“Aku sudah memaafkan Bapak, Ma”

Emma Debora

 

Pagi itu ketika kami jalan santai keluar kompleks penginapan di Cipanas, Rara tiba-tiba bertanya, “Nur, menurut kamu aku ini ada tipe tipemasokis ga sih?”

What???? “Maksud lo?”

“Ups, maksudku, dalam pandangan kamu, aku punya kecenderungan kayak orang yang menyukai kekerasan ga?” .

Aku merasakan lututku gemetar, sementara aku melihat Rara melangkah dengan ringan. Dia berhasil membuatku terkejut tanpa persiapan. Yah, iyalah. Mana ada kejutan yang terjadi dengan persiapan?

Subuh tadi, aku keluar kamar penginapan dan berdoa di teras. Doaku begini, “Tuhan, aku ingin Rara menceritakan apa yang ia alami dan rasakan. Aku bersedia mendengarkan keluhannya atas perlakuan Sahat. Aku mencoba mendengarkan saja dulu, sambil kalau bisa memberinya sedikit sudut pandangan berbeda. Namun kalau dia belum mau, tak apa. Aku mengajaknya hang out ke sini hanya untuk memberitahu dia bahwa dia aman bersamaku.

Sesudah berdoa, aku meneruskan tidur. Dan inilah yang terjadi ketika kami jalan pagi setelah mandi dan sarapan. Tuhan menjawab doaku dengan cara yang tidak kupersiapkan sebelumnya. Tuhan, tahukah Engkau kalau lututku gemetar?

“Ra, gimana elo sampai berpikir begitu? Elo sendiri apa yang elo rasakan?”

“Aku masih terbawa omongan si Citra, Nur.”

“Omongan yang mana?” aku mencoba menebak-nebak. Jangan-jangan, omongan Citra tempo hari, yang mengolok Rara sebagai orang altruis yang nggak ada juntrungannya. Pahlawan kesiangan yang terjangkit sindrom heroisme.

“Omongan dia yang pedes banget. Yang akhirnya kamu belain aku. Yang akhirnya si Citra terpaksa diem setelah kamu memotong omongan dia.”

 Yaaaa, betul kan tebakanku. Pasti itu yang dia maksud.

***

Peristiwa lima hari lalu, kala Rara mengadu kalau Sahat mendorong dia ketika sedang jalan-jalan di mall. Respons kami seragam: tinggalkan Sahat dan tenangkan diri. Biar kami yang berbicara pada Sahat.

Rara menerima saran kami. Namun setelah itu dia seolah berbicara pada dirinya sendiri, “Mungkin aku hadir supaya bisa menolong dia ya?” Tapi rupanya pengakuan Rara menimbulkan kesewotan Citra. Dia setengah memaki Rara dan menyebut gadis itu sebagai pahlawan kesiangan.

Aku segera menengahi. Aku bilang pada Citra, hentikan komentar dia pada seseorang yang sedang bingung dengan apa dialaminya. Dia menerima Sahat dengan tulus, tapi tak menduga kalau Sahat sering menyakiti. Aku sampai hafal kapan Rara mengadu kalau Sahat menghina dia, hafal kapan Sahat kemudian meminta maaf berkali-kali dan hafal kapan Sahat mengulangi perbuatannya, berikut hafal kapan Rara akan melebarkan toleransinya pada Sahat.

Aku pikir, hentikanlah semuanya di sini. Sonya yang turut hadir di situ mengajakku menyingkir sebentar. Ia minta aku mengajak Rara bicara dari hati ke hati.

***

Kami ingin kembali ke topik inti tentang dugaan Rara atas dirinya. Ah, rasanya dia tidak mengidap sindrom masokisme. Menurutku, Rara masih sebatas ingin menjadi penolong bagi semua orang. Dan ini yang dimanfaatkan oleh Sahat.

“Bagusnya, Sahat menghadapi ayahnya. Mengapa ia kerap dipukul dan direndahkan sedemikian? Bukan menjadikan kamu pelampiasan,” kataku.

Rara terdiam.

“Banyak perempuan dihinggapi perasaan useless kalau tidak berbuat sesuatu. Ini pasti gara-gara sejak kecil kita dicekoki dengan pemahaman yang keliru. Perempuan bernilai kalau ini dan itu. Kalau tidak seperti ini dan itu, kita bukan perempuan baik. Nah, kamu merasa useless kan, kalau tidak menolong Sahat. Padahal yang bisa menolong Sahat adalah dirinya sendiri. Maksudku, dia mesti bicara pada ibunya tentang luka akibat perlakukan ayahnya.”

Kami semua sudah tahu kalau ayah Sahat sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.

“Aku perlu menemani Sahat?” tanya Rara.

Aku bimbang menjawab pertanyaan Rara. Terakhir mereka bertemu, situasinya tidak baik. Sahat mendorong tubuh Rara di keramaian dan itu cukup untuk mempermalukan sahabat kami. Tetapi Rara belum menyelesaikan persoalan mereka. Sialnya, Sahat tidak meminta maaf sampai hari ini.

***

Sahat tampak tidak senang ketika kami membahas kejadian di mall. Itu urusan privat, katanya. Persetan,  kejadiannya di tempat umum dibilang urusan privat? Bahkan kalau tidak ada saksi pun persoalan ini bisa dibawa ke ranah hukum. “Hat,  elo kayak nggak pernah makan sekolahan aja. Zaman sekarang, kekerasan dalam bentuk apapun bisa diperkarakan,” nada suara Ita mulai meninggi.

Tapi bukan itu tujuan utama kami bertemu Sahat. Kami ingin menawarkan supaya dia berbicara dengan ibunya. Tapi kami tidak melihat celah itu. Wajah Sahat memerah menahan marah. Syukurlah Puji bertindak cepat. Ia berjalan ke arah Sahat duduk lalu menepuk pundaknya perlahan.

“Hat, kami hanya ingin elo menyelesaikan masa lalu elo dengan bokap melalui nyokap. Kasihan Rara kalau tiap ada masalah, elo mukul dia. Kamu sahabat kita semua. Ayolah men, hadapi masalah lo. Kita nggak akan ninggalin elo kok.” Aku melihat Puji berusaha tenang ketika berbicara.

***

Ternyata, tidak mudah membicarakan soal yang satu ini dengan ibunya. Tante Ros, menganggap tidak terlalu penting lagi membahas perlakuan suaminya semasa hidup. Lagipula katanya, anak laki-laki harus dididik keras. Dipukul itu sudah biasa.

“Kenapa kau mempersoalkan bapakmu lagi? Dia sudah tenang di sana. Kau kan juga sudah berbicara lantang di depan jenazah bapakmu waktu acara adat tiga hari itu?” tantang Tante Ros.

Sahat menjadi frustrasi. Ayahnya bukan hanya sering memukul sampai ia usia SMA, juga senang merendahkan harga dirinya. Itu sebabnya Sahat ingin cepat-cepat pergi dari rumah dan tidak lagi bertemu ayahnya kecuali untuk urusan berapa SKS ia ambil setiap semester. Beruntung, seluruh keperluan kuliah diurus ibunya. Ayahnya hanya mengontrol nilai-nilai kuliah dan lulus tepat waktu. Sahat memang lulus lebih cepat dari target.

Tetapi dendam masih terus membayangi lelaki itu. Sialnya, hampir semua kawan-kawan sepermainan menganggap lumrah kalau anak dipukul ayahnya. Kalau bapak kita lembek, nggak bakalan kuliah di ITB kita Hat, kata mereka selalu.

Akhirnya Sahat menyimpan luka jiwanya bertahun-tahun tanpa berani mengungkapkan kepada siapapun. Kecuali Rara. Sahat berani terbuka kepada gadis itu, namun kadang tanpa rasa hormat.

***

Suatu hari Rara nekad menemui Sahat. Menanyakan apa yang terjadi dan apa yang bisa ia bantu. Tapi Sahat hanya menjawab seadanya dan meminta Rara jangan dulu menemuinya sampai ia siap. Ia hanya menceritakan sekilas rencananya.

“Aku ketemu sama namboru Amie minggu lalu. Kamu masih ingat kan dia? Yang pernah kuceritakan dulu, yang kerja di Kalimantan. Bou Amie mengajakku ikut pertemuan pria sejati minggu depan. Kamu tahulah, aku paling alergi ikut kegiatan-kegatan seperti itu. Tapi kali ini aku mau coba datang. Sekedar ingin tahu saja.”

Rara mengangguk. Ia tak keberatan untuk tidak bertemu Sahat dulu meskipun sedikit merasa kehilangan. Kalau Sahat merasa lebih nyaman ditolong oleh orang lain, ya sudahlah. Semoga berhasil, harapnya.

***

Rara merasakan ketegangan yang menyiksa karena sudah berhari-hari  Sahat tidak memberi kabar. Dari Tante Amie, ia hanya diberitahu kalau Sahat hadir dalam pertemuan tersebut seminggu sekali. Seseorang ditugaskan menjadi mentor (pembimbing)nya. Tante Amie menghibur Rara bahwa Sahat membutuhkan waktu untuk tenang. Dia tidak menghubungi Rara bukan karena abai, semata-mata karena butuh sendirian.

“Kamu doakan dia saja Ra. Sahat sedang dalam proses pemulihan. Itu tidak mudah. Aku juga sedang berusaha menjelaskan kenapa Bang Igor memperlakukan anak laki-lakinya sangat keras. Abang dulu hidupnya susah. Kami tujuh bersaudara hidup terpisah. Kebetulan dia tinggal dengan Mamatua yang galaknya minta ampun.”

Ada kira-kira dua jam Tante Amie bercerita. Diselingi beberapa pertanyaan Rara. Ternyata, banyak yang ia tidak tahu tentang Sahat. Jadi, apa artinya berpacaran empat tahun kalau hanya sedikit saja yang ia tahu tentang Sahat?

***

Cerita Sahat:

Ternyata, berjalan mundur itu menakutkan. Kamu akan melihat lagi hewan-hewan apa saja yang menjijikkan bagimu, siapa-siapa saja yang pernah melukaimu, dan benda-benda apa saja yang ingin kamu lempar ke luar.

Pak Mentor tidak memaksaku meneruskan proses konseling kalau aku tidak sanggup. Tetapi ia memberi kesempatan aku menjerit, atau meraung, atau memaki, bahkan menangis tersedu-sedu kala aku merasa sesak di perjalanan mundur itu.

Aku melakukan apa yang dulu amat dihindari: menangis. Aku ingin seperti anak kecil. Seperti waktu Bou Amie mengusap-usap kepalaku setelah lelaki keparat menamparku. Aku  memaki Tuan Igor sebagai lelaki yang tidak kalah rendahnya dengan sebutan yang ia sematkan kepadaku: si lembek, dan lain-lain. Aku tidak ingin menyebut dia ayah, atau bapak. Aku tidak sudi!

Aku memarahi ayahku sejadi-jadinya.

***

Hari ini sesiku berakhir. Aku tidak sanggup menghitung berapa banyak air mata ini tumpah. Mungkin jauh lebih banyak dari air mata Rara. Aku sudah berdosa kepadanya. Harusnya, kepada ayahkulah aku meminta pertanggungjawaban. Tetapi ia sudah pergi. Mungkin saja ia mendengar apa yang kusampaikan di atas peti matinya. Aku bilang, “Selamat jalan Pak. Biarpun bapak mendidik aku dengan keras, tapi aku ingin mengingat bapak sebagai orang yang baik.”

Mana aku tahu kalau bapak dulu harus makan sisa-sisa ubi saking kerasnya hidup zaman itu. Mana aku tahu bapak korban keluarga berantakan. Mana aku tahu kalau bapak dulu sering dihina dan dimaki-maki sebagai orang miskin. Mama tidak pernah menceritakan hidup bapak dahulu. Andai bapak tidak melampiaskannya kepada kami. Tetapi Tuhan menolongku pada waktunya. Meski lewat seseorang yang sering kusakiti. Aku akan minta maaf padanya, Pak. Aku janji.

***

Tiga bulan terasa seperti setahun. Dan selama bulan-bulan yang panjang itu, Sahat hanya meneleponnya dua kali. Sekali ucapan selamat ulang tahun, yang sekali lagi permintaan maaf sudah menyakitinya berkali-kali. Tetapi Sahat tidak menjelaskan apa saja yang ia alami selama mengikuti pertemuan-pertemuan itu.

O ya, Sahat pernah meminta izin pada Rara untuk menangis. Menangislah, katanya pada Sahat. Tante Amie bilang, Sahat mengikuti pertemuan demi pertemuan dengan perasaan yang campur aduk. Namun berkat bimbingan Pak Mentor, ia bisa melewati fase yang cukup sulit itu. Yaitu ketika harus mengingat kembali masa kecilnya, mengingat perlakuan buruk ayahnya, dan lintasan luka-lukanya. Namun bedanya, kali ini ia merasakan Seseorang yang hadir bersamanya. Seseorang yang memeluknya erat, setelah ia tahu mengapa ayahnya berbuat demikian.

Tiga bulan lagi malam tahun baru. Sahat ingin mengajak Rara datang menemui ibunya. Sambil mengatakan, “Aku sudah memaafkan Bapak, Ma.” ***

 

 

One Response to "“Aku sudah memaafkan Bapak, Ma”"

  1. EA.Inakawa  2 April, 2020 at 13:07

    Kata maaf itu sangat sederhana tetapi penuh makna dari bentuk sebuah sikap,penyesalan & tanggung jawab serta kedewasaan berpikir dan bertindak.
    Sesungguhnya orang tua kita adalah segala galanya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.