bawah ini.

Satu bagian lagi dibawa ke dalam kandang, di depan para sapi dan berdoa seperti yang dilakukan oleh suamiku di bawah ini. Setelah selesai berdoa, sebagian ketupat dan janur digantung di dalam kandang bagian atas di bawah atap.

Tradisi Gumbregan tidak hanya berhenti di situ saja, selain kenduri, berdoa bersama, dan  kegiatan yang menunjukkan simbol memberi makan dan minum kepada binatang piaraan, ada pula kegiatan membersihkan kandang dan lingkungan sekitarnya, dengan tujuan agar binatang peliharaan tetap terjaga kesehatannya dan merasa nyaman dengan tempat tinggalnya yang bersih.

Manfaat yang lain dari “nguri-uri” tradisi Gumbregan ini secara tidak langsung masyarakat memiliki media untuk saling merekatkan persaudaraan dan kebersamaan antar warga masyarakat di desanya. Dengan tradisi Gumreg, ada acara berkumpul bersama, kerjasama, berdoa bersama, dan makan bersama. Bahkan dalam pengadaan makanannya antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya juga saling membantu, baik berupa uang maupun barang. Aspek Sosial lainnya, keluarga yang tidak punya sapi dan kerbau pada wuku Gumbreg akan kebanjiran makanan khas gumbregan karena mereka yang mempunyai sapi akan memberi makanan kepada mereka yang tidak mempunyai sapi.

Sampai di sini sahabat Baltyran…sampai bertemu lagi dengan cerita tradisi daerah lain dari perjalanan jelajah Nusantara

2 Comments to "Memaknai Tradisi Gumregan"

  1. Wiwit Arianti  8 February, 2020 at 12:04

    Trimakasih mbak Munthiel

  2. Munthiel  20 January, 2020 at 19:35

    Kereeeen …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.