Peach Blossom Pavilion

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Peach Blosson Pavilion

Penulis: Mingmei Yip

Tahun Terbit: 2015

Penerbit: Elex Media Komputindo                                                                              

Tebal: 525

ISBN: 978-602-02-6793-7

Kisah tentang Ming Ji. Ming Ji adalah pelacur bergengsi. Ada masa dimana pelacuran dianggap sesuatu yang lumrah dan tidak dilarang di budaya China di masa kerajaan. Seorang Ming Ji bukan hanya harus cantik, tetapi harus pintar bermain musik, pintar menyanyi, pintar menulis kaligrafi dan pintar membuat puisi. Ming Ji adalah seorang yang sangat dihormati dalam tradisi Tiongkok saat itu. Meski posisinya adalah sebagai seorang pelacur dan tinggal di rumah bordil, namun karena kecantikan dan kepiawaiannya dalam berkesenian membuat ia dihormati. Namun profesi Ming Ji ini hilang seiring perubahan politik di China. Saat China menjadi Republik, profesi Ming Ji juga menghilang karena pelacuran tidak lagi legal.

Meski rumah bordil adalah tempat maksiat, tetapi rumah bordil juga mempunyai jasa untuk menyelamatkan nyawa mereka-mereka yang bermasalah dengan politik dan hubungan dengan para penguasa. Dalam novel ini Mingmei Yip mengisahkan asal-usul para pekerja seks di Pavilion Bunga Persik. Mereka-mereka itu ada yang berasal dari anak pedagang yang bangkrut yang harus membayar hutang, ada anak politikus yang terancam dibunuh, sehingga harus menghilangkan identitasanya. Ada juga anak seorang yang nasipnya kurang beruntung karena mempunyai hubungan yang buruk dengan pejabat.

Mingmei Yip menunjukkan bahwa para pekerja seks ini masih memiliki semangat hidup dan harga diri. Meski mereka menjual tubuhnya, tetapi mereka tetap memegang nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi.

Kisah Bao Lan sebagai seorang Min Ji diawali dari sebuah kejadian tertembaknya anak gadis seorang hakim. Anak gadis yang ketakutan karena akan diperkosa oleh ayahnya, mengancam untuk menembak sang ayah jika sang ayah nekat mendekatinya. Sang ayah yang sangat mabuk tetap saja berjalan menuju anaknya yang sudah mengacungkan pistol. Seorang pemain musik segera menghadang si anak gadis supaya tidak terjadi pembunuhan. Namun ternyata sang gadis malah tergeletak tertembak. Sang pemain musik yang mencoba mencegah pembunuhan tersebut malah dituduh sebagai pihak yang melakukan pembunuhan.

Sang ayah dihukum mati. Anak gadis satu-satunya diserahkan kepada kerabat jauh yang ternyata adalah seorang germo. Sedangkan sang ibu memutuskan diri untuk menjadi bikuni. Xiang Xiang, si anak gadis tersebut sangat cantik.

Sang anak yang sangat cantik itu mula-mula senang mendapatkan orangtua baru yang memberinya makanan yang enak-enak. Namun saat ia telah akil balik, keperawanannya dijual kepada Master Fung, seorang lelaki tua kaya raya. Dari sinilah lika-liku kisah seorang Xiang-Xiang yang kemudian menggunakan nama baru Bao Lan (sang Anggrek Mulia).

Setelah mendapatkan pelatihan yang intensif di bidang seni dan mendapatkan asuman makanan sehat, pakaian-pakaian yang bagus dan anggun, Xiang-Xiang dipaksa untuk menjadi pelayan seks di Pavilion Bunga Persik. Mula-mula keperawanannya dijual dengan harga tinggi. Setelah itu setiap malam ia harus melayani beberapa lelaki yang menjadi tamunya. Sampai akhirnya Bao Lan berhasil melarikan diri dari Pavilion Bunga Persik. Ia sempat punya pacar seorang perempuan, menjadi pasangan hidup seorang biksu dan akhirnya kembali ke Pavilion Bunga Persik untuk membalas dendam kepada Master Fung. Ternyat Master Fung adalah orang yang menjebloskan ayahnya ke penjara dan mendapatkan hukuman mati.

Mulanya Bao Lan menyangka bahwa Teng Xiong adalah seorang lelaki normal. Bao Lan jatuh cinta kepada Teng Xiong. Namun apa daya, ternyata Teng Xiong adalah seorang perempuan. Sebelum menjadi selir Master Fung, Teng Xiong adalah seorang pemain Opera Peking. Ia adalah salah satu selir dari Master Fung yang melarikan diri. Meski sudah tahu bahwa Teng Xiong adalah seorang perempuan, Bao Lan yang mendapatkan kasih sayang dan limpahan harta mau saja diajak melarikan diri dari Shanghai ke Peking. Apalagi Bao Lan ingin sekali mencari ibunya yang menjadi bikuni di Peking.

Melalui pelarian inilah Bao Lan terlepas dari Pavilion Bunga Persik. Dalam upaya pencarian ibunya, Bao Lan dan Teng Xiong sempat terpisah. Mereka berdua dirampok di tengah hutan. Bao Lan ditolong oleh seorang biksu Tao, yang kemudian menjadi pasangan hidupnya. Biksu Tao adalah lelaki yang dicintai oleh Bao Lan. Namun karena hubungannya tidak punya masa depan, maka Bao Lan akhirnya melarikan diri dan kembali hidup bersama Teng Xiong.

Melalui Teng Xiong, Bao Lan mengetahui bahwa Master Fung adalah orang yang menjebloskan ayah Bao Lan ke penjara dan mendapatkan hukuman mati. Saat Teng Xiong terancam dibunuh, karena anak buah Master Fung telah menemukannya, Bao Lan memutuskan untuk pulang ke Shanghai dan kembali ke Pavilion Bunga Persik.

Usaha Bao Lan untuk membalas dendam tidak berhasil. Bao Lan gagal menembak mati Master Fung. Ia hanya melukai telinga Master Fung. Bao Lan akhirnya menjadi istri Tuan Anderson, seorang lelaki Amerika. Bao Lan dan Anderson pindah ke New York saat China diserang Jepang. Di Amerika Bao Lan memulai hidup barunya sebagai seorang istri dan dikaruniai anak.

Kisah hidup Bao Lan sangatlah kelam. Sebab, meski ia mendapatkan banyak makanan sehat, pakaian indah dan pelatihan seni, namun hukuman yang diterapkan di Pavilion Bunga Persik sangat mengerikan. Xiang-Xiang yang melarikan diri karena ingin mengantar ibunya pergi dari Shanghai ke Peking harus menerima hukuman di kamar gelap yang penuh tikus. Ia tidak mendapatkan makanan selama masa hukuman. Hukuman lain yang diterapkan di rumah bordil ini adalah dengan memasukkan kucing ke dalam pakaian sang terhukum, kemudian si kucing dipukuli dari luar. Jadilah si kucing mencakar kemana-mana karena ketakutan dan kesakitan.

Selain dari kisah Bao Lan, novel ini juga memuat beberapa perempuan penghuni pavilion lainnya. Salah satu perempuan penghuni Pavilion Bunga Persik yang diceritakan cukup lengkap adalah Mutiara. Mutiara adalah mentor Bao Lan. Mutiaralah yang mengajari Bao Lan bermain qin (sebuah alat musik) dan mengajari bagaimana bersikap saat melayani tamu laki-laki.

Mutiara adalah perempuan dua bersaudara anak seorang pejuang kemerdekaan. Ayahnya tertangkap oleh polisi kerajaan karena melakukan penentangan terhadap kerajaan. Sang ayah dihukum mati. Sang ibu berupaya untuk bunuh diri meminum racun dengan cara melompat dari jendela rumah tingkatnya. Namun Kakak Mutiara yang saat itu berumur 13 tahun dan Mutiara yang berumur 8 tahun berhasil menggagalkan upaya bunuh diri tersebut. Meski nyawanya bisa terselamatkan, namun ibu Mutiara kehilangan suara dan menjadi agak gila.

Untuk menghilangkan jejak sebagai keturunan pemberontak, Mutiara dan kakaknya masuk menjadi perempuan di rumah bordil. Kedua kakak beradik ini menjadi pelacur terkenal yang dipuja banyak pelanggan Bunga Persik. Kakak perempuan Mutiara bunuh diri karena tidak tahan dengan kehidupan tanpa cinta. Sedangkan Mutiara akhirnya juga bunuh diri karena upayanya untuk menjadi pelacur terbaik dalam sebuah kontes dicurangi oleh pelacur lain.

Mingmei Yip menggunakan percakapan antara Bao Lan yang sudah berumur 95 tahun dengan buyutnya. Sang buyut, bersama pacarnya (lelaki Amerika) berupaya menggali pengalaman Bao Lan sebagai seorang Ming Ji.

Mingmei Yip berhasil membangun karakter tokoh-tokohnya dengan sangat kuat. Alur ceritanya pun sangat menarik. Yip berhasil mempertahankan ketegangan pembaca dari awal kisah sampai dengan bagian akhir. Hal-hal yang tak terduga menjadi bumbu yang sangat kuat untuk membaca novel ini tanpa henti. Yip memberi sedikit jeda di tengah novel, dengan memasukkan percakapan selingan dan acara makan malam antara Bao Lan dengan buyut dan pacar buyutnya. Selingan di tengah novel, meski menurut saya agak kepanjangan, namun tidak sampai merusak seluruh alur kisah Bao Lan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Peach Blossom Pavilion"

  1. Handoko Widagdo  14 April, 2020 at 08:02

    EA. Inakawa, saya belum menemukan buku yang dikau maksudkan. Mungkin teman-teman Baltyra ada yang sudah membacanya. Mbak Dewi? Anung? Josh Chen?

  2. EA.Inakawa  2 April, 2020 at 12:52

    Sampai kapanpun Dunia Kupu Kupu Malam masih menarik untuk dibahas,
    Pertanyaan nya : apakah Dunia Kupu Kupu Pria (Gigolo) sama menariknya dengan dunia Pelacur Wanita,
    Sejatinya yang namanya Pelacur tidak membedakan jenis kelamin…..
    apakah ada resensi tentang Pelacur Pria yang kisahnya sama menariknya dengan kisah Ming Ji.

  3. Handoko Widagdo  4 March, 2020 at 10:57

    Terima kasih resensi ini sudah diunggah. Sungguh buku ini adalah sebuah buku yang bagus. Kita belajar menghargai setiap kondisi kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.