Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 2-

Selamat Jalan Sobat JC! (by HC – DC)

Ini adalah tulisan perdana saya di Kolom Baltyra ini. Ijinkan lah saya memperkenalkan diri saya. Saya Harry Lukman dan saya dulu sempat active banget di Kolom Kita (KOKI) yang kala itu bernaung di bawah KOMPAS dibawah asuhan Almarhumah mbak Zeverina.

Waktu tidak terasa begitu cepat berlalu, kala itu sudah sekitar 12 sampai 14 tahun yang lalu. Waktu KOKI bubar, Baltyra muncul sebagai gantinya, tetapi saya pilih naik gunung (retired). JC berulang kali ajak saya gabung di Baltyra waktu itu, tetapi entah kenapa saya tidak perpernah mau gabung ke Baltyra.

Waktu jaman KOKI dulu ada suhu Josh Chen (JC) di Jakarta, tante LisDol (Lisa Dolan) di Kansas, mbak Lies Dwiarti (LD) di Jepang, Bapak Janto Marzuki di Sweden, Bapak Djoko Paisan di Germany, mbak Fervel di Spain, mbak Chrissy (GOP Die Hard) in California (kalau nggak salah), mbak Kornelya di New York (Kalau nggak salah), satu lagi saya lupa namanya, mas yang satu ini asalnya Bantul, dan mas ini dapat beasiswa kuliah di Boston. Dan masih banyak lagi. Saya tidak tahu apakah mereka ini masih active di Baltyra sekarang ini atau juga sudah pada naik gunung (retired) seperti saya.

Setelah saya naik gunung, saya nggak keep in touch sama KOKIERS kecuali dengan tante Lisa Dolan di Kansas. Tadi malam waktu sini, tante LisDol sent me a text on my cell;

“Baru baca FB suhu JC passed away tadi pagi, saya share linknya

Please read Baltyra”

Terus terang saya tidak pernah baca Baltyra Selama ini. Tapi hari ini saya tergugah untuk turun gunung untuk menulis pertama kalinya di forum Baltyra ini buat sobat saya yang dulu sekitar 12 sampai 14 tahun yang lalu sempat akrab sekali dengan saya. Walaupun kami belum pernah bertemu (apa istilahnya? KOPDAR = Kopi Darat). Tapi kami pernah bicara di telpon di tahun 2007 sewaktu saya berada di Jakarta. Waktu itu JC masih kerja di U.S Embassy di Jakarta dan saya masih kerja dengan U.S Government disini (Washington, D.C). Sekarang saya sudah tidak kerja dengan U.S Government lagi, tetapi saya bekerja di private sector.

“Selamat Jalan JC, my deepest condolences on your untimely departure. My thought and prayers are with you and your family during this difficult moment. I am honored and blessed to have known you even for a brief period which our paths had crossed. You were truly an amazing & a wonderful individual with extraordinary courage & perseverance. I miss your enthusiasm & your sense of humor.

BaItyra has truly lost a legend today and it won’t never be the same without you here in Baltyra. I apologize for not joining Baltyra a decade ago. Unfortunately, it took JC’s departure for HL to join Baltyra L

I will cherish our moments in KOKI for the rest of my life. You and Zeverina are now in a better place and you’re watching all of us here.”

Akhirnya, bagi anak-anak mas Aji (JC’s real name) kalau kalian baca article ini, saya hanya akan bilang kalau ayah kalian adalah sosok seorang yang HEBAT!! Janganlah pernah lupa dengan sosok ayah kalian. Ijinkan lah om HL berbagi lagu ini! He will be missed! But we will always cherish his memories.

https://www.youtube.com/watch?v=1kFllKAuR2A

Bagi anda sekalian yang belum kenal saya (blm pernah baca KOKI jaman dulu), salam kenal!

Greetings from the American Capital. 

 

WHY YOU ? (By Benedicta Nurmeitasari)

JC,

Tangan ini masih bergetar, dan mata ini selalu basah mengingatmu.

Siapa sih kamu yang bisa membuat semua teman-temanmu menangis sedih sekaligus bangga berteman denganmu?

Baru hari ini sejak kepulanganmu aku kuat menuliskan kenangan-kenangan remeh temeh bukti ketulusanmu yg melampaui sebuah persaudaraan.

Aku memang bukanlah penjalin relasi yg intens. Bukan orang yang setiap hari ber say hello. Bukan pula orang yg hobi berjapri ria. Aku hanya orang yg suka bercanda di grup. Tapi kamu adalah orang yang tahu satu per satu teman-temanmu dan permasalahan hidupnya. Aku tak habis mengerti bagaimana caramu mengatur waktu untuk memberikan perhatian kepada teman-teman di tengah kesibukanmu.

Sungguh aku bingung, tak habis pikir dengan kepulanganmu yg tiba-tiba. Karena di setiap kesempatan selalu kamu masih bisa setor kengocolanmu di grup WA Baltyra.

Aku linglung … Kok bisa ?

JC…JC kamu kenapa? Ngapain tidur di peti itu?

Ada kepedihan membaca tulisan teman-teman tentangmu, terlebih melihat fotomu yg selalu mlengeh di setiap jepretan. Sungguh aku mewek sampai pusing kepala.

Ingatanku jauh ke belakang saat pertama kali mengenalmu sebagai Lurah di Rumah Tanpa Dinding kita – #Baltyra. Rumah yang mempersatukan siapa saja yang mau menjadi sebuah keluarga dalam tukar celoteh dan cerita.

Aku yg bukan siapa-siapa kau libatkan dan perkenalkan pada orang-orang hebat yg rendah hati dari seluruh penjuru dunia.

Di awali dari pernikahan Fransiska Ratna Wulandari – Lembayung di Solo. Siapa aku kau ajak ke pernikahan dia, yg sama sekali belum pernah aku kenal.

Tapi itulah kamu, yang selalu menganggap siapa pun saudara. Kamu mengajarkan kepada kami kesetaraan dan kehangatan pertemanan.

Kamu juga mengajarkan bahwa keluargamu adalah keluargaku. Baru kali ini, aku mengenal komunitas yg memperkenalkan seluruh keluarganya satu sama lain. Itulah yang membuat kami sungguh berada di dalam satu rumah. Rumah tanpa dinding.

Di setiap kunjunganmu ke Semarang, kamu selalu sempatkan untuk bertemu sekedar bertukar cerita sebentar dan ngakak bareng.

Kamu pun selalu menyempatkan bertemu jika aku di Jakarta, dan mengantar aku. Dan saat aku menikahkan putriku, kamu menyempatkan mengajak kami makan bersama. Merayakan sebuah kebahagiaan. Padahal saat itu kamu sudah menjadi anggota Dewan yg super sibuk. Bahkan akhirnya kamu batalkan meeting dengan teman-teman PSI karena kita keasyikan ngobrol dan ngakak sampai kebablasan salah arah.

JC … JC … Kamu kenapa ? Kenapa kamu cepat pulang ?

Samar kuingat, aku pernah melihat garis tanganmu, dan kukatakan, “lho umurmu kok cendhak.” Dengan cepat kau tarik tanganmu dan seperti biasa nyengenges, tengil.

Kamu orang yg hidup sehat, peduli kesehatan.
Kamu juga orang cerdas, rendah hati sekaligus keras hati dan keras kepala. Tak habis pikir apa sakitmu sampai kamu pulang begitu cepat ?

Di beberapa hari sebelum kepulanganmu, kamu bercerita tentang project kasus TPA di kotamu. Aku sempat memperingatkan kekerasanmu menangani kasus tersebut, dan seperti biasa kamu nyengenges. Aku juga sempat ingatkan kesehatanmu.

Aku ga ingin kamu sakit, aku khawatir ada orang terusik dan melakukan hal jahat terhadapmu.

Sungguh banyak harapan Indonesia baru di pundakmu.

Tapi … Kenapa kamu pulang begitu cepat. Kenapa ?

Di hari ke lima kepergianmu, kutuliskan sebagian kenangan bersamamu. Karena kamu sudah tidak lagi bersliweran di mataku sambil nyengenges. Ngece seolah-olah ngomong : Lah po nangis !

Terakhir di mataku, kamu nampak sudah memejamkan mata dan tidur tenang.

Aku tahu, benih yg baik harus mati agar bertumbuh benih-benih baru.

Tapi tetap saja hingga detik ini aku tak mengerti.

Ah JC … Why You ?

Semarang, 29 Juni 2020

*terimakasih telah mengajarkan banyak hal.
Rest in love, peace in prayer. Pulanglah!

ODE UNTUK SAHABAT…..(by Osa Kurniawan)

“Dudu sanak, dudu kadang…tapi yen mati aku melu kelangan”

Rasanya peribahasa Jawa di atas sangat sesuai dengan ada yang di hati saya sejak kemarin.

Entah kenapa, pada hari Kamis siang kemarin lusa saya tiba-tiba ada pikiran untuk memperkenalkan sahabat saya, Aji Chen Bromokusumo, kepada teman kerja yang tinggal di Tangerang Selatan. Sekedar ingin memberitahukan kalau di Tangerang Selatan ada sahabat saya yang benar-benar profesional menjalankan tugas sebagai anggota DPRD di sana.
Tapi pikiran itu nggak sempat terkerjakan karena tertutup dengan kesibukan lainnya.

Hari Jumat, 26 Juni 2020, saya membuka mata setelah bangun tidur. Memuji Tuhan dan bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk membuka mata dan melanjutkan hidup pada hari itu.
Lalu saya membuka WA dan tiba-tiba mata saya terbelalak membaca berita dari Bu Probo Harjanti. Lalu saya membuka dinding FB Aji Chen Bromokusumo dan terkagetlah saya membaca rentetan ucapan dukacita atas kepergian sahabat saya tersebut pada Kamis malam.
Sejak itu…saya dan istri diliputi suasana dukacita.

Tuhan baik pada saya….dalam pengembaraan saya Ia memberikan banyak kawan dan sahabat. Tersebar di berbagai sudut kota dan negara….sebegitu banyaknya sehingga membuat daftar doa saya setiap hari begitu panjang kala menyebut nama mereka satu persatu.

Sahabat itu salah satunya Aji Chen Bromokusumo.
Dari “middle in the nowhere and nothing” ia muncul begitu saja dalam kehidupan saya. Tahun 2009 ketika saya sedang rajin-rajinnya menulis di Kompasiana.com, tiba-tiba muncul Sophie Mou menawari saya untuk menulis di Baltyra.com.

Setelah saya mengiyakan ajakan itu tiba-tiba saja Aji Chen Bromokusumo menyapa saya di dunia maya dengan nama pena Josh Chen atau biasa saya panggil mas JC. Dengan ramah ia memperkenalkan diri sebagai koordinator Baltyra.com, sebuah komunitas Citizen Journalism yang beranggotakan orang-orang Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Pantas saja..karena Baltyra singkatan dari Global Comunity Nusantara.

Sejak itu mas JC rajin menanyakan apa saya punya artikel yang bisa diupload di Baltyra.com. Semakin lama saya semakin sungkan ditanyai terus olehnya, sehingga akhirnya saya memberanikan diri untuk setor artikel langsung ke dia setiap ada tulisan yang sudah saya selesaikan.
Begitulah yang terjadi dalam pertemanan di dunia maya itu sehingga setor tulisan, ucapan terima kasih darinya dan artikel tayang di situs sudah menjadi “new normal” dalam kehidupan saya.

Karakter yang menarik dari mas JC adalah beliau nyaris tidak pernah mengritik artikel saya. Alih-alih mengritisi ia selalu memuji tulisan itu dan dengan senang hati mengunggah di Baltyra.com. Padahal saya selalu wanti-wanti, “Mas JC, tolong diperiksa dulu. Kalau seandainya pantas diunggah silakan, tapi kalau tidak pantas ya jangan diunggah supaya tidak memalukan Baltyra.com.

Tapi ia tidak pernah menolak artikel saya…sampai sekarang.
Bahkan ketika ada tulisan saya di FB, ia terkadang langsung mengambilnya untuk diunggah di situs tanpa minta ijin dulu ke saya. Sepertinya secara gaib ada kepercayaan dan ketulusan berkawan di antara kami.

Anehnya, sejak tahun 2009 itu saya tidak pernah berjumpa secara fisik dengan mas JC.

Ketika saya masih kerja dan tinggal di Balikpapan, seringkali ia menanyakan kapan saya ada perjalanan bisnis ke Jakarta. “Siapa tahu kita bisa ketemuan,” begitu katanya setiap kali.
Tapi kesempatan bertatap muka itu tidak pernah kesampaian. Pernah waktu itu saya ada tugas di Jakarta, ternyata ia sedang di luar kota atau ada agenda lain sehingga tidak pernah bisa bertemu secara fisik.

Baru ketika saya pindah ke Surabaya, kesempatan itu pun datang. Tanpa direncanakan dan bahkan tanpa diduga-duga sebelumnya.

Januari 2017 saya dan Pak Daradjadi Gondodiprojo ada agenda berdiskusi di Penerbit Buku Kompas. Siapa sangka di sana ada Pak Didi Kwartanada dan juga mas Aji Chen Bromokusumo. Langsung saja kami berpelukan gembira seakan-akan sahabat lama padahal baru saat itu kami bertemu secara fisik

Tahun 2017 adalah tahun spesial bagi kami.

Bulan September saat saya ada tugas kerja di Jakarta, kami bisa berkesempatan ketemu dan ngobrol lama apa saja, seakan-akan untuk menebus waktu 8 tahun tanpa ketemuan. Dan senangnya saat itu istri saya dan juga mas Iwan Kamah juga bergabung. Aduh senengnya…..sayang sekali foto dokumentasi ketemuan itu hilang entah kemana. Padahal belum tentu kami bisa ketemuan lagi secara fisik.

Dari ngobrol di darat itu saya jadi tahu bahwa mas JC wawasannya luas dengan pergaulan yang luas juga…..tapi ia rendah hati. Kami mengobrol apa saja, tentang politik, tentang menulis, tentang Baltyra, bahkan tentang filsafat dan ini yang penting…….tantangan mendidik anak-anak yang sudah beranjak remaja.

Bulan November, tiba-tiba sore itu mas JC mengirim pesan WA ke saya. Menanyakan apakah saya sedang di darat, ia mengundang saya untuk bertemu karena kebetulan ia dan cik Suzane, istrinya, sedang ada agenda di Konferensi Bahasa Mandarin yang diadakan UK Petra Surabaya.

Langsung saja saya tidak menyia-nyiakan undangan itu.
Tidak hanya bisa ketemu dengan mas JC dan istrinya, saya juga mendapat bonus….bisa ketemu pertama kali dengan Mbak Ary Hana. Istimewa sekali karena walau kami sekota toh kami juga belum sempat bisa bertemu, padahal produk sabun dan buku-buku karya kami sudah saling bertukar tempat.
Begitulah Tuhan dan semesta mengijinkan itu semua terjadi. Saya jadi tahu bahwa Cik Suzane ternyata punya Kursus Bahasa Mandarin yang bereputasi bagus. Klop dengan mas JC yang saya akui pengetahuannya luas dalam hal kebudayaan Tionghoa peranakan, bahkan sering saya meledeknya sebagai selebritas baru karena sering tampil di teve-teve, terutama pas perayaan tahun baru Imlek. Tidak hanya di acara talk show, tapi juga di acara masak-memasak. Hebat sekali talenta sahabat saya ini……

Begitulah semua terjadi, persahabatan kami berjalan apa adanya. Ketika mas JC ingin menanyakan sesuatu atau membutuhkan data tertentu, ia tidak sungkan menanyakan kepada saya. Begitu juga sebaliknya, saya menjadikan mas JC sebagai ensiklopedia berjalan kalau urusan kebudayaan Tionghoa peranakan, termasuk saya sering minta tolong dia untuk membacakan huruf-huruf mandarin yang ada di foto-foto lama dalam penelitian saya.

Sampai akhirnya ia terpanggil untuk menjadi anggota DPRD Tangerang Selatan dari Partai PSI…dan berhasil masuk.

Siapa sangka sahabat saya, yang banyak orang berharap ia kelak akan jadi politikus lurus yang cemerlang di masa depan, tiba-tiba saja dipanggil Tuhan meninggalkan kami?

Tumpahlah rasa kehilangan kami…..walaupun bukan saudara bukan keluarga, saya kehilangan seorang sahabat baik.

Selamat jalan mas Aji Chen Bromokusumo. Semoga engkau beristirahat dalam damai sejahtera bersama Bapa di Surga. Sampai bertemu kembali kelak di sana.

Saya mendoakan Cik Suzane dan ketiga jagoanmu diberikan penyertaan dan penghiburan di masa-masa sekarang dan di masa depan.
Tuhan tidak akan meninggalkan kalian sendirian.

4 Comments to "Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 2-"

  1. bagong julianto  6 July, 2020 at 11:50

    JC. ❤❤❤

  2. Dewi Aichi  5 July, 2020 at 09:40

    happy weekend pak lurah…..

  3. James  4 July, 2020 at 07:41

    good bye my friend and till we meet again one day

  4. Clara Bordji  3 July, 2020 at 22:17

    RIP Dimas Josh !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.