Dari CITIZEN JOURNALISM Untuk JOSEPH CHEN (from CJ to JC) – part 5-

Selamat Jalan Sahabat Ki Lurah, (by EA Inakawa)

 

Jejakmu, adalah sebuah kisah yang tak pernah usai

Selalu menyapa dibening pagi lewat alunan penamu

Keberadaanmu bukanlah waktu yang singkat

Kita telah bersama sejak Koki terlahir

Sebuah lintas sejarah yang tak mampu terucap kenangan

Namamu adalah sebuah kisah Ki Lurah,

Tentang persahabatan dibalik terali sepi sejak kau hijrah memasuki rimba politik, kami mulai kehilanganmu

Tentang kerinduan kami yang tak mungkin sama

Tentang rindu kami yang tak pernah usai

Kepergianmu begitu tiba tiba,

Padahal jejak sepekan usai masih berbekas ditelinga ini kala kita berdiskusi tentang Tragedi Lingkungan

Tak kan ada lagi candamu

Tak kan ada lagi jawaban kritismu

Tak kan ada lagi nyanyian jurnalismu

Tak kan ada lagi senyum khasmu di Video Call

Mendadak semua terdiam sesaat sepi mengejar Matahari

Selamat Jalan Sahabat terbaik,

Selamat Jalan sang pencetus kata Baltyra

Selamat Jalan Jurnalis terbaik kami

Damailah di Surga dalam ke abadianmu

Doa Kami senantiasa ikhlas mengiringi perjalanan mu

Sejatinya kami tidak pernah melupakanmu, bersama semangat & dedikasimu kita telah bersama sejak KOKI berdiri sampai oleh sebuah moment inspirasi mu kita berkumpul kembali mempersatukan kami dirumah kita Baltyra

Satu hari nanti, rasanya sungguh seperti rindu yang menggelitik ketika kami mengingatmu, kenangan ini bagaikan pelita yang memberi Motivasi dalam yakin sepenuh jiwa, menembus ruang & waktu dari apa yang membuatku untuk selalu menulis pada detik detik tak bertitik ketika rindu mengingatmu,

 

Semoga kelak kita dipertemukan kembali di Taman Surga, aamiin

Salam Setepak Sirih Sejuta Pesan

 

Catatan : Aji Kristi Bromokusomo

Anggota DPRD Tangerang Selatan dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia ( PSI )

Meninggal Dunia Pada Tanggal 25 Juni 2020 jam 22.40 karena sakit.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan tempat yang layak sesuai amal ibadahnya, di ampunkan atas semua salah & khilafnya, dan bagi keluarga yang ditinggal tabah menghadapi musibah ini,aamiin.(EA Inakawa)

 

AJI ( by : Vera Ernawati)

Kabar duka itu kudapatkan dari laman Facebook-ku Jumat lalu. Membacanya buatku tak percaya. Secepat itu kamu pergi.

Rasa kehilangan itu pun hadir.

Tapi segera kuputuskan tak mau larut dalam emosi. Sebab selalu kuyakini dunia ini hanya kesementaraan. Tak ada yang abadi. Pertemuan dan perpisahan terjadi sepanjang masa. Begitu juga dengan kelahiran dan kematian. Dan semua, menjadi kejadian yang kesekian.

Namun karena rasa tak percaya yang begitu kuat, akhirnya kuputuskan untuk menghubungi seseorang.

Dia sakit apa? tanyaku singkat.

Sejak itu, duka itu, tak mau pergi.

Tiap buka laman Facebook banyak kujumpai tulisan orang-orang yang mengenalnya. Tulisan panjang maupun pendek. Membacanya begitu menggugah perasaanku. Mereka mengisahkan tentang awal perjumpaan dengannya, kecintaannya pada budaya, tentang bukunya, Peranakan Tionghoa Dalam Kuliner Nusantara. Tentang kesehariannya, bagaimana ia mencintai keluarga dan menjalin persahabatan dengan banyak orang, hingga ia menjadi seorang legislatif Kota Tangerang Selatan, dan sepak terjangnya saat ia sedang melawan dinasti besar, begitu pengakuannya pada banyak orang, yang terbungkus dalam skandal TPA Cipeucang.

Alih-alih berduka, aku lebih takut lagi kehilangan kenangan tentangnya. Maka kuputuskan malam ini ingin menulis obituarinya. Tapi aku kehilangan kata-kata. Aku tak tau harus memulai dari mana. Aku mulai sibuk mencari dan mencari. Kukumpulkan data, kubuka E-mail, kubaca lagi satu per satu percakapan kami di-WhatsApp, sampai kotak pesan di-Instagram pun tak luput dari pencarian. Semua kubaca satu per satu. Semakin kubaca semakin dalam lagi rasa kehilanganku. Tak ada satu kata pun tercipta.

September 2019 adalah percakapan kami yang terakhir di-WhatsApp. Saat itu aku masih sempat menggoda profile picture-nya yang lebih cocok sebagai Abang None Tangsel, karena perawakannya yang tinggi terbalut dengan jas dan peci. Ganteng dan cantik, godaku. Dia hanya tertawa dan membalas godaanku, “Sayang tukang foto favourite-ku nun jauh di sana.” Dia memang acap kali menyebutku sebagai tukang foto favourite-nya, mungkin karena hasil jepretanku yang ia gunakan untuk dijadikan foto biodata di bukunya, Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara.

Ia seorang teman yang baik. Apa yang dikatakan oleh teman-teman di laman Facebook-nya memang benar adanya, ia memang seorang sosok yang baik. Ia begitu perhatian. Selalu menyapaku lebih dulu, menanyakan apa kabarku setiap tahun. Tidak pernah alpa. Dia tidak pernah lupa. Hari ini aku baru menyadari bahwa ia tidak hanya seorang teman yang baik, ia lebih dari itu.

Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan?

Inilah kehilangan. Aku tak bisa lagi bercengkerama dengannya.

Selamat jalan, Ko Aji Chen!

Jangan lupa sesekali tanyakanlah kabarku dari atas sana.

RIP JC. (by: Upai(Robert Linggoputro))

Sama seperti Harry Lukman saya juga dulu sempat aktif di KOKI yang disediakan almarhumah Mbak Zeverina. Disitulah saya berkenalan di dunia maya dengan JC dan sobat2 lainnya, Enonk, Pak Pirda, Betty, Mbak Dewi di Kuching, Prabu dll. Namun, karena saya cuma punkawan, setelah pensiun tidak berani rasanya menulis disini.

Maka sungguh terkejut saat kemarin membaca berita bawha JC sudah berpulang, padahal baru beberapa saat sebelumnya saya membaca kalau dia sibuk sebagai anggota DPRD inspeksi ke sana kemari.
Saya tidak sempat bertemu langsung dengan JC, cuma tau saya dari kegiatan2nya memajukan budaya2 peranakan, beliau adalah orang yang sangat nasionalis dan cinta tanah air.

 

Selamat jalan Josh Chen. (by : Janto Marzuki, Stockholm Sweden.)

Kenal beliau, JC lewat KoKi Kolom Kita dibawah naungan kompasdotcom asuhan alm Zeverina. Tahunnya? Th 2007 seingat saya. Saya juga JC cukup aktif menulis diwaktu itu, tentunya dengan ‘karakter’ tulisan khas masing2, dapat dikata hampir setiap minggu kami sempatkan untuk bisa menulis.

KoKi Kolom Kita merupakan tempat berkumpulnya kita2 yang belajar untuk berani menulis, bercerita meskipun kita kebanyakan tidak mempunyai profesi atau latar belakang pekerjaan sebagai penulis apalagi sebagai wartawan, cocoklah jika dinamakan Citizen Journalism.

Di tahun 2009 saya ada kesempatan untuk mudik dan bersamaan dengan itu saya manfa’atkan waktunya sekalian blusukan kebeberapa negara di Asia. Dan sewaktu saya lagi berada di Jakarta saya kontak dan untuk bisa ketemu muka dengan JC.

Kami tentukan harinya dan terjadilah pertemuan kami, saya, JC dan juga ditemani oleh Lida Ufa. Saya diajak main kerumahnya dan ketemu dan berkenalan dengan istri dan anak2-nya. Kemudian saya ditraktir makan Sego Pecel asli Madiun, Madiun kota kecil dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Weleh… makanlah kami sego pecel, rempeyek dan minumnya es dawet dihari itu!

Kolom Kita entah apa alasannya ‘dihentikan’ dan sekarang diganti dengan yang namanya Kompasiana. Baltyra muncul setelah Kolom Kita menghilang, JC pernah beberapa kali mengajak saya untuk mau menulis di Baltyra. Dengan kerendahan hati terpaksa saya tolak mengingat saya mau mencoba konsentrasi untuk mendalami tentang Photography. Jujur, hobi seakan ‘Tukang Poto Keliling’ telah saya jalani sampai sekarang. Menjadi tambah kaya, jelas tidak, tapi kalau pengalaman dan tidak terlalu gampang nggumunan ya. Sama dengan sewaktu aktif di KoKi, dengan memotret saya dapatkan kepuasan batin dan mencoba berbagi hasil jepretan saya terutama dari berbagai tempat2 menarik yang berhasil saya kunjungi dan abadikan. Termasuk melihat didalamnya dari aspek kehidupan dan budaya dari berbagai pelosok dunia.

Sedih kemarin ketika saya mendapatkan ‘message’ dari mbak Anastasia Esti Yoeswoadi yang memberitahukan bahwa JC telah meninggalkan kita. Begitu mendadak, begitu cepat. Pasrah, memang mau bagaimana lagi, semuanya ada ditangan Tuhan. Tuhan yang menentukan, sedangkan kita berusaha sebaik2nya.
Tidak mengira pertemuan pertama saya dengan JC diketika itu, di th 2009 juga menjadi pertemuan yang terakhir kali, sedih…

Ini saya lampirkan foto jepretan saya dari Josh Chen ketika itu di th 2009.

Selamat jalan sobat, selamat jalan JC, semoga arwah anda berada diketenangan dan mendapatkan tempat disisi-Nya.

Salam untuk semuanya dimana anda berada,

I OWE YOU (by : Iwan Kamah)

AWAL Nov 2019 secara tak sengaja di Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), saya melihat poster diskusi 70 Tahun Hubungan AS-RI di lobby.

Saya langsung hadir ke diskusi yang diselenggarakan oleh Kedubes AS Jakarta dan Perpusnas itu.

Salam diskusi dengan pembicaraa Romo T. Bhaskar Wardaya (ahli sejarah) dan Asep Kambali ( komunitas historia), saya bertanya, perayaan hubungan 70 Tahun AS-RI ini harus dibukukan.

“Oh Iya, ya… ysulan menarik”, kata pembicara. Sepertinya hanya sampai situ usulan saya. Itu yang saya nilai. Tak ada gerak untuk melakukannya.

Awal Januari 2020 usai rumah saya kebanjiran (kulkas dan meşin cuci rusak), saya hubungi Josh Aji Chen Bromokusumo. Cerita tentang hal ini.

Maksudnya, di baltyra, banyak artikel ttg hubungan AS-RI. Kıta pilih dan edit, lalu jadikan buku.

“Ayı! Bikin aja!”, tulis Aji dalam pesan tertulisnya kepada saya.

Lha, Aji sudah nggak ada…

Lalu gimana?

 

TERUSLAH BERSAHABAT SAMPAI ALLAH BERKATA WAKTUNYA PULANG (by : Ambarsari)

Ketika ada kesempatan, pergilah bersama teman teman lama.
Berkumpul – kumpul, bukan sekadar makan, minum dan bersenang, senang tetapi ingat, Waktu hidup kita semakin singkat. Maka dari itu, bangunkanlah Persaudaraan

Mungkin lain waktu kita Tidak akan bertemu lagi.

Mungkin lain waktu kita sudah semakin Susah untuk berjalan.

Umur itu Seperti es batu, Dipakai atau tidak akan tetap mencair dan berakhir.

Begitu juga dengan umur kita. Digunakan atau Tidak Digunakan, umur kita akan tetap berkurang, dan Akhirnya kembali ke hadirat ILLAHI.

Kita akan menjadi tua, sakit, dan meninggal.. Jalani hidup ini dgn ceria, sabar dan santai.

Jangan suka mau menang sendiri, sementara orang lain selalu salah.

Jangan buang sahabat cuma karena tak sepakat.

Satu keburukan teman, bukan bererti hilang sembilan kebaikannya.

Perbanyaklah waktu untuk berkumpul dengan teman teman dan saudara saudara kita.

Siapa tahu mereka nanti akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Buanglah jauh jauh sifat egois dan iri hati

Terimalah kekurangan dan kelebihan dari sahabat.

Bertemanlah dengan apa adanya, bukan karena ada apanya.

Nikmati semua waktu, senda dan tawa. Hargai semua perbedaan. Percayakan kemampuan teman kita.

Jaga perasaannya, tutupi aibnya. Bantu ketika dia jatuh, Sediakan bahu ketika dia menangis.

Tepuk tangan dan gembira ketika dia sukses. Sebut namanya dalam doa kita.

Bertemanlah dengan hati yang baik dan tulus. Ketika hatimu baik dan tulus, percayalah, Allah juga akan selalu bersamamu.

Teruslah bersahabat sampai Allah berkata Waktunya pulang… 

Selamat Jalan Bro Aji Chen Bromokusumo Sahabat Seperjuangan di PSI.. Damailah bersama Tuhan-mu di surga-Nya… Aamiin

 

AJI (by : Enief Adhara)

Kepergian Aji Chen Bromokusumo membuat banyak sahabatnya kaget, including me. JC adalah Lurah dari Baltyra yang membernya ada di seluruh dunia.

Gw salah satu orang yang tulisannya masuk ke web resmi Baltyra, padahal tulisan gw sangat retjeh. Tidak peduli tata bahasa dan suka suka. Tapi JC selaku Lurah Baltyra menganggap tiap tulisan gw itu kocak. Molai Tumpuk Artati, Cinta Udin hingga Marintan. Dibaca hingga ke manca negara berkat Baltyra, sekalipun gw ini selalu menolak disebut penulis, secara semua itu sebatas hobi amatir aja

Kita sering ketemu di acara acara yang keren, bukan acara retjeh apalagi abal abal, JC sangat luas pergaulannya, so international. Almarhum sangat ramah dan baik.

JC juga pakar kuliner peranakan, sering tampil di berbagai acara TV, tak sebatas tau sejarah, tapi bisa juga memasaknya dengan sempurna. Almarhum JC memang sophisticated

Sumtimes, saat seseorang yang gw kenal tiada, tetiba muncul ribuan kenangan, betapa sangat berharga tapi tak disadari saat masih bernyawa seolah semua wajar. Hingga kematian datang memisahkan kita, di situ kenangan indah hadir pelan pelan dan terus terkumpul dan membuat airmata ini keluar, kenangan manis kadang sangat menghukum kalbu, seolah gw berada dalam detik tak bertepi, ingin kembali ke waktu itu tapi gak mungkin.

Well tak terasa airmata keluar juga, apapun JC bukan kalangan remeh, pergaulannya yang sangat berkelas merupakan cerminan diri gw, yang bergaul dengan siapa aja, selama positif dan bisa menambah wawasan.

Selamat jalan JC, terima kasih udah menerima diriku dalam keluarga besar Baltyra.

Remember, This world is just temporary, We will meet them in another world. Always think that they smile at us from the heaven. Orang sepertiku ini, sangat beruntung bisa mengenal seorang sepertimu JC

Foto ini saat kita kumpul di acara bedah buku karya penulis dari Belanda, JC paling kiri, gw, Kak Iwan Kamah, Bu RT Ratna ‘elnino’ Agustina dan Hilmi masih piyik

AJI (by: Sekartaji Suminto)

Pagi-pagi terbangun dan menemukan berita mengejutkan yang membawa kesedihan mendalam, seorang teman, sahabat, sodara, dan entah bisa disebut apa lagi, seseorang yg kusayangi dgn segenap hati, lurah desa koplak, berpulang, kembali ke rumah Tuhan….doa terbaik menyertaimu pak Lurah buto JC…semoga terang jalanmu, dan bahagia sampai di rumahNya….sampaikan salamku untuk Zeverina❤️❤️love for u both

 

SELAMAT JALAN, KAWAN (by: Gunawan Susanto)

setiap kali mendengar kabar seorang kawan meninggal dunia, perasaan tak keruan menyeruak. dada menyesak. sedih jelas. namun ada sejenis kesedihan yang menyerikan, yang menggerumiti ulu hati. kenyerian itulah yang saya rasakan siang ini ketika membaca kabar duka: Aji Chen Bromokusumo meninggal dunia.

kami belum pernah bertemu, meski telah berkawan bertahun-tahun di jejaring pertemanan ini. dia ahli masak, paham seluk-beluk dunia kuliner. dia politikus, juga penulis yang baik. dia lurah grup BALTYRA.com, tempat saya bergabung, meski tak aktif-aktif amat; belakangan cuma sesekali mengintip unggahan kawan-kawan.

kini, saya berharap: kelak, di surga, bisa berjumpa dia. ya, saya ingin kita bertemu, chen. saya ingin mengobrol dengan sampean soal makanan, bukan perkara lain. saya ingin tahu komentar atau penilaian sampean setelah menikmati sambal terasi dan sayur asam masakan saya.

selamat jalan, kawan, selamat jalan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.