Menolak Lupa Di Tengah Pandemi

Bermula dari woro-woro Wahyu Susilo, ketua LSM Migrant Care yang beredar di media sosial, mengajak para pekerja migran khususnya dan penggemar sastra pada umumnya untuk menolak lupa dengan membaca puisi-puisi Wiji Thukul. Acara pembacaan puisi digelar secara online melalui media Zoom sebelum dimulainya pemutaran film Istirahatlah Kata-Kata oleh TVRI, Selasa, 16 Juni 2020. Film yang berkisah tentang buronnya Wiji Thukul dari kejaran aparat Orde Baru dan aktivitas menulisnya walau di tengah ancaman penangkapan.

Tak ayal para pekerjaan migran yang masih aktif bekerja ataupun yang mantan bernaung dalam Sastra Pekerja Migran, aktivis, dosen yang berada di dalam dan luar negeri bersama para pemeran film Istirahatlah Kata-Kata ikut membaca dan larut dengan semangat perlawanan, tentunya dalam melawan pandemi Covid-19 agar tidak menyurutkan kecintaan akan sastra.

Nama-nama pekerja migran yang lama menggeluti dunia sastra antara lain Mega Vristian, Maria Bo Niok, Nessa Kartika dan lain-lain yang beberapa karya sastranya seperti puisi dan cerpen telah diterbitkan dalam beberapa buku juga ikut berpartisipasi. Untuk nama pertama yang disebutkan di atas, karyanya pernah diulas oleh pemerhati sastra seperti dalam buku yang berjudul Nyanyian Imigran dan At A Moment Notice terjemahan Jafar Suryomenggolo. Walau sudah tidak menjadi pekerja migran lagi, kiprahnya selama 24 tahun bekerja di Hong Kong dan kegemarannya di dunia seni budaya sastra, undangan membaca puisi ini bak gayung bersambut. Sajak Suara yang mengungkapkan suara hati Wiji Tukul yang tidak bisa diredam, menjadi puisi pilihan untuk dibaca Mega Vristian. Semua penampilan peserta acara pembacaan puisi Wiji Thukul dapat dinikmati di sebuah link: https://www.youtube.com/watch?v=Yl73-gXBJP4

Menjadi pekerja migran tidak melulu sekedar mengais devisa. Tetapi memahami budaya negeri setempat, bersosial sesama pekerja, menyalurkan bakat seni dan bersastra dapat menjadi pengobat rindu tanah air dan kepenatan bekerja.

Kembali lagi kepada suaminya mbak Sipon ini, mungkin pekerja migran tersebut tidak banyak yang tahu siapa beliau sebenarnya. Penyair jalanan pemompa semangat pejuang perubahan demokrasi 32 (tiga puluh dua) tahun era Orde Baru. Selalu berada di garis depan setiap ada aksi perjuangan anak-anak muda.

Mulai dari puisi “Di bawah selimut kedamaian palsu” sampai puisi fenomenal yang berjudul “Peringatan”. Penggalan kalimat “Hanya ada satu kata: “Lawan!” menjadi teriakan wajib para pengunjuk rasa di tahun 1997 sampai 1998.

Nafas panas semua puisi karya Wiji Thukul sudah lahir sejak tahun 1980-an. Jiwa Wiji Thukul sudah lama membara ternyata. Bahkan puisi yang berisi kata “Lawan” tersebut adalah karyanya yang ditulis pada tahun 1986. Bila Wiji Thukul ditemukan dalam keadaan hidup saat ini, mungkin dirinya akan lega. Sebab kebebasan berekspresi, bersuara dan berpendapat sudah tidak dikekang seperti dulu lagi. Buah sepak terjang Wiji Thukul dan teman-teman seperjuangannya tentunya. Walau ada berita beberapa dari mereka telah meninggal dunia dan hilang, namun banyak yang berharap kelak Wiji Thukul bisa ditemukan dan kembali ke keluarganya.

*(Djodi Budi Sambodo, Pondok Aren, 19 Juni 20)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.