Venous Thromboembolism: Possible Health Risk during Stay-at-Home-

Halo pembaca Baltyra, saya jarang main ke Baltyra, hanya pernah tulis beberapa artikel di sini. Kali ini izinkan saya menulis kembali untuk Baltyra, tribute untuk alm. Josh Chen (JC) yang saya kenal sejak masih di KoKi.

Dulu di KoKi saya pakai nickname “Piper”, dan tulisan saya juga selalu bertema kesehatan karena memang hanya ini yang saya bisa. Sejak merebak Covid-19  dan kebetulan saya bekerja di RS di Tokyo, otomatis banyak tulisan saya tentang Covid-19 terutama untuk teman teman WNI  yang tinggal di Jepang. Salah satu tulisan saya yang sepertinya sempat viral sampai sampai saya dihubungi untuk diwawancara Kompas TV, tentang Avigan – obat anti influenza yang diharapkan bisa efektif untuk pengobatan Covid-19. Silahkan jika ada yang ingin baca, ini salah satu yang keluar dari mas google:

https://www.senayanpost.com/penjelasan-mengenai-avigan/

Saya sendiri menolak wawancara, that’s not me. Saya menulis murni hanya untuk memberikan edukasi, berharap bisa memberikan informasi  yang lebih baik terutama di bidang kesehatan.  

-Demikian perkenalan dari saya, rasanya memang baru kali ini ya memperkenalkan diri langsung di Baltyra J-

Tema tulisan saya kali ini tentang resiko VTE di masa pandemic Covid-19. Kenapa? Karena teringat JC yang biasanya “aware” masalah kesehatan, setiap kami berdiskusi tentang kesehatan, dia selalu mau belajar, dan selalu encourage saya untuk menulis yang katanya bisa “mencerahkan semua orang”.  Jadi saya berharap setidaknya tulisan ini bisa membantu kita untuk lebih sadar adanya resiko kesehatan yang mungkin timbul selama masa pandemik.

  1. Apa itu VTE (Venous Thromboemblism)?

VTE merupakan gejala penyakit yang ditandai dengan adanya “thromboembolism” – sumbatan di pembuluh darah dari bekuan darah yang terlepas dan ikut dalam sirkulasi peredaran darah. Karena bekuan darah ini terjadi di pembuluh darah balik (vena), jadilah disebut VTE.  VTE sendiri dibagi lagi menjadi 2 tipe: DVT (Deep Vein Thrombosis) dan Pulmonary Embolism (PE)

DVT, biasanya disebabkan adanya bekuan darah yang terbentuk di vena dalam, sering di tungkai kaki atau paha. Jika bekuan darah ini lepas dan naik ke atas (jangan lupa ini terjadi di pembuluh darah balik ke jantung/paru) bisa menyebabkan sumbatan di pembuluh darah paru paru, yang kemudian disebut PE.

  1. Gejala apa yang timbul?

Adanya sumbatan di vena kaki, DVT, bisa menimbulkan gejala antara lain: sakit, kulit merah, terasa hangat ,bengkak, di area kaki yang terkena.

Jika sumbatan lepas dan terjadi PE, gejala yang bisa timbul: sakit dada, sesak nafas, atau nafas jadi cepat pendek (rapid shallow breathing-tachypnea), detak jantung tidak beraturan, dan pasien bisa kehilangan kesadaran.  PE bisa berakibat fatal.

  1. Kenapa bisa terjadi DVT-PE?

DVT bisa timbul karena posisi duduk atau tiduran dalam jangka waktu lama. Contohnya, pasien yang tidak bisa bergerak pasca operasi, pasien yang kondisinya harus tiduran/duduk dalam jangka waktu lama, termasuk duduk dalam jangka waktu lama saat penerbangan panjang (long airplane flight). Itu sebabnya, pasien pasca operasi biasanya pakai compression stockings, dan tergantung kondisi, biasanya dianjurkan segera rehabilitasi. 

Mungkin banyak yang pernah dengar, tentang “economy class syndrome”. Ini tidak lain juga  DVT, yang terjadi karena posisi duduk lama di pesawat, terutama di kelas ekonomi dimana ruang untuk kaki tidak luas sehingga tidak bebas digerakkan.  Sudah sering terdengar kasus dimana penumpang pesawat mendadak lumpuh, sesak nafas, kehilangan kesadaran dsb, tidak lama setelah turun  pesawat yang diduga disebabkan DVT-PE. Tidak hanya kejadian langsung, beberapa laporan menunjukkan gejala DVT-PE bisa terjadi beberapa jam, beberapa hari, sampai beberapa bulan kemudian setelah penerbangan panjang. [Ref1]

  1. Apa hubungannya DVT-PE dengan masa pandemic Covid-19?

Kebijakan stay-at –home selama pandemik  membuat kita cenderung untuk tidak aktif bergerak, WFH (Work from Home) duduk lama berjam jam di depan computer sambil kerja, atau depan TV sambil nonton serial drakor misalnya, bisa beresiko meningkatkan terjadinya thromboembolism.  Risiko tentang ini sudah mulai dikemukakan di majalah atau journal kesehatan;

“Amid coronavirus, Cushman said she’s mainly worried about venous thromboembolism. That’s when blood clots form in the veins and can lead to part of the clot traveling to the lungs and causing blockage, also called a pulmonary embolism. The symptoms can include chest pain and shortness of breath” – Dr. Mary Cushman, professor of medicine and pathology-University of Vermont. [Ref2]

“We recommend to raise awareness of preventive measures to prevent VTEs, especially lethal PEs, as part of the stay-at-home policy” [Ref3]

  1. Apa benar jika tubuh ‘immobile’ dalam waktu lama bisa beresiko menimbulkan DVT-PE?

Berdasarkan laporan laporan yang ada, jawaban saat ini, iya.  Tahun 2010, ada penelitian dari Wellington Hospital (New Zaeland) melibatkan 197 kasus – yang menyimpulkan ada kaitan jelas antara “prolonged work-and computer-related seated immobility” dengan risiko terjadinya Venous Thromboembolism.  Faktor risiko terjadinya VTE bisa dilihat di tabel yang saya lampirkan [Ref4].

Tahun 2018, ada laporan dari Jepang tentang kasus VTE setelah adanya gempa di Kumamoto tahun 2016. Saat itu karena khawatir dengan adanya aftershocks di malam hari, banyak orang yang memilih tidur di dalam mobil. Dan ternyata, dari data pasien yang masuk ke RS dan butuh perawatan terkait VTE, mereka berasal dari kelompok yang memilih tidur di dalam mobil pasca gempa.

“Of the 51 enrolled patients, 42 (82.4%) spent a night in a vehicle” ; “the presence of pulmonary thromboembolism (PTE) was significantly higher in the night-in-vehicle group.” [Ref5]

  1. Bagaimana mengurangi resiko terjadinya VTE karena perubahan aktivitas harian saat ini?

– Usahakan bergerak. Setelah satu jam duduk non-stop, bisa 5 menit stretching ringan, atau jalan ambil minum di dapur misalnya. Cukup minum juga baik untuk kesehatan tubuh

– Usahakan ada ruang gerak untuk kaki yang nyaman selama bekerja. Jangan terus menerus kaki dilipat/ditekuk

– Usahakan tetap menjaga kebugaran tubuh, jaga berat badan, gerakkan badan/olahraga teratur.

Mari kita semua  berusaha antisipasi masalah kesehatan yang mungkin timbul dari perubahan aktivitas sehari hari terkait situasi saat ini.  Saya yakin JC juga berharap semua teman temanya di Baltyra selalu sehat, bisa meneruskan kebaikan dan legacy yang sudah ia tinggalkan.

Salam sehat,

Tokyo, 2 Juli 2020

 

Disclaimer:  Artikel ini tidak ada hubungan sama sekali dengan penyebab meninggalnya JC.

References:

[1] DUSSE, Luci Maria SantAna et al. Economy class syndrome: what is it and who are the individuals at risk?. Rev. Bras. Hematol. Hemoter. [online]. 2017, vol.39, n.4 pp.349-353. 

[2]USA Today Health: https://www.usatoday.com/story/news/health/2020/04/08/coronavirus-inactivity-health-experts-tips-self-care-quarantine/2967723001/

[3] Rapid Response: COVID-19: Stay-at-Home Policy and Risk of Venous Thromboembolismhttps://www.bmj.com/content/368/bmj.m800/rr-21

[4] Healy, Bridget et al. “Prolonged work- and computer-related seated immobility and risk of venous thromboembolism.” Journal of the Royal Society of Medicine vol. 103,11 (2010): 447-54. doi:10.1258/jrsm.2010.100155

[5] Sueta D, Hokimoto S, Hashimoto Y, et al.  Kumamoto Earthquake Thrombosis and Embolism Protection (KEEP) Project Investigators. Venous Thromboembolism Caused by Spending a Night in a Vehicle After an Earthquake (Night in a Vehicle After the 2016 Kumamoto Earthquake). Can J Cardiol. 2018;34:813.e9-813.e10.

4 Comments to "Venous Thromboembolism: Possible Health Risk during Stay-at-Home-"

  1. Kathryn  9 July, 2020 at 13:48

    RYC no mama, arigatou!
    Udah lama banget gak nyapa pakai nama ini
    Moga2 deh kita semua bisa melewati pandemik ini dengan sehat selalu. Ntar kalo udah lewat kita ngafe lagi ya

  2. Ryu & Yuka-chan no mama  8 July, 2020 at 15:08

    Terimakasih, bu dokter…ternyata kurang gerak bisa berakibat fatal. Usia produktif jg bisa kena sepertinya.

  3. Kathryn  8 July, 2020 at 14:30

    Thank you always.
    Semoga berguna dan sehat selalu yaaaaa!

  4. James  7 July, 2020 at 15:58

    Terima kasih Dr Piper, seperti biasa artikel yang sangat berguna dan menambah luas pengetahuan tentang kesehatan, salam dari jauh di Benua Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.