Meriah, Festival Ciliwung 2, Masyarakat Rindu Condet Tempo Dulu

Ratman Aspari

 

“Bahan Terpal Dibuat Saung Kelihatan Bersih Dipandang Mata, Dengan Adanya Festival Ciliwung Kita Jadiin Condet Destinasi Wisata.”

Bir Pletok, Buah Kecapi, Kerak Telor, Dodol Betawi, dan lain-lain, kuliner khas Betawi, disajikan dalam stand masing-masing yang berjejer pada gelaran Festival Ciliwung 2.

Masyarakat sekitar Condet berbondong-bondong mengunjungi Festival Ciliwung 2, mereka merindukan suasana Condet seperti masa lalu. Kuliner khas Betawi disajikan di masing-masing stand. Selain itu masyarakat sekitar juga merindukan suasana Condet seperti tempo dulu, perkampungan yang asri, dengan pepohonan salaknya.

Festival Ciliwung 2, awal kebangkitan Condet menuju destinasi wisata berlatar belakang Sungai Ciliwung.

Pagi itu di Kawasan Condet, tepatnya di Padepokan atau Komunitas Ciliwung Condet yang terletak di Jl.Munggang, Gg.H Mursalih, Kelurahan Balekambang, Kec.Kramatjati, Jakarta Timur, cuaca cukup cerah. Suasana yang biasanya sepi, pagi itu terlihat cukup ramai, beberapa tamu undangan tampak memasuki, kawasan yang cukup asri, menuju ke area yang berbatasan dengan Sungai Ciliwung.

Ya, Sabtu, 09 November 2019, Komunitas Ciliwung Condet sedang menggelar hajatan Festival Ciliwung 2 (yang ke dua).

“Kita menggelar Festival Ciliwung, dan untuk kali ini merupakan Festival Ciliwung yang kedua kalinya diadakan, “jelas Agus Supriyanto dari Komunitas Jakarta Bahagia yang menjadi mitra Komunitas Ciliwung Condet dalam gelaran Festival Ciliwung 2 ini.

Selain Komunitas Jakarta Bahagia, berbagai unsur dan komunitas lain juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan Festival Ciliwung 2 ini, dari pantuan penulis di lapangan, ada Komunitas Dongeng (Sahabat Indonesia Mendongeng/SIM), Anak Korps Baret Merah (AKBM), RKC, Rumah Budaya, Bang Japar, dan masih banyak komunitas pendukung lainya. Disamping itu kegiatan ini juga didukung oleh Pemprov DKI Jakarta, Dinas Pariwisata dan Budaya Prov. DKI Jakarta dan Jakarta Timur, Bank DKI, Dompet Dhuafa, ACT, dan berbagai lembaga lain yang ikut mensuskeskan kegiatan Festival Ciliwung 2 (2019).

Gubernur Anies Baswedan berhalangan hadir, diwakili oleh Deputi Bidang Pariwisata dan Budaya, didampingi oleh Walikota Jakarta Timur, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Jakarta Timur, Camat Kramatjati, Ibu Lurah Balekambang, dan dari para tokoh masyarakat terlihat ada Aster dari Kopasus Mayor Suhardi, Tokoh Masyarakat setempat serta tokoh dari Politisi terlihat Anggota DPD RI, Fahira Idris dan Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera dan tamu kehormatan dari Jepang, Tomi Kagama, peneliti tentang sungai, serta tamu undangan dan masyarakat lainnya yang begitu antusias menyaksikan Festival Ciliwung 2 ini.

Acara diawali dengan Palang Pintu, atas kedatangan Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Budaya didamping oleh para pejabat beserta rombongan lainnya. Palang pintu merupakan budaya Betawi untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan.

Setelah berhasil melewati Palang Pintu rombongan Deputi Bidang Pariwisata dan Budaya Provinsi DKI Jakarta, langsung menuju panggung yang telah disiapkan.

Dalam kata sambutanya, Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Budaya menyampaikan bahwa Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menymbuat positif kegiatan ini, sungai harus dijaga, katanya. Kesadaran kita dalam hal lingkungan, lanjut Deputi, setetes air ada kehidupan. Salah satu negara yang banyak sumber kehidupan airnya, dan ini terkait budaya dengan keberadaan sungai untuk siklus kehidupan.

Pemprov DKI Jakarta mendukung dengan beberapa syarat utamanya dengan dialog dan kolaborasi. Pemprov menyiapkan segala sesuatunya termasuk regulasi, ini merupakan program bersama, wisata, ekonomi dan penelitian.

Sementara itu Walikota Jakarta Timur, … sungai sebagai etalase harus dijaga, bukan sebagai tempat sampah, jangan membuang sampah sembarangan ke sungai.  Selain itu Kawasan Condet sejak dulu dikenal dengan Salak Condet, untuk itu dalam kesempatan ini juga akan kita lakukan penanaman tanman salak, jelas walikota Jakarta Timur.

Anggota DPD RI, Fahira Idris mengatakan bahwa sejarah peradaban manusia, dimulai dari sungai, mari kita lihat sejarah, Mesir misalnya dikenal dengan Sungai Nil, begitu juga dengan Mesopotamia, dan juga Batavia atau Jakarta pada masa lalu, Sungai Ciliwung memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan warga masyarakatnya.

Ketua Komunitas Ciliwung Condet, sekaligus ketua panitia dan selaku tuan rumah, Ahmad Maulana atau yang biasa dipanggil Bang Lantur, kita telah bertekad bahwa Condet ini akan kita kembangkan menjadi kampung batik dan kampung pantun. Seiring dengan gencarnya pembangunan di kawasan Condet, keberadaan Salak Condet semakin tergerus, ini juga menjadi perhatian kita untuk mengembalikan keharuman Condet dengan buah Salaknya.

Lahan ini yang luasnya sekitar tiga ribu meter, lanjut Bang Lantur, awalnya merupakan pembuangan sampah dan pelan-pelan kita bersihkan, kita tata sedemikian rupa sehingga menjadi seperti sekarang ini. Semua ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya, namun berkat dukungan semua pihak, kawan-kawan, para tokoh masyarakat, akhirnya bisa terlaksana dan banyak memberikan nilai manfaat bagi warga sekitarnya.

Dalam Festival Ciliwung 2 di Kawasan Condet, selain acara seremominal dari para pejabat dan tokoh masyarakat, juga ditampilkan beragam penampilan seni dan budaya Betawi, kegiatan mendongeng untuk anak-anak bersama Sahabat Indonesia Mendongeng (SIM) serta lomba mewarnai bagi anak-anak.

Hal yang paling menarik dalam Festival Ciliwung 2 di Kawasan Condet tersebut adanya, berbagai macam stand, mulai dari kuliner khas Betawi, pernak-pernik kerajinan khas Betawi dan ada juga stand dari Sanggar Lukis yang banyak menampilkan karya-karnya tentang lukisan khusus Kali Ciliwung, serta stand Kaligrafi.

Sekilas Sunga Ciliwung

Berdasarkan sumber dari wikipedia, Ci Liwung, atau biasa ditulis Ciliwung, adalah salsah satu sungau yang terpenting di Tatar Pasundan, Pulau Jawa, terumata karena melalui wilayah ibu kota, DKI Jakarta, dan kerap menimbulkan banjir tahunan di wilayah hilirnya.

Panjang aliran utama sungai ini hampir 120 km dengan daerah tangkapan airnya (daerah aliran sungai), seluas 387 km persegi. Sungai ini relatif lebar dan dibagian hilirnya dulu dapat dilayari oleh perahu kecil pengangkut barang dagangan.

Wilayah yag dilintasi Sungai Ciliwung adalah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.

Hulu sungai ini berada di daratan tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di Gunung Gede, Gunung Pangrango dan daerah Puncak. Setelah melewati bagian timur Kota Bogor,, sungai ini mengalir ke utara, di sisi barat Jalan raya Jakarta – Bogor, sisi timur Depok, dan memasuki wilayah Jakarta sebagian batas alami wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Sungai Ciliwung bermuara di daerah Luar Batang, di dekat Pasar Ikan sekarang. Di sebelah barat, DAS Ciliwung berbatasaan dengan DAS Cisadane, DAS Kali Grogol dan DAS Kali Krukut. Sementara di sebelah timurnya, DAS ini berbtasan dengan DAS Kali Sunter dan DAS Kali Cipinang.

(ratman aspari)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.