Catatan Reda #6

Re Ranting

 

 

Catatan sebelumnya:

Catatan Reda #1

Catatan Reda #2

Catatan Reda #3

Catatan Reda #4

Catatan Reda #5

 

 

Barangkali kita menjaring angin lalu memasungnya dalam bejana. Angin yang mulai ricuh menggeliat. Ia ingin menyetubuhi kenangan yang sembunyi dalam garba perindu seorang biduan soprano. Ia ingin menyelimuti nihilitas yang tercipta dari goresan pena penyair buta. Ia ingin merasuki jasadmu. Menyedimentasi ruhmu hingga senggama asmaragama tak lagi merupa. Ia ada. Namun hanya menjadi entitas dari keseluruhan pertalian raga dan sukma. Jiwani dan badani. Eksistensi dan esensi.

“Apakah Tuhan adalah esensi? Atau justru eksistensi?” Tanyamu. Menerawang langit-langit bercat baby blue.

“Tuhan adalah penyatuan eksistensi dan esensi.”

“Kalau cinta?”

“Aku menyebutnya sebuah proses mencintai sesuatu yang tidak dicintai.”

“Slavoj Zizek.” Kau mendengus. “Apa kau kehabisan ide sampai mengutip pemikiran orang lain?”

“Aku hanya berusaha menjeneralisasi. Kau selalu membuat ruang khusus untuk cinta. Mengerucutkannya hanya pada kisaran egoisentris dan asmaragama.”

“Kau yang mengajariku, bukan?”

“Iya benar. Tapi kau yang memulainya. Lebih tempatnya, memancing.”

Kau menekuk dagu. Marah. Sesuatu yang membuatku bertambah gemas dan ingin melumat tubuhmu kembali.

Aku menarik tubuhmu ke pangkuanku. Memelukmu. Mendengusi rambutmu.

“Kita seringkali lebih mengedepankan eksistensi. Sesuatu yang ilusif. Lalu menyakini bahwa itu adalah kebenaran hakiki. Kita dijajah oleh pemikiran kita. Berlomba-lomba mengonsep cinta dan mendefinisikannya. Apa sebenarnya rasa itu? Mustikah kita menyandranya dalam bejana? Mengurungnya dalam kepicikan kita?”

“Lalu haruskah kita meliarkannya?” Tanyamu. Mengelus lenganku yang melingkar di perutmu.

“Mungkin kita bisa melepasnya. Membiarkan cinta memilih definisinya sendiri.”

“Bagaimana dengan Tuhan?”

“Maksudmu?”

“Membiarkan Tuhan memilih definisinya sendiri.”

“Tuhan selalu memiliki cara yang asyik untuk berkomunikasi dengan ciptaannya. Biarkan ciptaannya sendiri yang mendefinisikan. Seperti kita. Mungkin aku dan kamu memiliki definisi yang berbeda tentang Tuhan. Namun setiap perjalanan, tujuan kita sama: menuju sesuatu yang tak bertujuan!”

Kau terdiam. Hangat tubuhmu menjalari sekujur tubuhku. Seperti sengatan elektromagnetik, kau membawaku pada persenyawaan proton dan neutron. Aku tak berani menyebut ini cinta. Namun ada rasa itu di dalamnya.

Menyelusuri punggungmu dengan bibirku membangkitkan rasa yang memurba. Kau menggeliat. Merespon tiap inci sentuhan.

“Kau tahu, cinta. Ada ruang hampa yang hanya bisa diisi olehmu.” Bisikmu di antara lenguh dan erang.

“Maka, biarkan aku menumpahkan segalanya padamu.”

“Di sini?” Tanyamu. Tubuhmu kian menggelinjang.

“Ya! Di sini.”

“Tapi matahari sedang tinggi-tingginya. Dia akan mencibir dua penganut religiuseksualisme yang bercinta di bawah terik.” Kau berbalik. Duduk menghadapku. Masih dalam pangkuan.

“Apa peduliku. Biarkan matahari Kian terbakar oleh cemburu.”

Kau terkekeh. Wajahmu yang telah terpanah cupid semakin memabukkanku. Kita sama-sama tenggelam. Dalam peluh dan peluk.

Singapura
Reda

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.