Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 1-

Selamat jalan Aji. (by Endah Raharjo)

Lelaki lembut hati, murah senyum dan bertubuh setinggi hampir 2 meter itu pergi terlalu dini. karena tingginya itu sahabat-sahabatnya menjulukinya ‘buto’.

Pagi tadi kutengok akun WA-nya di ponselku. kosong. aku menyesal mengapa obrolan terakhir kami, menjelang pemilu tahun lalu, kuhapus. waktu itu kami ngobrol tentang PSI, partai tempatnya berkarya, dan Jokowi.

kami berkenalan lewat tulisan, sekitar 10 tahun lalu, ketika aku sedang rajin belajar nulis fiksi. banyak tulisanku dan dua cerita bersambung (Tembak di Tempat dan Satu Rahim Tiga Cinta) terarsipkan di blog yang dibuat dan dikelolanya: Baltyradotcom. ia mengaku suka tulisanku, karenanya ketika ia berniat menulis buku tentang kuliner peranakan Tionghoa, aku salah satu yang ia hubungi; juga mas Handoko Widagdo. kami rajin berdiskusi jarak jauh, lewat email, BBM (ah! ini semacam WA jadul) dan sesekali telepon. bangga rasanya saat ia menulis namaku dan nama Mas Handoko sebagai dua mitra diskusi di dalam bukunya, ‘Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara’.

mbak Probo, mas Effy, Rezza, Anung, dan aku hadir dalam launching bukunya di Jogja. lega bisa menemukan dua foto acara yang sudah 7 tahun lalu itu. buku itu melambungkan namanya. ia kerap diboyong sana-sini untuk diskusi dan seingatku termasuk diwawancara khusus oleh satu stasiun TV.

selamat jalan Aji. selamat menikmati hidup di dunia baru. aku akan mengenangmu.

 

AJI (by Asrida Ulinuha)

Subuh ini rencana saya hendak menulis tentang Hari Bakcang, Sembahyang Bakcang, makan bakcang, mendirikan telur tengah hari di Hari Bakcang seperti yang diajarkan Pak Harjanto Halim, dan Rasa Dharma / Boen Hian Tong yang sudah mengirimkan bakcang yang sangat saya sukai.

Tapi tulisan bakcang itu akhirnya saya tahan dahulu setelah saya membaca kabar di timeline Koh Aji Chen Bromokusumo berpulang. Saya mak tratap. Kaget sekaligus tidak percaya. Denial for loss is normal. Tapi pada akhirnya saya harus terima juga ☹️😢

Kami selalu bertemu, dengan kawan yang lain juga, setiap ia pulang tilik Semarang, yang tidak dilakukan tahun ini karena pandemi.

Kami satu grup di WA dalam sebuah komunitas menulis internasional dimana penulisnya adalah orang Indonesia. Lamanya kami tidak mengobrol intens karena saya sibuk dengan pekerjaan saya dan ia sibuk menjadi anggota dewan. Ia banyak bekerja, cukup vokal dan berani, mengatakan dan melakukan hal yang perlu diperjuangkan sejak awal sebelum menjadi anggota dewan.

Mas Aji adalah pakar kuliner Peranakan Tionghoa, selalu muncul di beberapa TV swasta nasional setiap masa Imlek, bukan hanya bercerita sejarahnya, tapi juga ‘hands on’ memasak.

Orang yang menyenangkan untuk diajak bertukar pikiran, ramah, tidak sungkan menyapa lebih dahulu. Saya melihatnya membungkuk dan melayani orang yang lebih sepuh. Saya bersaksi ia adalah orang yang baik.

Walaupun saya paham maut bisa menjemput kapan saja pada siapa saja, tapi saya sangat sedih ia pergi di usia yang belum lagi renta, saat pikiran dan tenaganya masih diharapkan orang. Saya kehilangan kawan baik dan Indonesia kehilangan satu lagi orang yang berjuang untuk kebaikan.

*di foto kika: Ibu Myra Sidharta, saya, Mas Aji. 2018
Di foto lain seharusnya ada Iwan Kamah, saya cari tidak muncul, mungkin tertaut di akun lama Iwan yang hilang.

 

AIR MATA BUAT AJI (by Wesiati Setyaningsih)

Pagi tadi saya piket ke kantor. Maksud hati pagi-pagi habis absen mau jalan muter lapangan basket. Eh begitu naroh tas di meja sekitar setengah delapan, buka fesbuk dulu. Ini kesalahan fatal. Karena jadi lihat statusnya Asrida Ulinuha yang mengabarkan teman kami Aji Chen Bromokusumo meninggal.

What? Aji? Serasa nggak percaya. Usianya sepantaran saya sekitar 48 tahun. Tapi dia ini ngatur makan dan olah raga. Entah setelah sibuk jadi anggota DPRD Tangsel apakah dia masih olah raga. Tapi saya ngikuti ig-nya, badannya masih langsing.

Kontan saya telpon Ulin memastikan. Terpaksa saya naik ke teras kelas atas yang sepi karena hati tiba-tiba perih. Aji ini pendiri blog rame-rame Baltyra. Dia yang ngajak saya gabung di Baltyra sampai dekat kaya saudara dengan beberapa di antaranya. Anggota Baltyra ini banyak sekali, hampir 700. Semua merasa diangkat derajatnya karena tulisan yang masih taraf belajar diangkat di sana dan dikomen rame2.

Dulu status saya sering dicopas untuk masuk sana dan dikomen heboh dari guyonan sampai serius. Di Baltyra ini kami menemukan teman2 sejalan. Semua merasakan ketulusan Aji. Dengan tiba2 dia bisa membawa koper besar ke sekolah saya demi menemui saya dan teman guru yang ternyata dulu guru SMA dia. Dia baru turun dari bandara dan nggak sempat ke hotel dulu. Keramahan macam begini yang membekas dalam benak kami semua. Dia tau semua masalah2 kami semua. Kalo ada yang berkonflik dia selesaikan dengan bijak. Tak salah kami memanggil Lurah.

Tiba2 orang baik ini meninggal. Saya tersedu sendirian. Ketika reda, saya pulang. Ternyata di rumah makin parah saja. Tiap buka fb ada teman yang posting tentang dia, saya nangis lagi. Terus aja gitu sampai sore ini.

Niat meditasi merem, malah kaya Aji di depan saya. Air mata mengalir lagi. Kebayang dia nanya,
“Kowe ngopo Wes?”
“Kowe ki lo. Ndadak lunga sik.”
“Halah. Lha iki wis wayahe. Wong kowe suk mben palinga yo nyusul lo.”
“Iyo sih. Tapi kok yo kowe lunga gasik men.”
“Rak papa. Wis jatahe kok. Wis ya Wes. Tak lunga sik. Kowe rak sah nangis terus.”

Dan saya kembali nangis. Sekarang air mata sudah kering. Menyisakan keheranan. Aji ini saudara bukan. Di sekitar saya tiap hari juga enggak. Tapi kok saya kehilangan banget. Kaya mbak Benedicta Moedjiani Nurmeitasari bilang,
“Sepupuku meninggal wae aku ora nangis kaya ngene. Iki iso nangis rak uwis-uwis.”

Itu juga yang dirasakan semua teman Baltyra. Semua curhat di fb merasa kehilangan dan nangis2 di tempat masing-masing.

Yo wis Ji. Kana lunga. Aja bali maneh. Suk nek aku karo kanca2 nyusul guyon maneh nang kana ya. We love you so much.

TO ALL GEMBLUNGERS (by Wesiati Setyaningsih)

Ketika teman fb saya Aji tiba-tiba meninggal Jumat lalu, dan saya nangis seharian, saya tercenung. Mungkin tidak hanya saya. Teman-teman yang diajak gabung ke Baltyra juga merasakan hal sama. Aji itu siapa? Saudara, bukan. Dibilang teman, bahkan ada yang belum pernah bertemu. Jadi apa? Cuma teman fesbuk. Saya bilang ‘cuma’ karena buat saya kalo hanya bertemu di dunia maya berarti nggak terlalu teman. Teman tapi maya. Kaya bukan teman beneran karena hanya bertemu di dunia maya.

Saya salah. Nyatanya meski hanya bertemu dua – tiga kali, Aji terasa dekat. Sangat dekat. Demikian juga Dewi Murni, om Handoko Widagdo, dan teman-teman yang lain, tiba2 seperti lebih saudara dari saudara. Ketika saya dan Dewi berpisah di Solo tahun lalu, kami berpelukan. Dia akan pulang ke Brasil dan entah kapan bertemu lagi. Kok ya sedih sekali. Kalo bude Probo Harjanti dan Sekartaji Suminto yang barengan kopdaran waktu itu, tinggal di Jogja saja. Saya bisa ke sana kapan sempat.

Saya mulai mikir, kok bisa rasanya sedekat ini. Nggak salah kalau mbak Benedicta Moedjiani Nurmeitasari sampai bilang di wa, sepupu dia meninggal saja dia nggak nangis separah ini. Sama, saya juga. Kok bisa?

Kalo dirunut ke belakang, Aji ‘menemukan’ saya ketika saya berjuang sendirian. Saya mulai nyetatus dan bikin catatan di fb untuk menyuarakan batin saya yang tidak mungkin saya ungkapkan pada teman2 dunia nyata saya. Jangankan ke teman, ke Ibu saya saja nggak mungkin.

Ada banyak yang saya simpan di kepala saya sendirian. Misalnya, saya sebal dengan dominasi Islam di mana2. Bahkan upacara hari senin saja ada pembacaan doa isinya doa muslim. Kenapa nggak cukup hening cipta saja? Saya tetap mengucapkan selamat natal karena buat saya iman yang kuat tak akan berubah hanya dengan mengucapkan selamat natal. Saya nggak suka diskriminasi dan saya benci mendengar pertanyaan, “eh dia Cina ya?” Atau “tapi agamanya nasrani kan?” La nek nasrani njuk nopo?

Saya guru, tapi saya nggak setuju dengan kurikulum yang berat, nggedabyah dan nggak jelas manfaatnya. Belum lagi guru yang lebih memaksa siswa ngejar nilai hingga lupa mempedulikan kebahagiaan siswanya. Saya menolak hukuman fisik yang nggak relevan dengan mapel karena cuma guru yang kehabisan ide yang kasi hukuman fisik.

Nggak salah pak Han menjuluki saya guru gemblung. Karena saya berbeda dengan kebanyakan. Sampai ibarat saya nggak punya banyak teman dekat di dunia nyata karena pikiran saya yang berbeda. Dan orang-orang kaya saya ini ditemukan Aji lalu dicemplungin ke Baltyra. Kalo ada yang kadrun dia atasi sendiri agar tidak mengganggu kegemblungan teman2 lain.

Jadi kenapa para Baltyrans yang gemblungers pada menangisi Aji? Karena mereka adalah orang gila yang nggak punya tempat di dunia nyata. Oleh Aji kami dipertemukan dan merasa punya teman dan tempat berekspresi. Tulisan yang kami pikir masih receh, dia pasang di Baltyra dan itu bener-bener bikin bangga. Aji berhasil menaikkan self appreciation kami.

Ketemu sudah kenapa saya menangisi Aji. Kami menemukan kebahagiaan lewat dunia maya. Kegigihan dia mengelola Baltyra yang luar biasa sudah membuat orang-orang ‘tersingkir’ macam saya punya wadah dan mendapat pengakuan.

At the end, Aji sudah pergi, sudahlah. Saya hanya bisa berjanji dalam hati untuk menjaga keberadaan saya. Agar orang-orang gila seperti saya merasa punya teman juga. Merasa nggak sendirian merasa gila karena berbeda dengan orang di lingkungannya. Saya akan terus nyetatus menyuarakan pikiran saya. Sampai usai usia saya.

Salam sayang buat kalian semua yang merasa berbeda.

Selamat kembali ke rumah Tuhan JC (by Adhe Mirza Hakim)

Aji Chen Bromokusumo damai selalu disisiNYA. Saya mengenal JC sejak era KoKi (Kompas Komunitas) suatu web yg berada di bawah Kompas group, cikal bakal Kompasiana. Dulu belum ada Whatsapp, Twitter, FB, Instagram & YouTube, era bertemu para netizen salah satunya lewat Web Komunitas, biasa disebut Citizen Journalism, karena para netizen saling bertukar cerita dan pengalaman dari tempat tinggal masing2. Saya banyak dapat kenalan lewat jalur KoKi Kompas yg kemudian lanjut ke Jejaring Sosmed Facebook mulai 2008.

JC, singkatan dari Josh Chen nama NgeTop di jejaring sosial, kemudian membidani lahirnya Website Baltyra.com singkatan dari Global Community Nusantara. Dimana ide dasarnya adalah menghimpun tulisan2?& kisah2 dari para netizen Indonesia yg tersebar di seluruh dunia yg menyatu dlm satu komunitas yg cinta tanah air (Nusantara).

Saya mengenal dia sbg mentor menulis yg baik dan sabar, selalu memberi semangat positif, dia tak ragu2 meyakinkan kita utk percaya diri mengolah kata agar menjadi satu kisah yg menarik. JC mengajarkan saya arti menghargai suatu karya tulis, dia tak ragu2 menampilkan tulisan2 saya di Web Baltyra, pdhl sebelumnya tulisan2 saya tak lolos posting di KoKi Kompas, pernah masuk satu kali ttg trip ke Bintan.

Makasih JC… cukup 2x kita pernah bertemu, pertama saat mampir ke rumahmu di Alam Sutra dan Kopdar Baltyra di Rumah Makan Pondol di Menteng, Jakarta tgl 10 Des 2011. Semoga semua amal baik mu bagi orang2 disekitarmu dan bagi Indonesia Tanah Air mu, akan menjadi catatan abadi yg memberimu tempat yg baik disisiNYA, beristirahatlah dengan tenang dan damai JC.

Salam Baltyra 🙏

#RIPJC #BaltyraBerduka

 

师父,再見!(by Linda Cheang)

Sicut Domino placuit, ita factum est. Sit nomen Domini benedictum.

Pada akhirnya, harus terima kenyataan bahwa teman baik kami semua di Baltyra memang sudah pergi ke keabadian dalam usianya yang masih muda.

Selamat jalan Aji Chen Bromokusumo, Josh Chen, JC, Suhu Buto, Pak Lurah Baltyra. Engkau jadi inspirasi bagi orang sepertiku yang bukan sesiapa.

Aku punya hutang tulisan berseri yang belum diselesaikan karena kendala yang membuatku menundanya & aku merasa menyesal karena ini. Setelah duka ini selesai, untuk menghargai dan mengenang dukunganmu, maka aku akan kembali menulis lagi, dari sedikit untuk menjadi bukit.

Berbahagialah engkau di tempatmu yang baru. Doakan kami semua yang masih menjalani perjalanan kehidupan di dunia fana ini.

Sampai jumpa Suhu!

Ketika air mata jatuh….
Tidak ada yg bertanya, apa agama mu
Apa suku mu
Apa warna kulitmu

 

JC (by Edy Hardjito)

Turut berduka atas kepergian “pak lurah” BALTYRA.com yakni Aji Chen Bromokusumo (Joseph Chen). Meski tak pernah bersua di alam nyata, namun dulu kami sering saling menyapa. Beliau yg mengajak saya gabung ke Baltyra dan kenalan dengan beberapa penulis di sana meski secara virtual. Saya merasa terhormat diajak gabung padahal saya ga bisa nulis. Kata beliau, kita perlu sesuatu yg menggelitik, tulisan yg ngaco namun punya unsur kritik, kami perlu orang seperti anda, kata dia. Ya saya ga bisa ngomong apa-apa karena beberapa coretan saya banyak ngawurnya itu ditampilkan di baltyra, dulu.

Sudah banyak sahabat yg mengulas kebaikan pribadimu pak. Saya pun turut bersaksi bahwa sampeyan adalah orang baik juga. Selamat jalan pak JC.(Rusdian Malik)

Selamat jalan pak lurah, JC, butho, Aji Chen Bromokusumo
Kiprahmu di dunia tulis menulis, menyatukan Dan menampung keluh kesah diaspora seluruh dunia dan Indonesia dalam wadah kolom Kita KOKI & Baltyra sangatlah membekas.
Saya masih punya utang untuk bakar ikan bareng😢

 

Chen Gui Fu (by Juwandi Ahmad).

Senin, 29 Jui 2020 pukul 00:06 “Allah Robbi”, itulah yang menyeruak dari jauh dalam dada saat mendengar kabar kepergiannya, Dan raut mukanya pembawaannya, perbincangan dengannya, pelan-pelan muncul dalam pikiran saya begitu nyata, senyata ketiadaannya. Chen Gui Fu(Josh Chen), lurah baltyra meninggal dunia? Dan sampai pagi saya tak bisa tidur.

Saya keluar, duduk lama di kursi teras, dalam deraan ketidakmengertian, sepi senyap, membayang wajahnya yang pucat, terbujur dalam peti. Lebih dari dua Jam, Dan ketidakmengertian itu kian parah. Masuk ke rumah, saya pandangi wajah istri Dan dua anak saya yang terlelap. 100 tahun terlalu singkat untuk cinta, apalagi 48 tahun saja. Serupa laron yang mengerubungi cahaya, sejenak saja, lalu matilah sudah. Itu kepedihan, yang tak dimengerti sang maut, yang entah mengapa Tiba-tiba tak pandai berhitung, yang membuatku belum bisa mengucapkan selamat jalan. 

 

AJI (by Adriano)

Dan perenungan tentang sebuah maut dan kematian serta kehidupan, yang juga disampaikan oleh Padre Adriano,  bahwa “MAUT adalah SAUDARA”

Saat paling intim ketika berada di makam adalah kesadaran akan keterarahan pada KEMATIAN. Saya intim dengan keterarahan pada kematian. Intimitas itu menunjukkan bahwa kematian bukanlah hal yang menakutkan. Ia adalah saudara KANDUNG KEHIDUPAN. Atau dlm bahasa Santo Fransiskus dari Asisi, ‘maut adalah SAUDARA’! Keterarahan pada kematian, mendorongku untuk mengakrabi bahkan bersaudara dengan kematian.

To Be Continue on PART 2

11 Comments to "Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 1-"

  1. Linda Cheang  6 July, 2020 at 17:28

    Ternyata sepenggal tulisan ku tentang JC ada di sini.

    Makasih buat teman-teman yang sudah posting.

    Atas desakan dari Lani van Kona, Aku mau buat tulisan lagi tentang JC dari pengalaman ku bertemu & berkomunikasi dengannya.

  2. bagong julianyo  6 July, 2020 at 11:37

    JC. ❤❤❤

  3. Dewi Aichi  5 July, 2020 at 09:27

    pagi….pak lurah…selamat berhari minggu yaaa…

  4. sirpa  3 July, 2020 at 22:26

    @ Iwan Kamah
    saya masih kaget dengan berita duka kepergiann sobat kita .. kira2 sakit apa ya.
    salam hangat

  5. James  3 July, 2020 at 17:21

    Kehilangan……

  6. Didik Winarko  3 July, 2020 at 13:06

    we miss you so so so bad JC.!
    Masih ada hangat yang muncul di sudut mata saat mengenangmu..
    Tapi bagaimanapun kita semua harus ikhlas dan the show must go on.. Jadi yukk.. semakin sering kita tengok rumah kita yang tak berdinding ini. Semoga ini bisa membuat beliau tersenyum di sana dengan semakin ramainya rumah kita ini.

    Saya merasakan duka dan kehilangan juga meskipun saya cuma anak cupu di baltyra, yang lebih banyak hanya sebagai silent reader..
    yang hanya beberapa kali samprokan dengan lurah JC di FB dan di Baltyra, yang bahkan gak punya contact WA beliau, yang komunikasi DM hanya via email saja pada saat beberapa kali kirim tulisan retjeh..

    Gak kebayang betapa kesedihan kalian yang sudah bersahabat dengan JC sejak masa Koki yang saya tak pernah tahu Koki itu bagaimana dulunya..

    Selamat jalan JC! Selamat jalan orang baik!
    Beristirahatlah dengan tenang di sana..

  7. djasMerahputih  3 July, 2020 at 09:08

    Masih sedih

  8. Nur Mberok  3 July, 2020 at 09:01

    Aku masih sering bingung… Kok bisa? Kenapa kamu ?

  9. IWAN KAMAH  3 July, 2020 at 08:44

    Abu jenazah Josh Chen tidak dilarungkan, tetapi disemayamkan di rumah abu.

  10. Alvina VB  3 July, 2020 at 08:06

    Dari semua tulisan Baltyrans di sini, benang merahnya: kamu telah menginspirasi banyak orang dengan kebaikan dan kesopananmu. Rest in Peace, till we meet again one day!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.