Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 3-

BEKERJA UNTUK KEABADIAN….(by :Osa Kurniawan Ilham)

Menulis itu bekerja untuk keabadian.

Demikian Pramoedya Ananta Toer melakukan penilaian terhadap apa yang ia sebut dengan kegiatan menulis itu.

Terus terang, Aji Chen Bromokusumo dan kawan-kawan lainnya di komunitas Baltyra.com, termasuk mas Iwan Kamah, adalah sosok yqng membuat saya berusaha dan tekun di dunia penulisan.

Sebagaimana kebanyakan insinyur minyak yang lain, saya seharusnya terbiasa untuk bermain golf, mengoleksi mobil, touring mengendai motor gede ala Harley Davidson atau hobi mahal lainnya untuk mengisi waktu ketika off.

Tapi gara-gara kenal dengan mas Josh Chen, mas Iwan Kamah dan kawan-kawan Baltyra.com saya menjadikan menulis sebagai kesenangan saya. Itu yang membuat banyak teman meledek saya orang aneh. Alih-alih punya hobi mewah seperti di atas, saya malah mengumpulkan buku, membuat perpustakaan, melakukan penelitian secara independen dan mengusahakan menerbitkan buku.

Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik, pergaulan yang baik mempertajam kebiasaanmu yang baik.

Demikian kata Kitab Suci. Persahabatan saya dengan mas JC mengasah kemampuan menulis saya walau sampai sekarang masih jauh dari sempurna. Bayangkan saja, hampir tiap minggu dulu saya sempatkan untuk selalu menulis satu artikel untuk bisa diunggah di Baltyra.com. Padahal tidak ada bayarannya lho ….cukup senang saja ketika setor tulisan mas JC selalu dengan ramahnya menerima mengucapkan terima kasih dan pujiannya serta selalu mengunggahnya di website.

Mungkin mirip dengan Pak Tino Sidin dulu yang selalu memuji “Bagus” pada semua karya yang ia terima dengan harapan bisa memotivasi yang bersangkutan untuk selalu berusaha lebih baik.

Demikianlah setelah dipanasi-panasi oleh mas Josh Chen tahun 2013 saya memberanikan diri menulis dan menerbitkan buku pertama saya, Proklamasi: Sebuah Rekonstruksi.

Saya minta mas JC untuk menuliskan pendapatnya tentang buku sqya tetsebut. Dan ia dengan senang hati memberikannya. Bahkan merasa kata-kata pilihannya cukup “marketable” saya kemudian menaruh kalimatnya di sampul depan buku tersebut. Sejak itu nama Aji Chen Bromokusumo terukir di buku perdana saya tersebut.

Ia menulis ke saya bahwa buku saya memancing dia untuk semakin semangat menyelesaikan buku perdananya juga.

Setelah beberapa bulan kemudian tiba-tiba ia mengirimkan file naskahnya dan meminta saya memuliskan penilaian saya. Saya pun dengan gembira memberikannya. Ia menaruh tulisan panjang saya tersebut di bukunya, tanpa diedit sedikit pun.

Ia termasuk yang memotivasi saya untuk terus menulis. Lalu terbitlah buku kedua saya…dan mungkin buku ketiga dan selanjutnya.

Mas Josh Chen juga saya kenal selalu mendukung Kawan-kawannya yang menulis buku dengan cara membeli bukunya.

Saya ingat sekali ia menanyakan bagaimana progres adik saya, Obed Bima Wicandra, yang saat itu sedang menulis biografi gubernur Jakarta Henk Ngantung.
Dan setelah selesai ia langsung bilang minta dikirimkam satu eksemplar untuk dibacanya.

Terakhir, tahun lalu saya berinisiatif mengajak mas JC, mas Iwan Kamah, mas Iwan Ong Santosa dan mas Daniel Supriyono untuk bersama-sama menulis buku terkait sejarah sesuatu di Jakarta. Ia dengan antusias mendukung ide tersebut dan akan mencarikan penerbit kalau sudah selesai. Tapi ia minta maaf tidak bisa ikutan menulis karena sudah sibuk sebagai anggota DPRD.

Sayang sekali karena kesibukan masing-masing proyek itu belum sempat kami lanjutkan. Mungkin nanti…..

Demikianlah jalan hidup saya berubah karena persahabatan ini. Menulis dan menulis menjadi dunia saya bila sedang off dari dunia industri minyak.

Karena itu rasanya benar bila Pram.menganggap kami yang menulis bekerja untuk keabadian. Kami mungkin akan tiada tapi tulisan kami abadi.

Hanya saya masih kaget saja, betapa cepat sahabat saya tersebut masuk dalam keabadian itu.

Tulisan-tulisannya meninggalkan jejak pribadinya: penuh dengan data dan angka berbasiskan fakta, cenderung tegas aoa adanya dan sangat kental aroma cinta Indonesia.

Ah…Kawan, saya akan rindu tulisanmu dan rindu caramu membesarkan hati dan semangat menulis kami-kami ini.
Satu hal yang pasti…..saya kehilangan sahabat yang selalu siap menjawab kalau saya tanyai seputar ketionghoaan apalagi untuk membaca huruf-huruf Mandarin yang rumit itu.

Tugasmu di dunia literasi mungkin harus berhenti di sini. Tapi sekali lagi karyamu abadi.

Selanat jalan mas Josh Chen.
Kami akan selalu merindukan kamu.

 

EULOGY FOR MR.BUTO : WHEN GREAT PEOPLE GONE TOO SOON (by : Tessa Ayuningtyas Sugito)

Hmm, where do I start? Kemarin Ratu Cendol begadang sampai jam 4 pagi buat ngurusin teknis ultah lapak yang ke-30 tahun. Berusaha untuk tidur beberapa jam saja, karena pagi ini ada online meeting dengan Pendeta di Bali untuk kelas pre-marital terakhir yang lama tertunda akibat pandemi.

Bangun jam 9.30, sangat dikagetkan dengan WA pribadi dari Kak Kornelya R. Wells kalau Koh Aji Chen Bromokusumo sudah berpulang Pk. 9.00 pagi ini. Duh sebelum nulis status ini Ratu Cendol sudah ngabisin tissue banyak banget, mewek banjir ugly cry terus dari pagi.

Super kaget, wong semingguan ini ngobrol2 terus di WA, baru juga dua hari lalu beliau WA ngingetin pesanan buat tumpeng besok. Super shock and super devastated.

Tanpa disadari sudah menjalin persahabatan dengan beliau dari tahun 2007. Awal perkenalan dengan beliau, Ratu Cendol juga ceritakan di buku gue dan Louisa Veronica Hartono. Bahkan beliau yang menulis Kata Pengantar di buku ini.

Perkenalan dan pertemuan yang sangat random, bisa dibilang campur tangan semesta. Yang pertama kali ketemu benernya bokap, di boarding room bandara Polonia. Tiba-tiba ada sosok berperawakan tinggi dan berambut gondrong ngajak ngobrol bokap, gara2 bokap abis telp-an. sm Alm nyokap pakai Bahasa Jawa. Dari situ baru tahu kalau Ko Aji orang Semarang yang saat itu masih domisili di Medan.

Setelah ngalor ngidul, bokap cerita kalau gue lagi nyari2 universitas buat kuliah food science. Lha kok ndilalah Ko Aji ini lulusan dari Wageningen, salah satu univ di Belanda yang punya fakultas pangan terbaik di dunia. Bisa dibilang gue memutuskan kuliah di Belanda setelah konsultasi dan minta saran dari Ko Aji. Bahkan sebelum gue ke Belanda, gue sama keluarga nembung dulu ke rumahnya setelah Ko Aji sekeluarga pindah ke Jakarta.

Dari situ awal perkenalan Ratu Cendol dengan dunia menulis, gue dulu orang yang paling tidak mahir dalam bercerita. Gue paling ga bisa ngarang, paling ogah berhubungan dengan sastra, nilai Bahasa Indonesia juga selalu asal lulus.

Gara-gara Ko Aji, gue mulai menulis di Baltyra.com (Global Community Nusantara); platform citizen journalism yang dibesut oleh Ko Aji, beliau punya nama pena Josh Chen, atau kita-kita suka manggil Buto, ya karena perawakannya yang tinggi besar. Dari Baltyra juga, gue bisa kenalan dengan banyak sahabat baru, orang Indonesia hebat di berbagai belahan dunia, menjalin persahabatan yang awet sampai sekarang seperti Mas Iwan Kamah, Bu Guru Wesiati Setyaningsih, Bu Dosen Miza Aslan, Mba Dewi Murni, Kak Hennie Triana Oberst, Pak Handoko Widagdo, Ko Liong Jonathan, Mba Ratna ‘elnino’ Agustina, sesama miss liliput Nia, Kak Lida Ufa, Bu Probo Harjanti, Mba Hariatni Novitasari, Mba Benedicta Moedjiani Nurmeitasari, Ci Linda Cheang Yue Lin, Pak Bos Dharmananda Lukito dan masih banyak lagi.

Tahun lalu Ko Aji mulai merambah dunia politik, banting setir dari dunia bisnis properti, mencalonkan diri untuk area Tangsel, melalui Partai PSI dan akhirnya terpilih menjadi Sekretaris Fraksi PSI DPRD Tangsel. Obrolan-obrolan seminggu ini seputar sepak terjangnya membongkar skandal Tempat Pembuangan Akhir Cipeucang.

https://megapolitan.kompas.com/…/tpa-cipeucang-tragedi-ling…

Salah satu tokoh panutan yang sangat membumi, berani melawan ketidakadilan, humanis, merengkuh semua kalangan. Sungguh terimakasih banyak buat Ko Aji sudah menjadi mentor, sahabat, tempat untuk bertukar pikiran dan bertukar tawa. We’ll treasure all the wonderful and meaningful memories for the rest of our lives.

Words can’t really describe how grateful I am, having the chance to know such a smart, selfless, kind-hearted, family-loving, loyal friend.

Words also can’t describe how sad, hurt, heart-broken and devastated I am losing a very good friend who had made such a tremendous impact in my adult life.

Our Deepest Condolences buat istri, tiga putra Buto kecil dan keluarga besar Ko Aji yang ditinggalkan.

Selamat Jalan Ko Aji/Josh Chen/Pak Lurah Buto, sampai bertemu lagi, titip salam buat Mbok kesayangan di sana ya.

#RestInPeace #RIP #BALTYRABERDUKA

 

AJI CHEN BROMOKUSUMO… (by : Dian Nugraheni)
(Celebration of Life) 

Tulalit…
Iya, aku tuh sebenere layak disebut sebagai Nyonya Tulalit. Aku sering kehilangan rasa, telat merasa, dan kadang butuh waktu untuk bisa merasa. Banyak kali aku harus recall dulu ke otakku apa-apa yang berkaitan dengan sesuatu, lalu baru bisa menghadirkan rasa itu.

Kalau harus bela diri, kenapa aku sebegitu tulalitnya, mungkin bisa kukatakan, bahwa selama hidupku, sejak kecil, aku memang sering escape from reality, membangun blok, tembok, hingga aku merasa “aman dan nyaman” di dalamnya. Lha reality-nya sama sekali ngga manis kok…Tapi ya nggak seratus persen escape, tetep aja aku berusaha menghadapi semua masalah hidupku dengan serius.

Escape from reality itu bentuknya, bagi aku, kayak, sengaja nggak mau get involved dalam hal-hal yang ga perlu-perlu amat, segera menjauh dari hal-hal yang toxic buat hidupku, dan lain-lain. Kalau kayak kotak penyimpan data memori, dengan kapasitas tertentu, maka bisa dibilang, kapasitasku emang pas-pasan, jadi hal-hal yang ga langsung bersentuhan denganku, akan aku delete karena ga bakalan tertampung dalam kotak penyimpan data memori itu.

Panjang banget intronya..

Mau nulis tentang seseorang, bernama Aji Chen Bromokusumo. Kalau mau menuliskan tentang siapa dia, lengkap pasti dari ujung ke ujung. Dia, saat kemaren-kemaren adalah anggota DPRD Tangsel dari Partai Solidaritas Indonesia, penulis buku, nara sumber lepas dalam banyak acara TV, dan lain-lain. Tapi bagiku, Aji Chen Bromokusumo, yang sering disebut sebagai Josh Chen, dan aku manggilnya malah Joseph Chen, adalah pendiri baltyra.com, sebuah blog menulis.

Baltyra.com sendiri, aku kenal kira-kira tahun 2010, pas anyaran aku di Amrik. Teman Fb-ku, Dewi Murni, bilang, “Mau ga tulisanmu dimasukin ke blog baltyra…?”

Idih, 2010, awak baru datang dari Indo, gaptek apa itu blog (sampek sekarang juga masih gaptek). Maka, bla..bla..bla.., akhirnya aku bilang, “Ambil aja tulisanku yang mana, lalu taruh di blog..” Alias, aku juga ga tau gimana cara upload di blog…

Lalu saling bertukar komen dengan teman-teman yang sering nulis di blog itu, lalu kopi darat dengan beberapa di antara mereka. Akhirnya, mungkin aku nggak terlalu aktif bertukar komen, becanda-canda “kenthir” dengan para anggota blog baltyra, sebab ternyata, akhirnya, aku mengalami perubahan hidup yang cukup keras, sehingga aku khawatir, kalau aku nimbrung guyon, ketemunya malah aku curhat, atau komenku keras, miring, sumir, dan nggak lagi “edan”. Ya, ada saat di mana aku merasa bahwa aku lebih baik diam, daripada bikin gerah..☺️

Lalu akhirnya aku “lupa”, bagaimana bersosialisasi lewat komen dengan teman-teman di blog itu, meski di antara kami masih sering bertemu di wall pribadi Facebook.

Pun pada Aji Josh Chen ini, ketika pagi itu temanku posting tentang berita lelayu bahwa Aji Chen Bromokusumo meninggal, sak kal, right away, aku kaget. Ga pernah dengar berita dia sakit, tiba-tiba meninggal. Lalu hampir semua teman di blog baltyra yang kukenal, memposting tentang belasungkawa ini, bahkan nge-tag namaku.

Aku, masih blank…Belom mampu merasakan “kehadiran Josh Chen,” meski dua hari menjelang meninggalnya Josh Chen, aku sempat buka baltyra untuk mencari tulisanku di sana, karena Note di FB kok beberapa hari blank. Pas mbuka baltyra, sekilas aku melihat bayangan Josh Chen dengan busana serba hijau, agak tosca gitu, adem, tapi dia, diam, nampak lelah.

Bla..bla..bla..setelah berita lelayu itu, aku recall otakku berkaitan dengan memoriku bersama Josh Chen. Ternyata kami pernah bertemu di Jakarta, tahun 2014. Jauh-jauh dia menemuiku, dan kutunggu di Citos saat itu.

Lalu, kemaren aku buka inbox chatku sama Josh Chen, dia pernah menyarankan aku untuk coba hidup di Canada, ketika aku menceritakan tentang perpolitikan Amrik saat ini. Katanya di sana lebih baik.

Ehh, juga ternyata 2017 ketika aku pulang kampung, dia berusaha menemuiku, sampek bilang, “Mbok tulung hubungi nomor ini (nomornya)…” Halah, ternyata aku nggak menghubunginya. Selain aku ga punya hape, saat itu aku sedang galau banget, karena mau pulang ke Amrik, Alma malah masuk rumah sakit karena tipes. Josh Chen pun menanyakan, di rumah sakit mana, bla..bla..bla..

Owalah, Josh, kamu yang baik, kamu yang sangat peduli, aku kok nggak punya kemampuan untuk merespon dengan baik. Ketoke memang aku perlu “asistant” untuk mengingatkan aku mengenai ini itu dan lain sebagainya, utamanya kalau sedang berada di luar kandang. Kalau di dalam kandang sih, urusanku cuma kerja, pulang, FBan, nah kalau pas di luar kandang, pasti sangat jauh lebih kompleks kan ya..

Okay, Josh Chen, aku njaluk ngapura ya, ora sigap dalam balas-membalas komen dan lain-lain. Marakno ketok nek aku adalah manusia yang “ora niyat”. Jane ki ya niyat, mung telanjur sering blank-nya itu agak akut. Juga marakno aku njur lalian, tenan. Aku bukan sengojo orak memperhatikan, mung aku ki ncen akhire jadi manusia sik tulalit.

Makasih banyak yo Josh Chen, atas semua semangat dan perhatianmu, padaku, pastinya ya pada semua orang, yang pernah bertemu maupun belom bertemu secara fisik denganmu.

Kebaikan hatimu itu Josh, semangatmu itu, hueebaat…Ga banyak orang kayak kamu. Perjuanganmu itu, juga..luar biasa…Otak dan pemikiranmu selalu jauh ke depan, kayak pengen kamu lakukan semua. Tapi yo, Gusti lewih sayang dirimu, Josh…apalagi kabarnya kamu sedang berurusan dengan hal “fishy” dalam perpolitikan. Wes mbuh maneh iku, Josh…

Damai di surga, ya Josh Chen.., aku yakin teman-teman akan meneruskan perjuanganmu, baik secara mandiri maupun bersama..

Maaf, tetes eluhku ki telat, Josh.., tapi yakino wes, aku sungguh appreciate terhadap semua sepak terjangmu…

NB: Jane aku meh mosting neng baltyra, tapi ya kuwi mau, gaptek, aku gak ngerti piye carane..ya wes neng kene wae sik.. <3

Foto: 2014, Ketemuan di Citos, Jakarta Selatan..
Josh Chen, aku, si Anu, sama mbak Nia Afif… <3 so sweet kabeh…

PERTEMUAN TERAKHIR .(by : Djoko Paisan)

Bangun pagi sudah di kagetkan dengan kepergian dimas Joch Chen.
Merunding seluruh tubuh Dj…p
R.I.P. dimas , semoga kau tenang bersama TUHAN YESUS KRISTUS di Surga…
Setiap pagi kita selalu bertegur sapa di WA…
Kemarin WA Dj tidak kau balas , Dj pikir … kau masih sangat sibuk…
Ternyata kau telah pergi…
Selamat Jalan dimas…
Semoga kau tenang bersama Bapa di Surga.
Semoga keluargamu di beri kekuatan. Serta penghiburan…. 😭😭😭
Tahun lalu , seperti biasa , dimas selalu datang untuk ketemu dengan Dj…
Bahkan pernah menjemput kami di bandara SuTa dan mengantar ke Hotel…
Kebaikan akan selalu kami kenang….

5 Comments to "Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 3-"

  1. bagong julianto  6 July, 2020 at 12:22

    JC. ❤❤❤

  2. Sasayu  6 July, 2020 at 00:25

    Huhuhuhu, kok ya masih sedih baca lagi. Butooooo happy2 di sanaaaa yaaaa.

  3. Dewi Aichi  5 July, 2020 at 09:43

    Selamat makan …

  4. [email protected]  4 July, 2020 at 12:59

    Selamat Siang…
    Selamat beraktifitas

  5. Handoko Widagdo  4 July, 2020 at 11:22

    JC, dikau orang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.