10 Tahun Terakhir & Bengawan Solo

Siapa sih yang tidak kenal dengan lagu “Bengawan Solo” disini? Saya rasa semuanya pasti kenal dan pernah dengar dengan lagu legendaris tersebut.

Tapi pernah kan anda mendengar lagu ini di nyanyikan oleh band bule dan audience nya bule semua? Lalu lihat para opa & oma bule berdansa ria sambil mendengarkan lagu legendaris ini? Saya saksikan sendiri dengan mata kelapa saya sendiri 3 tahun yang lalu di Negeri Belanda. Dan merinding rasanya……ini cerita lengkapnya……

Tetapi sebelum saya cerita kesono, mungkin banyak sekali dari anda yang ingin tanya ke saya, kemana saja bung HL 10 tahun belakangan ini?

OK, that’s a fair question and I ought to give you my explanation.….

Pada tahun-tahun waktu saya active di KOKI; 2006/2007 sampai 2009/2010 (kurang lebih). Saya merasa kalau karir saya sudah datar. Istilahnya “Career Plateau” dimana saya merasakan kejenuhan yang luar biasa tiap hari duduk di kantor, doing the same thing over and over again every single day from 9 to 5. It was so mundane!!   

I’m the type of person who thrives for success, I need a new challenge in my professional career. I’m the type of person who always going for extra mile just to get ahead of myself.

I wasn’t very happy with my professional career about a decade ago. Padahal di kantor yang lama posisi cukup bagus, gaji lumayan OK, kerja santai (sangkin santai nya bisa ber KOKI ria tiap hari he…he…he…) and I had a very secured job. Tapi semua itu TIDAK membuat saya bahagia. Pada saat saya keluar dari kantor saya yang lama di downtown Washington, D.C banyak rekan kerja sekantor yang bertanya ini kepada saya, “Why did you do it? Why would you wanna rock the boat?” Karena kebanyakan orang kalau sudah bisa kerja di tempat saya dulu, lalu akan kerja disono sampai pension karena benefits nya bagus. Tapi ya itu tadi, saya tidak pernah merasa PUAS. Ketika itu usia saya baru mendekati 40 tahun, masih muda kan waktu itu? he…he…he… Makanya saya pilih banting setir waktu itu. 

Rock the boat merupakan American Idiom yang artinya melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan dan mungkin akan membahayakan keadaan stabil pada saat itu.

Seiring dengan bubarnya KOKI saya dapat kerja yang baru dengan tanggung jawab yang sangat besar, tetapi it’s very rewarding financially!! I decided to take the offer and I was looking forward to the journey ahead and I did make an irrevocable commitment to my new employer and finally left my old employer – my comfort zone.  

Looking back 10 years later, it was the best decision made on my professional career and I have absolutely no regret to be where I am today.

Memang pada masa masa pertama waktu kerja di tempat baru agak sulit juga karena kami tidak punya kantor, jadi tiap hari WFH terus. Mungkin anda sekarang mengalami WFH karena COVID-19, saya sudah WFH sejak 10 tahun yang lalu he…he…he… teman sekerja saya TIDAK ADA yang di satu kota dengan saya, tetapi mereka tersebar di seluruh Amerika dari Chicago, Boston, New York, Atlanta, Houston, San Francisco, Denver, Honolulu dan bahkan kota-kota di manca negara seperti Cairo, Hyderabad, Bangalore, Chennai, Manila, São Paulo, Santiago, everywhere! Akibatnya, karena WFH tapi harus berinteraksi dengan berbagai individuals di manca negara, saya bisa kerja jam 6 pagi atau jam 12 malam karena perbedaan waktu tsb. It’s truly a global virtual team and this is what globalization means! I had to make some adjustments in my life but at the end of the day, it’s very gratifying!!    

Lalu Clients yang harus saya support juga bukan hanya American Clients saja, tetapi juga International Clients yang berada di Tokyo, Amsterdam, Dublin, London, Sydney, Frankfurt, Dubai, Buenos Aires dan berbagai macam kota di muka bumi ini.

Kebanyakan saya harus terbang ke tempat-tempat tsb untuk meetings, working sessions with my team atau client face to face interactions & negotiations.       

Akibatnya, kerjaan saya selama 10 tahun ini keliling terus, hidup di hotel. Kadang kalau bangun pagi beberapa detik pertama saya harus pikir, “Where am I today? Chicago? Atlanta? Boston? Columbus? San Francisco? Dublin? Bangalore? Chennai? Manila?” belum lagi jetlag karena kota2 tsb di Time Zones yang berbeda. Jadi boro-boro tulis di KOKI atau Baltyra, hari itu nggak jetlag saja atau nggak ketinggalan pesawat sudah bagus he…he…he…

Tetapi kalau lagi Family Vacation asyik banget, saya redeem airlines and hotel points saya lalu terbang gratis & nginep di hotel gratis pakai points sambil bawa keluarga. Jadi setahun bisa rata rata jalan- jalan GRATIS dua kali. Kecuali tahun ini gara-gara COVID-19 we just stay home. 

10 tahun bukanlah waktu yang singkat, dulu setiap kali mau mudik ke Indonesia harus cari ticket murah dulu, sekarang kalau mau mudik tinggal pakai airlines miles saja. Kalau points pas cukup upgrade to business class he…he…he…Mau vacation tinggal pakai hotel points saja. Dulu anak-anak masih kecil. Sekarang anak sulung sudah kuliah di salah satu Universitas papan atas di Amerika Serikat. Saya hanya bilang Alhamduliliah (حَمْدَلَة‎)

Now I can say that I’m truly living on my American Dream!! It requires a hard-working job to get to this point, but everything is possible in this Land of the Free! Yes, this country isn’t perfect by all means, especially for the past four years. You do know exactly what I mean, don’t you? But I won’t go there on this article. Despite all the shortcomings here in the U.S recently, I still firmly believe that this is STILL the best country on this planet, without a doubt!! 

OK itu sisi positive nya, lalu kalau anda tanya apa sisi negative nya tentang karir baru selama 10 tahun ini? Well, jarang kumpul dengan keluarga, makan & tidur nggak teratur. Makanya COVID-19 bagi saya adalah “Blessing” karena saya nggak harus terbang kemana mana lagi bisa WFH dan kumpul dengan keluarga setiap hari. Makan & tidur teratur selama 4 bulan belakangan ini.

OK, back to Bengawan Solo…..3 tahun yang lalu, summer 2017 kala itu client kami adalah ABN AMRO Bank. Bank raksasa Belanda yang pusatnya di Amsterdam, the Netherlands. Ada 3 orang dari kantor kami yang terbang ke sono, saya salah satunya – terbang dari Washington Dulles (IAD) to Amsterdam Schiphol (AMS). Kedua temen sekerja saya terbang dari Chicago O’Hare (ORD) to Amsterdam Schiphol (AMS). Dan yang satu lagi terbang dari Houston George Bush Intercontinental (IAH) to Amsterdam Schiphol (AMS).

Setelah 3 hari meeting dengan client kami, di akhir hari ketiga, tiba-tiba client kami mengundang kami untuk hadir pada pesta ulang tahun ke 85 buat ayahnya. Dia tiba-tiba berkata demikian di akhir meeting kepada kami bertiga, his American consultants.

“Would you like to come to my dad’s 85th birthday party? It would be fun. There will be music, dance, and Rijsttafel which is colonial Dutch dishes.”

Kami bertiga langsung setuju dan kami ikut di mobilnya client kami. Namanya Arjan – a very typical Dutch name, nama panggilannya Arie. Asal tahu saja kalau di Indonesia banyak yang punya nama Ari “mas Ari” itu sebetulnya berasal dari nama Belanda ARJAN Di baca AR-YAN, suatu nama yang sangat popular di Belanda.

Sesampai di tempat tujuan sudah banyak tamu yang rata rata yang merupakan teman, kerabat dan family. Ayahnya Arie yang berulang tahun ke 85 pada waktu itu masih terlihat sehat dan segar. Namanya Jan (baca YAN) suatu nama yang juga sangat popular di Belanda sono. Jan itu versi Belanda, kalau versi Inggris adalah John, versi Indonesia Yohanes, versi Jerman Johannes, versi Spanyol Juan (baca HU-AN).

Nah opa Jan ini ternyata lahir di Malang di tahun 1932. Ayah Opa Jan ini adalah salah satu komandan KNIL di Jawa Timur pada waktu itu (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) or in English, Royal Netherlands East Indies Army – Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Opa Jan menghabiskan masa kecilnya di Malang, Tretes dan Surabaya.

Ketika Jepang masuk, keluarga opa Jan terpisah dan opa Jan di penjara oleh Jepang (POW) di Semarang. Opa Jan di penjarakan oleh Jepang di penjara khusus untuk anak anak bule (Dutch, Australian, British civilians) – boy’s camp di Semarang. Dia bahkan sempat menunjukkan foto sewaktu dia masih remaja di tahun 1944 ketika di Semarang dulu. 

Setelah Jepang menyerah, opa Jan berkumpul kembali dengan keluarganya dan pulang ke Belanda dan dia tidak pernah injak kaki lagi di tanah kelahirannya. Tetapi, ayah Opa Jan yang masih menjadi komandan KNIL saat itu ikut pasukan Belanda masuk ke Indonesia lagi di tahun 1947 untuk merebut balik Indonesia ke tangan Belanda tetapi ayahnya gugur di pertempuran di Ambarawa di tahun 1947. Menurut Opa Jan ayahnya lahir di Madura di tahun 1897.

Di pesta ulang tahun opa Jan yang ke 85 tahun tersebut, pikiran saya melayang jauh ke tanah kelahiran saya, Indonesia. Dan saya membayangkan bagaimana rasanya 85 tahun yang lalu sewaktu opa Jan lahir di Malang di tahun 1932 hidup di masa Kolonial Belanda dulu, yang tentu saja saya merupakan second class citizen waktu itu, status saya dibawah orang Belanda. Tidak mungkin saya dan Arie bisa berkerja bareng dengan status yang SEDERAJAD seperti saat ini! Paling mentok saya juga jadi JONGOS/KACUNG nya Arie he…he…he…

Tetapi jaman sudah berubah, sekarang derajad kita SAMA! Arie, my client (anaknya opa Jan) adalah mitra kerja yang professional dengan saya and we respect each other! Tanpa memandang warna kulit, ras atau national origin. 

Pesta ulang tahun berjalan begitu apiknya, pesta di adakan di kebun belakang mereka yang luas di rumah mereka yang cukup besar di pinggiran kota Amsterdam.

Rijsttafel nya enak sekali bagi saya. Ada Seroendeng, Semoer Daging, Babi Ketjap, Kroepoek Oedang dan juga BBQ Satay Ajam di halaman belakang rumah mereka.

Pada pesta ulang tahun itu juga, mereka undang local band Belanda, Richie and the Jeans – saya belum pernah dengar mereka. Tetapi ternyata local band ini cukup popular di Belanda sono dan mereka sering di minta pentas pada acara tahun baru, perkawinan atau ulang tahun.

Setelah mereka menyanyikan lagu “Happy Birthday” dan lagu-lagu Belanda, di akhir pertunjukan mereka menyanyikan lagu “Bengawan Solo” saya begitu kaget mendengar lagu ini.

Saya lalu tanya Arie “Do you know this song?” Arie jawab, “Of course! I grew up listening to this song. Dad loves this song so much. It reminisces his childhood back in Indonesia”

Ketika lagu “Bengawan Solo” di nyanyikan oleh local band Belanda (Bule Semua), para opa dan oma langsung bangun dari kursi mereka dan dansa semua. Menurut Arie kebanyakan dari teman teman ayahnya (Opa Jan) banyak yang di lahirkan di Indonesia waktu jaman Belanda dulu.

Tanpa terasa air mata membasahi pipi saya. Saya begitu terharu mendengar Lagu Bengawan Solo di nyanyikan begitu apiknya oleh opa – opa Belanda ini. Dan lagu ini masih sangat di hargai di negeri Belanda, suatu negara yang begitu jauh dari asal lagu ini.

Walaupun saya sudah tidak pegang pasport hijau dengan sampul Burung Garuda lagi, dan sudah sekian lamanya tinggal di Amerika Serikat, ternyata; “You can take me out of Indonesia, but you will NEVER take Indonesia out of me!!”

Mungkin lagu Bengawan Solo ini sudah tidak popular lagi di negara asalnya. Mungkin generasi muda di Indonesia sekarang malah tidak suka lagi dengan lagu Bengawan Solo, Kerontjong Kemajoran atau lagu-lagu sejenis itu.

https://www.youtube.com/watch?v=s00nYQuJx9E

Tetapi Bengawan Solo ternyata masih sangat popular di Negeri Belanda, terutama bagi kalangan lanjut usia di sono.

Terlepas dengan urusan Politik masa lalu, lagu & seni adalah sesuatu yang universal. Lagu akan membawa kita ke suatu point di masa lalu di hidup kita.

Bagi Opa Jan lagu Bengawan Solo akan selalu terkenang sampai akhir hayatnya kepada Tanah Kelahirannya nun jauh disana. Masa kecil hidup di Malang, Tretes dan Surabaya. Dan juga masa masa sulit ketika remaja di penjara oleh Jepang di Semarang.

Sebelum kita berpisah malam itu saya mengucapkan ultah kepada Opa Jan, Fijne verjaardag, opa Jan” eh lalu Opa bilang gini;

“Terimakasih! Are you an American or an Indonesian, huh? INDONESIAN 100%!!! Jangan pernah lupa itu!!”

Begitu kata Opa Jan sambil peluk saya erat-erat sebelum kami berpisah malam itu.

Keesokan harinya kami bertiga pagi-pagi sudah berkumpul kembali di Amsterdam Schiphol (AMS) untuk terbang ke arah barat, menyeberangi Atlantic Ocean. Saya terbang balik ke Washington Dulles (IAD). Kedua temen sekerja saya terbang ke Chicago O’Hare (ORD) dan yang satu lagi terbang ke Houston George Bush Intercontinental (IAH).

Ternyata saya tidak harus terbang 25 jam ke Jakarta Soekarno-Hatta (CGK) untuk bisa mendengarkan band yang menyanyikan lagu Bengawan Solo dan makan Seroendeng, Semoer Daging, Babi Ketjap, Kroepoek Oedang & Satay Ajam. Saya hanya cukup terbang “pendek” 7 jam saja ke Amsterdam Schiphol (AMS).

Greetings from the American Capital. HL – DC

3 Comments to "10 Tahun Terakhir & Bengawan Solo"

  1. EA.Inakawa  27 July, 2020 at 10:32

    The story is never end,
    Orang lama di KOKI pasti ingat HL,
    saya ingat 1 artikel bung HL ketika pamit dari KOKI,
    Salam Sehat

  2. AL, Can  7 July, 2020 at 21:04

    Thanks for sharing the story. How are you, Harry? Kemarin itu lagi membathin, kemanakah HL sekarang di jamannya si Trump Nation? Karena HL cuma nom de plume/pen name, tentunya gak akan keluar kl digoogle, eh kok kemarin pas iseng2 google keluar banyak nama Harry Lukman di FB, dan yg satu2nya ada hubungannya dengan Kokiers jadul, ya HL di Washington DC. Please read my FB messenger when you have time.

  3. James  7 July, 2020 at 16:16

    what an insteresting story, thank you HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.