Cerita Cinta Segelas Kopi

Siti Naharin

 

“Kung, kopinya di teras depan, ya?’ teriak mbah uti dari dapur. Meskipun tidak ada jawaban dari kakung, mbah uti kembali dengan kesibukannya. Menyiapkan makanan bersama simbok, tetangga sebelah yang setiap hari mengasuhku.

“Aku minum dulu ya, Kung?” tanyaku sembari mengangkat gelas kopi. Kopi racikan mbah uti memang nikmat tiada dua. Paduan antara pahitnya kopi bersatu dengan harumnya vanili, hangatnya jahe bakar memberi sensasi sendiri di tenggorokan. Paduannya tetap dari waktu ke waktu. Mungkin, seperti itulah perasaan uti pada kakung, suaminya.

 “Kopinya mantap, Kung. Seger rasanya,” kuulurkan gelas kopi ke kakung yang menerimanya dengan senyum lebar. Tanpa berpikir panjang, aku duduk di pangkuannya. Menikmati kicauan burung perkutut yang tengah mandi matahari.

“Kung! Sarapan sudah siap. Katanya mau ke kota,” kembali uti berteriak dari dalam rumah.

Kakung membawaku dalam buaiannya. Berjalan masuk sembari menciumku sayang. Aku dan mbah uti menemaninya sarapan tanpa kata. Menu sederhana khas petani desa terhidang di meja makan.

“Ibu sudah makan?” tanya kakung sambil menerima piring berisi nasi dari mbah uti.

“Sudah. Tadi sudah kusuapi duluan. Ibu minta pepes ikan layur tadi,” jawab mbah uti tersenyum.

Kakung membalas senyum mbah uti penuh makna. Lalu uti tersipu malu, menyembunyikan rasa malunya dengan mengambil piring lalu makan tanpa bersuara. Masakan uti memang sedap. Apapun bahannya, kami selalu menghabiskan tanpa sisa.

Sekian waktu berlalu. Kakung sudah tak lagi bersamaku. Nyaris empat dasawarsa lewat. Kehadirannya senantiasa kurasakan dalam hidup dan kehidupanku. Tiga bocah kecil hadir dalam hidupku, bersama seorang lelaki asing yang nyaris baru kukenal kurang dari seperenam hidupku. Aku menyukai diamnya. Kusuka gayanya, yang tak segan membantuku mengurus tiga buah cinta. Kucinta ikhlasnya, tak ragu membantuku merawat  dua orang tua. Jalan keberadaanku di dunia. Kucinta keteknya saat ia lelah bekerja. Kusuka semua dia punya, walau ada yang tak kusuka.

Laki-laki itu menjerat hatiku dengan kesahajaannya. Tak segan meminum kopi yang telanjur dingin, karena kusiapkan sejak dini hari. Persis kakung. Tak pernah rewel masakan uti. Kusuka ia, karena ia tak segan membantu pekerjaan dapur, yang di mata sebagian orang tabu.

Jujur kuakui, ia terlampau sederhana dibandingkan lelaki yang hadir sebelumnya. Tapi bagiku tak mengapa. Segelas kopi kakung di pagi hari mengingatkanku akan kesederhanaan. Cinta itu sederhana, sebagaimana segelas kopi terhidang. Sesendok bubuk kopi yang hitam dan pahit, kau padukan dengan dua sendok makan gula pasir, air panas 200ml. Kau aduk sempurna, larut semua gula dan bubuk kopi. Campuran sempurna akan menggoyang lidahmu. Sudah ketentuan Pembuat Hidup menciptakan segala yang ada di dunia dalam berpasangan. Itulah harmoni hidup. Lihatlah pelangi. Warnanya yang beraneka membuatnya cantik, sedap dipandang.

“Mbuk…ndon,” rengek si bungsu sadarkanku. Kulihat muka polosnya. Kubiarkan ia melangkah ke arahku.

“Manja sekali ini. Seneng banget gendong sih?” kataku sambil menggendongnya. Dari ketiga anak kami, si kecil inilah yang paling suka minta gendong. Kuajak ia ke tempat bapaaknya bekerja.

“Waduh! Anak bapak gendong ibu?” sapa bapaknya sambil memasukkan gundukan tanah liat basah ke dalam cetakan batu bata. Kasihan suamiku. Wajahnya belepotan lumpur. Rambut keriting pendeknya basah oleh peluh.

“Kopi, Sayang. Cepetan diminum, keburu dingin,” kataku sambil meletakkan segelas kopi panas. Kopi panas, pekat dan manis kesukaannya. Bubuk kopi yang ditumbuk dengan cinta dan pengabdian seorang perempuan tua, mertuaku.

“Kopi buatan istriku. Tiada dua. Alhamdulillah,” katanya sembari meletakkan gelas kopi yang habis diminumnya.

“Lebay. Sama aja kali. Mau kopi bikinan siapa, rasanya ya begitu, kan?” sanggahku. Kubiarkan si kecil mengacau gelas kopi bapaknya. Ia paling suka minum kopi, memang.

“Beda, karena dalam segelas kopi yang kamu buatkan ada cinta. Bicara cinta tak hanya suka. Mengumbar kemesraan di media sosial dan lain-lain orang lakukan untuk menunjukkan cinta pada pasangan. Cinta itu juga ada pertentangan, marah, cemburu. Sunnatullah kalau segala sesuatu di dunia ini berpasangan,” tuturnya sok filsuf. Aku tertawa dan duduk di sampingnya.

“Kalau yang tidak berpasangan?” tanyaku manja.

“Salahnya sendiri. Mengapa ia tidak berusaha mencari pasangannya?” jawabnya enteng. Tangannya mengambil gelas kopi yang tinggal setengah. Si kecil sudah asyik dengan mini eskavatornya. Mengeruk gundukan pasir di sisi laierjan halaman rumah. Dua kakaknya pun tenggelam dalam dunia bermain masing-masing. Diminumnya seteguk, lalu dinikmatinya gulungan tembakau berpadu berbagai rempah.

“Coba kamu pikir, Bu? Sepanjang pernikahan kita, ada banyak hal terjadi. Kadang kita tertawa, lalu kemudian kita menangis. Kadang kita  dipaksa berjaga, kadang kita terlena sedari senja. Kadang kita tenggelam dalam kemesraan, tetapi kadang kita bersitegang. Hingga seluruh urat kita meregang. Begitupun segelas kopi ini. Saat-saat kita tertelan ego masing-masing, itulah pahitnya bubuk kopi. Dan saat-saat kita berada di alam dewasa kita, berharmoni begini, inilah manisnya gula yang berpadu dengan air panas, riak kehidupan. Begitu menghablur, hingga pahitnya kopi menjadi manis. Menyisakan kesegaran kekuatan berpikir,” katanya panjang lebar. Tanpa terasa, kepalaku tersandar di bahunya. Menikmati semilir angin senja.

Cerita segelas kopi bagiku, dulu dan sekarang tetap sama. Segelas kopi menyimpan memori cinta. Pahit-manisnya kopi, pahit-manisnya cinta. Hidup tanpa cinta, bagai hidup tanpa makna.

 

 

2 Comments to "Cerita Cinta Segelas Kopi"

  1. MuL  7 May, 2020 at 17:55

    Selalu uasyik dengan kopi. Mantab.
    Salam kenal

  2. EA.Inakawa  2 April, 2020 at 13:15

    Secangkir Kopi adalah sebuah analogi tentang realitas kehidupan, secangkir kopi selalu melahirkan banyak inspirasi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.