Catatan Reda #7

“Apakah sebelum diturunkan ke bumi, mereka sama seperti kita?”
Tanyamu. Kau membaringkan kepalamu di perutku. Jemarimu yang lentik mengelus tanganku yang tergeletak malas di dadamu. 
 
“Siapa?” 
 
“Adam dan Hawa.” 
 
“Mungkin.” Jawabku, mengusap-usap buah dadamu. “Mereka tiap saat bercinta, kelelahan dan tertidur. Ketika bangun, mereka mencari makan. Saling suap. Saling lahap. Lalu mereka akan berjalan mengelilingi taman surga. Mengobrol tentang apa saja.” 
 
“Apakah mereka nomaden? Hidup dari berburu dan meramu?” 
 
“Aku kira tidak. Tuhan menyediakan apa yang mereka butuhkan.” 
 
“Aku pernah berfikir, harusnya dulu  Adam memakai kondom. Mencegah Qobil Dan Habil lahir. Hingga pertumpahan darah dan iri dengki tak pernah terjadi.”
 
Aku tertawa. “Seandainya Adam memakai kondom, mungkin tidak akan ada kita di dunia.” 
 
“Mungkin kita lahir dari keturunan yang disemai dengan baik.” 
 
“Kita tidak pernah tahu. Kadang yang kita anggap baik justru jadi petaka. Yang kita sangka buruk sebenarnya azimat.” 
 
Kita tidak pernah tahu rahasia Tuhan, cantik. Kita mengenal Tuhan karena pendahulu kita yang mengenalkan. Kita tak tahu mengapa mereka menciptakan berbagai macam agama bila yang jadi tujuan adalah sama: nihilitas!  Kita tak pernah mengerti mengapa musti bertengkar siapa yang paling sempurna sementara baik tanpa buruk tak akan pernah tercipta kosmos. Gelap tanpa terang tak akan pernah tercipta lingkaran yin dan yang. Langit tanpa bumi tak akan tercipta semesta. Aku tanpamu tak akan tercipta asmaragama. 
 
Kita pun hanya wayang yang tersusun atas jasad dan ruh. Ruh tanpa jasad hampa. Jasad tanpa ruh mati. Segalanya saling terkait dan terikat. 
 
Karenanya, cantik, tak perlu kaucemaskan diri. Nikmati proses hidup. Seperti Adam dan Hawa yang melahirkan keturunan mereka tanpa berfikir membikin kondom atau pil kontrasepsi.
 
“Aku ingin kembali maya. Tanpa rupa. Tanpa jasad.” Katamu. “Jasad kadang serupa belenggu. Pikiran bisa berkelana ke ujung dunia. Namun jasad terkurung dalam ruang dan waktu.” 
 
“Kalau kau kembali maya, aku yang akan terluka. Bagaimana kita bisa bersenggama?” 
 
“Kita masih bisa bersenggama bahkan ketika kita kembali maya?” 
 
“Hanya penyatuan Ruh? Apa yang menjadi nikmat adalah karena kita memiliki panca Indra. Kita tak tahu rasa buah dada hanya dengan membayangkannya, bukan?” Kataku. Jemariku meremas buah dadamu dan kau menggeliat. 
 
“Apakah kita masih terbatas pada anasir itu? Kenikmatan dalam berasmara adalah ketika mewujud jadi senggama?” 
 
Aku terdiam. Aku berusaha mencari kosa kata yang tepat untuk menjawab. Mungkin kau benar, cantik. Tidak semua rasa musti dikecap. Cukup dinikmati dalam ruang kosong pikiran. Tidak semua permukaan musti diraba. Cukup dirasa lewat halusinasi. Apapun itu. 
 
Ataukah kau menyesal dengan pertemuan ini, sayangku? Seandainya pertemuan ini tak terjadi, kau akan tetap menjadi kekasih maya. Tak tersentuh. Terbungkus dalam kesucian. Lalu asmara itu terbakar. Mencipta gama. Tanpa rupa. Tanpa wujud….. 
 
Singapura
Reda

One Response to "Catatan Reda #7"

  1. EA.Inakawa  11 July, 2020 at 10:57

    Apapun itu , Tuhan telah mengaturnya & segala sesuatunya pasti terjadi atas izin NYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.