Nut Cracker (2)

Re Ranting

 

Cerita sebelumnya:

Nut Cracker (1)

 

Baru saja aku menghempaskan pantatku di sofa, ponselku yang tergeletak di kabinet berdering. Dengan malas aku bangkit dan meraihnya. Aku melihat nomer asing berkode +61. 

Aku hanya memandangi layar ponsel tanpa berusaha menyentuhnya. 
‘ah, cuma scam.’, pikirku. Sambungan terputus. Tapi belum sempat aku letakkan, ponselku berdering kembali. Masih sama. Aku hanya memandanginya hingga getarannya terhenti.  

Merasa lelah, aku kembali berjalan ke sofa. Namun baru saja aku duduk, ponselku kembali bergetar. Terdengar nada pesan. Aku beranjak dengan perasaan dongkol. 

“Please, answer. Ini aku. Edo.” 

Kembali ada panggilan masuk. Buru-buru aku mengangkatnya.

“Halo, Ran.”
“Kamu.” Responku datar. “Kenapa, Do?” 
“Apa dia menemuimu?”

Aku terdiam beberapa saat. Terdengar helaan nafas berat di ujung speaker ponsel. “I know it. Ngerti aku. Dekne nesu?” 

“Ora. Malah ngguyu.” Jawabku mencoba untuk tidak tegang. 
“Sorry yo, Ran.”
“Ngopo?” 
“Nglarani atine koncomu.” 

Ada yang lucu dengan kata-kata itu. Semudah itu minta maaf? Setengah penghianatan besar yang dia lakukan, aku yang biasanya memilih jadi penengah, mulai berpihak pada sahabatku. 

“Ra perlu minta maaf karo aku. Njaluk maaf karo Gusti. Kamu wes nglarani atine makhluke. Berarti kamu yo nglarani Gusti.” 

Ada jeda lama. Hanya hembusan nafas yang terdengar. Di tiap hembusan itu ada kenangan. Manis dan pahit. Dan aku tak menyukai keduanya. 

“Dekne ngomong opo?”
“Mbuh. Tekok dewe.”
“Kok ngono? Dekne meh megat aku kan?” 

Jeda lagi. Kali ini aku tak ingin banyak bicara. Aku harus mengerem mulutku. Setidaknya, tiap kata yang keluar tidak memperunyam suasana. 

“Pegatan ki ora gampang yo. Nek dudu koncoku, kamu wes tak blacklist seko uripku. Aku nyarani kamu milih seng ndi. Karo dekne kamu wes due anak. Karo dekne juga due anak. Karepmu piye.”

“Aku pingin anak lanang. Anak ragilku wedok,”

“Trus kowe metengi wong neng ndalan? Bar anakke seng lahir lanang, trus dinikah Siri?” 
“Kamu ra mudeng,”
“Kanggoku kuwi nafsu, Do.”
“You judge me?”
“Iyo.”

Dia kembali terdiam. Aku juga terdiam. Kami sama-sama tidak berbicara sampai sambungan telepon jarak jauh itu terputus. 

Aku kembali merayap ke sofa. Merebahkan tubuhku yang penat. Masih memandangi layar ponsel. Berharap dia mengirimi aku pesan. 

Memang ada satu pesan. Namun bukan dari Edo.

“Aku tidak pulang malam ini. Masih di tempat Erwin.” 

“Sudah kubilang jangan sering-sering bergaul dengannya. Dia gay!” 

Lama tak ada balasan. Aku membanting ponselku di atas sofa. I am so tired. Julia, I really tired. 

Aku menanggalkan baju kerjaku dan mengenakan terusan mini berwarna putih yang tergeletak sejak pagi di atas sofa. Menyapukan bedak di wajahku dan memoles bibirku dengan lipstick merah marun. Jam digital di atas kabinet menunjukkan pukul sembilan malam.

“Hi, Julia! Do you still keep left over wine and pizza?” 
“Sure. Do you sleep over tonight?”
“Yeah. Where’s the kids?” Tanyaku sambil mengunci pintu.
“Save place.” Terdengar tawa renyah dari seberang. 
“Okey. I am on my way.” Kataku, menekan tombol lift. 
“I am waiting. Prepare some toy for us.” Terdengar suara cekikikan dari seberang sebelum aku memutus sambungan. 

Kadang hidup teramat lucu. Dan aku suka menjadi bagian dari kelucuan itu. 

(To be continued)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.