Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 4-

Calon Pemimpin Indonesia yang Hebat itu Mati Muda – Kenangan tentang Aji “Chen” Bromokusumo (by : Handoko Widagdo)

“Kamu serius mau masuk politik?”

“Ya Pak Han.”

“Di Banten atau Tangsel?”

“Tangsel dululah. Harus mulai dari bawah.”

“Hati-hati ya. Politik itu jorok. Apalagi Banten. Kamu orangnya keras, bisa-bisa kebablasan. Jangan kayak Ahok ya.”

“Tentu Pak Han. Harus ada yang berani menggebrak.Korupsi wis gak ketulungan. Tapi saya orangnya alim, santun dan tidak neka-neka. Pasti tidak seperti Ahok.”

“Dasar ustadz!”

“Ha…ha…ha…nyuwun donga ya Pak Han.”

Itulah percakapan yang saya ingat ketika Aji “Chen” Bromokusumo menilponku saat akan maju sebagai calon legislatif Kota Tangerang Selatan melalui Partai Solidaritas Indonesia. Aji juga menilpon saya untuk minta doa saat ia ternyata terpilih menjadi anggota legislatif di Kota yang dicintainya.

Saya mengenal Aji melalui Kompas Komuniti (KoKi) yang saat itu terbit di Kompas.com, sebelum ada Kompasiana. Ia memakai nama Josh Chen di KoKi dan Baltyra. Sejak itu hubungan saya menjadi semakin akrab. Terutama saat Aji membuat rumah Baltyra (Global Community Nusantara) yang menjadi rumah baru saat KoKi gonjang-ganjing. Ia meminta saya mengirimkan artikel untuk tayangan ujicoba. Artikel saya berjudul “Engkong” dan “Marto Sapi” menjadi artikel pertama versi ujicoba Baltyra bersama artikel karya Aji sendiri. Sejak itu saya mengunggah banyak tulisan di Baltyra yang dikelolanya. Saat ada momen tertentu, seperti ulang tahun Baltyra atau ada peristiwa yang menurut dia saya bisa membuat tulisan, dia selalu meng-SMS/WA atau menilpun supaya saya membuat tulisan khusus untuk Baltyra.

Baltyra menjadi rumah yang menyenangkan bagi kami semua. Sebagian besar teman-teman yang menulis di KoKi boyong ke rumah yang dibuat oleh Josh Chen alias Aji ini. Meski menjadi tempat yang menyenangkan, tetapi Baltyra tetap kritis. Itulah sebabnya beberapa kali Baltyra down karena diganggu oleh peretas karena memuat artikel yang sangat kritis. Server Baltyra pernah mengalami gangguan menjelang pemilihan presiden 2014 dan 2019 lalu. Server Baltyra juga down tahun 2017 saat Josh Chen mengunggah artikel “Perlawanan Koruptor dan Oligarki Berbungkus Agama dan Sentimen Etnis.” Jebolnya server di saat-saat ada artikel panas ini tentu bukan terjadi karena kebetulan. Jika server jebol, dia akan bekerja keras untuk memperbaiki. Kadang ia tidak tidur supaya server bisa normal kembali.

Saya pertama kali bertemu muka dengan Josh Chen di Kedutaan Amerika pada tahun 2009 (saya tidak ingat pasti tahunnya). Sejak itu saya sering bertemu dia. Bahkan keluarga kami menjadi ikut akrab. Josh Chen pernah membawa keluarganya ke rumah saya di Solo dua kali. Keluarga kami berdua berlibur bersama di Tawangmangu dan Sarangan. Saat itu anak-anak kami masing kecil-kecil dan menikmati wisata naik speedboat di Telaga Sarangan dan naik kuda mengitari danau.

Pertemuan di Kedutaan Amerika di Jakarta adalah sebuah kenangan indah. Saat itu saya ada meeting di USAID, sedangkan dia bekerja di USDA. Secara iseng saya SMS dia bahwa saya ada di Kedutaan. Dia berjanji untuk menjemputku di USAID setelah saya selesai meeting. Sebab tanpa ada orang dalam yang menjemput, saya tidak bisa keluyuran di dalam Kedutaan. Saya ditraktir makan siang di kantin Kedutaan. Kami berbincang akrab tentang Baltyra, tentang pertanian Indonesia, khususnya tentang perkebunan sawit yang dengan cepat meluas di Indonesia. Saat akan pulang dia mengajak saya untuk menuju kotak drop books yang bisa diambil. Saya mengambil “The Name of The Rose” karya Umberto Eco dan “Women Poverty and Aids” karya Paul Farmer, Margaret Connors dan Janie Simmons.

Aji adalah orang yang sangat membela Indonesia di bidang pertanian. Ia kritis terhadap kampanye hitam minyak sawit. Ia juga kritis dalam menanggapi kampanye hitam mie instan. Baik sawit maupun mie instan adalah produk unggulan sektor pertanian dan perdagangan Indonesia. Namun dua produk ini selalu dikampanyekan sebagai produk berbahaya bagi kesehatan manusia. Ia menulis dua artikel panjang dengan judul “Mie Instan & Minyak Goreng” di Baltyra untuk mengkonter informasi menyesatkan tentang bahaya mie instan dan minyak sawit. Dalam membuat tulisan, ia tidak asal njeplak – meminjam istilah yang dia pakai saat mengomentari tulisan yang tidak berbasis data.

Saat menulis tentang minyak sawit, ia mengajak saya dan Iwan Kamah untuk menemui Bungaran Saragih mantan Menteri Pertanian di era Megawati. Pak Bungaran Saragih menjelaskan kebijakan memperluas kebun sawit sebagai strategi membangun ekonomi Indonesia setelah minyak bumi dan sektor tambang tidak mungkin menjadi sumber devisa yang memadai untuk membiayai APBN ke depan. Dalam wawancara tersebut Pak Bungaran merasa bangga karena telah memberikan kontribusi bagi masa depan pendapatan negara , tetapi juga merasa bersalah karena dalam pengembangan perkebunan sawit tidak terkontrol. Pengembangan perkebunan sawit merambah hutan-hutan yang seharusnya tidak dibuka, termasuk habitat orangutan. Itulah sebabnya untuk menebus dosa, Pak Bungaran Saragih memilih bergabung dengan gerakan penyelamatan habitan orangutan.

Puncak dari perjuangannya dalam membela pertanian Indonesia adalah saat dia memutuskan keluar dari USDA. “Wis…gak isa diteruske. Data lapangan yang saya laporkan selalu minta untuk diubah untuk menyenangkan Washington.” Tugas Aji di USDA adalah untuk melaporkan data perkembangan pertanian khususnya kopi, kakao dan kepala sawit. Ia juga memperhatikan impor kedelai dari Amerika ke Indonesia.

Karena saya kenal Aji melalui aktifitas menulis, maka hubungan saya lebih banyak diwarnai dengan urusan tulis-menulis. Saat ia menyiapkan naskah buku tentang peran peranakan tionghoa dalam kuliner nusantara, saya diminta untuk memberi masukan sejak naskah tersebut masih dalam bentuk artikel-artikel terpisah. Setelah membaca naskah awal, saya memberi usul outline buku tentang kuliner yang akan ditulisnya. Sebab artikel yang dikumpulkan menjadi naskah buku tersebut isinya lompat-lompat. Dia menanggapi usulan saya dengan sangat rendah hati: “Haha…justru itu aku minta pak Hand jadi advisor soal runutan isi, aku sadar pating penthalit, karena nulisnya kayak bendungan dhadhal, yang selama ini di otak, catatan kecil, ujug-ujug mak-brol menemukan exit lepas…” Ternyata outline yang saya usulkan yang kemudian dipakainya dibuku yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Ia terpaksa menulis beberapa tambahan artikel karena mengikuti outline yang saya sarankan. Bukan hanya soal outline, ketika harus memilih judul, Josh Chen mengajak saya untuk ikut memikirkannya. Saya mengusulkan dua pilihan judul, yaitu: “Lidah Tionghoa Boemboe Noesantara” atau Lidah Tionghoa nan merindu: Kuliner peranakan Tionghoa di Nusantara.” Akhirnya setelah berdiskusi beberapa hari judul “Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara” yang dipilih. Buku “Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara” tersebut saya pilih menjadi buku ke-500 yang saya resensi. Josh Chen sangat senang saat saya sampaikan bahwa bukunya akan menjadi resensi saya yang ke-500. Tak lebih dari 2 jam sejak resensi saya terhadap bukunya tersebut saya kirim pada tanggal 18 Mei 2020, artikel telah diunggah di laman Baltyra.

Setelah buku “Kuliner Peranakan Nusantara” terbit, Josh Chen mengajak saya, Iwan Kamah dan De Aviantari untuk berkolabirasi menerbitkan tulisan-tulisan terpilih dari kami berempat yang sudah diterbitkan di laman Baltyra. Kami berempat sering berkumpul di Jalan Tebet Dalam IV-D No 5A, dimana saya berkantor dan sekaligus tinggal. Saat itu saya Doktor (mondok di kantor). Maka jadilah buku “Indonesia Amnesia.” Buku ini berisi tulisan-tulisan ringan tentang bagaimana masyarakat Indonesia mampu menyelesaikan banyak masalahnya sendiri tanpa bantuan dari negara yang amnesia. Negara (saat itu) seperti tidak hadir untuk membantu masyarakat. Malah negara menjadi penyebab kekacauan bagi warganya.

Aji menawariku untuk ikut menulis tentang Ahok bersama-sama dengan teman-teman penulis yang biasa menerbitkan bukunya di Gramedia group. Namun saya bilang saya tidak bisa ikut menulis karena saya tidak terlalu tahu sosok Ahok. Daripada tulisan saya ngawur, lebih baik saya tidak ikut menulisnya.

Namun saat ia menawari saya untuk menulis tentang Jokowi, saya menjawab bahwa saya akan memikirkannya. Jawaban saya melalui WA tersebut langsung ditanggapinya: “Maturnuwun Pak Han. Pak Han bisa menulis tentang Jokowi dan Cino Solo.” Saya bilang bahwa saya tidak kenal masyarakat Tionghoa di Solo, karena saya bukan orang asli Solo. Tetapi kalau tentang kiprah Jokowi dalam pengembangan literasi di Indonesia, saya mungkin punya bahan. Dia pun setuju saya menulis sosok Jokowi dari sisi peran beliau dalam membangun literasi di Indonesia. Maka tulisan saya berjudul “Jokowi dan Buku” menjadi salah satu artikel yang dimuat bersama dengan tulisan 17 penulis lainnya. Buku #KamiJokowi” terbit pada tahun 2017 di Gramedia Pustaka Utama.

Bukan hanya menulis bersama, Josh Chen juga sangat membantu saya saat saya menulis memoar. Ia menjadi pembaca kritis saat draft pertama “Anak Cino” selesai saya tulis. Josh Chenlah yang mengenalkan saya kepada Iwan Santosa dan kemudian Theresia Emir sehingga akhirnya buku “Anak Cino” bisa terbit di Gramedia Pustaka Utama. Perjuangannya untuk menyemangati saya yang sempat mutung karena buku tersebut terbengkalai tanpa kejelasan kapan akan diterbitkan sungguh luar biasa. Josh Chen terus mencari cara supaya buku saya tersebut bisa terbit.

Saya telah lupa bahwa saya punya naskah buku yang belum jadi terbit. Sejak proses penuh liku mencari tempat penerbitan yang tak lancar di tahun 2013, saya tak lagi menyentuh naskah Anak Cino. Sampai suatu hari di awal tahun 2016, Josh Chen mengirim SMS kepada saya. Ia menanyakan apakah saya masih berminat untuk menerbitkan Anak Cino. Dengan asal saja saya ketik “Masih.” Kemudian Josh Chen tilpon saya dan mengatur pertemuan dengan “Orang Gramedia” sambil makan siang. Josh Chen minta supaya saya membawa print out naskah Anak Cino untuk diserahkan kepada orang Gramedia, yang ternyata adalah Ibu Theresia Emir. Kami pun berbincang sambil makan siang dan saya menyerahkan print out naskah kepada Ibu Thress. Beliau membaca sekilas dan manggut-manggut sambil sedikit senyum-senyum. Setelah selesai berbasa-basi akhirnya saya pamit karena masih ada pekerjaan di kantor. Sambil menjabat tangan saya dengan erat, Ibu Thress berkata: “Saya baca dulu ya. Sepertinya menarik bukumu.” Dan sejak itu bayi yang sudah lama tak bergerak itu kembali menendang-nendang di kandungan.

Benar saja. Suatu hari di bulan Mei 2016 saya mendapat SMS dari Ibu Thress yang mengucapkan selamat karena naskah saya lolos di Gramedia. Alhamdullilah haleluyah! Melalui email Ibu Thress memberikan nama editor yang akan menangani buku saya. Saya pun dengan penuh semangat segera membalas email Ibu Thress dengan ucapan terima kasih dan tak lupa memperkenalkan diri kepada editor yang alamat emailnya dicantumkan pada kolom cc. Dan naskah pun segera dibenahi. Sang editor bagai seorang dokter kandungan yang memosisikan bayi supaya bisa lahir dengan mudah dan cantik jelita. Anak Cino lahir karena kegigihan Josh Chen dalam membantu saya.

Bersamaan dengan penulisan memoar saya, Aji juga berencana menulis memoar. Dia mulai mengirimkan tulisan-tulisan yang disiapkannya untuk menjadi isi memoarnya kepada saja pada tanggal 5 Mei 2012. Dia sangat ingin menulis memoar. Sebab ia menerima amanah dari ayahnya untuk memegang buku nenek moyang. Josh Chen merasa nyaman untuk mendiskusikan rencana penulisan memoar dengan saya, karena pada saat yang sama saya juga sedang menulis memoar yang saya konsultasikan kepadanya.

Terima kasih juga sudah memberikan inspirasi n pencerahan untuk penulisan buku saya…

Info ini buat Pak Hand saja…saya lagi buntu mulai dari mana penulisan buku tentang kisah seorang peranakan Cina – Jawa (Buto ini lho…hahaha), kisahnya sudah ada, tapi bingung mulai dari mana…judul’e juga bingung…ada ide? Kisah ini dated back dari 1742 tahun di mana leluhur saya marga TAN mendarat di Semarang! Ada catatannya lho…tertulis dengan mopit, asli dari tangan leluhur tsb…ya jelas kisah ini berdasarkan ingatan n khayalan saya nantinya…mohon petunjuk dari Suheng…hihihi….(kalimat-kalimat ini saya copy dari email yang dia kirimkan kepada saya).

Dia merasa belum siap untuk menulis bagian sedih keluarganya, yaitu saat ayahnya ditahan tanpa pengadilan. Ia bercerita bagaimana mamanya harus menjadi tulang punggung keluarga. Saya menyemangatinya untuk menulis bagian-bagian yang dia ingat dan siap untuk ditulis dulu.Mula-mula dikirimnya email tentang sejarah nenek moyangnya yang datang ke Semarang. Saya mengatakan bahwa untuk menulis memoar tidak harus urut. Apa saja yang diingat segera ditulis. Nanti setelah semua bahan dirasa cukup, bisa dirangkai dan diedit. Ia menuruti usulan saya, Maka beberapa tulisan yang dibuatnya dikirimkan kepada saya. Ada empat tulisan yang dikirim kepada saya yang disiapkan menjadi bagian buku memoarnya. Keempat tulisan tersebut berjudul: (1) “Pak Mo, Mbok Dul dan Nasi Goreng Babat,” (2) “Lost in Space,” (3) “Annus Horribilis et Annus Mirabilis” dan (4) Era Rekaman.

Tulisan pertama mengisahkan pengalamannya bersama papanya waktu kecil. Papanya sering memboncengkannya naik vespa untuk jalan-jalan sambil berkuliner. Tulisan kedua menggambarkan masa SMA-nya yang pernah mengalami “hilang dari dunia nyata” saat bepergian dengan pacarnya ke Bandungan. Tulisan ketiga mengisahkan bagaimana ia terpilih menjadi salah satu pelajar yang berkesempatan mengunjungi Taiwan melalui program Guan Mo Tuan. Sedangkan tulisan keempat mengisahkan bagaimana dia harus mencari uang melalui memproduksi kaset lagu mandarin saat Pemerintah melarang import kaset lagu mandarin, padahan pangsa pasarnya masih sangat tinggi. Ia berkeliling ke toko-toko kaset di Semarang untuk menawarkan jasa perekaman lagu-lagu mandarin dalam kaset C-90.

Ia hanya sempat mengirim 4 artikel yang disiapkannya sebagai bagian dari memoar. Saat saya tagih artikel lainnya, ia hanya berjanji untuk lebih serius menulis artikel-artikel sebagai bahan memoarnya. Sayang sekali proyek penulisan memoar ini terbengkalai karena kesibukan pekerjaannya dan kemudian sebagai anggota dewan perwakilan rakyat daerah.

Aji adalah 100% Indonesia, tetapi juga 100% keturunan Tionghoa. Bagi dia menjadi Tionghoa bukan halangan untuk menjadi 100% Indonesia. Sebagai keturunan Tionghoa ia aktif di organisasi Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (ASPERTINA). Dia juga mengenalkan saya dengan para tokoh di Aspertina. Selain berkiprah di Aspertina, Aji adalah langganan TV swasta untuk urusan kuliner Tionghoa. Ia sering manggung di RCTI, SCTV, Metro TV dan TV swasta lainnya jika ada acara hari besar Tionghoa seperti Imlek, Festival Kue Bulan dan Peh Cun. Sambil mempraktikkan memasak, ia menjelaskan makna-makna makanan yang disajikan dalam berbagai perayaan tersebut.

Sebagai orang Indonesia ia lantang menyuarakan keadilan. Dia sangat benci dengan radikalisme dan korupsi. Lulusan Wageningen ini bisa marah besar jika membahas masalah radikalisme dan korupsi. Ia bahkan mengajak warga Tionghoa lain untuk ikut berperan mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. “Wis ora jamane cino wedi kerja di luar dagang,” katanya suatu hari kepada saya. Pendapatnya itu dibuktikan dengan pilihannya untuk masuk politik. Dia sangat terinspirasi oleh Ahok. Namun dia juga sadar bahwa dia harus menjaga mulut, supaya tidak “terpeleset” seperti Ahok. Dan janjinya kepada saya untuk santun saat dia memilih untuk berjuang dijalur cadas ini dibuktikannya saat mengadvokasi turap penyangga tempat pembuangan sampah yang jebol dan mencemari Sungai Cisadane. Ia gigih. Ia mengumpulkan banyak fakta dengan berkonsultasi dengan banyak pihak. Ia keras tetapi tetap santun. Dia membeberkan fakta temuannya kepada khalayak, khususnya para konstituennya di Tangerang Selatan. Dia bersuara tegas di sidang-sidang DPRD. Dia bersih, tidak mau menerima suap. Beberapa kali saya mengingatkan untuk berhati-hati karena masalah jebolnya turap penyangga sampah tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan penguasa. Dan ia menjawab “lilahi taallah Pak Han.”

Tanggal 25 Juni lalu tiba-tiba engkau berpulang saat engkau masih sibuk mengurusi jebolnya turap tanggul Tempat Penimbunan Sampah Kota Tangerang Selatan. Kami semua terkejut dan tidak percaya. Padahal dua hari sebelumnya kita masih bercanda di group WA.

Selamat jalan kawan. Meski singkat, hidupmu telah menjadi teladan.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 4-"

  1. [email protected]  7 July, 2020 at 14:15

    tak test komentar lagi pak hand…. sampe?

  2. [email protected]  7 July, 2020 at 14:12

    coba tak test pak hand….

  3. [email protected]  6 July, 2020 at 13:50

    mungkin dia nyalon politik di surga jg….

  4. bagong julianto.  6 July, 2020 at 11:18

    JC. Sudah di Surga.

  5. Kita  6 July, 2020 at 10:31

    … damai bersama malaikat di sana …

  6. Kita  6 July, 2020 at 10:29

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.