Hakikat Selfie

Pernah di suatu ketika aku punya teman dekat perempuan yang beranggapan perempuan hobby selfie adalah perempuan kemayu. Tak perlu kujelaskan jalan pikiran dia selanjutnya. Kosa katanya penggoda, narsis, otaknya kosong dst.

Di sisi lain, pasanganku sering (kalau tak mau disebut hobby) selfie dan upload. Nah, bisa kalian bayangkan dilematisnya. Di satu sisi aku tak bisa kontrol pikiran temanku, disisi lain pasanganku tak sesederhana itu bisa disimpulkan jalan pikirnya. Tapi aku memang tak pernah mendebat urusan selain politik dengan temanku.

At least, aku tahu tak semua perempuan mengapresiasi selfie seperti yang dibayangkan. Di kemudian hari aku menemukan cukup banyak perempuan yang sama dengan temanku. Catat ya, tak melulu dibungkus agama alasannya.

Bagaimanapun, bagiku selfie hakikatnya adalah show. Show bisa dikemas dengan nuansa positif yaitu kepercayaan diri, aktualisasi bahkan seni. Atau nuansa negatif yaitu pamer tentang apa yg dimiliki. Terserah pikiran orang. Aku tak bisa atur hal itu. 
Kalau gak show, seperti aku ini. Jeprat-jepret simpan dan kubagi hanya ke orang terdekatku.

Beberapa hari yang lalu ada temanku mengeluh karena pacarnya marah hanya karena dia selfie dan ada siluet dadanya. Tak banyak sebenarnya siluet dada itu. Rejekiku, aku dikirimi fotonya. Tapi kenyataannya pacarnya murka. Dia minta pendapatku.

Aku akan melihat dari segi laki-laki normal yang memikirkan sex sebanyak 19x perhari. Ini dihitung hanya dalam 16 jam kondisi terjaga (Terry Fisher : 2011). Itu rata-rata, laki-laki mesum pasti lebih, laki-laki alim aku tak yakin dibawah angka itu. Pendapat lain bahkan menyatakan 34x. Belum termasuk mimpi erotisnya yang bisa lebih dari 13x semalam.

Bagi laki-laki memaknai perempuan selfie tak seribet cara perempuan memaknai. Ada lelaki yang menganggap, yayaya kamu cantik dan akan memberi love (asal yakin gak ketahuan pasangannya) atau like.

Masalahnya ada banyak lelaki yang menganggap bahwa perempuan selfie seolah memberi umpan padanya. Tanyakan temanmu yang hobby selfie, pasti banyak di inbox orang-orang gak jelas. Kamu cantik, pingin kenal, dst. Pasti. Aku bilang pasti ya pasti. Bolehkah disebut memberi umpan kalau begitu?

Tentu saja kita gak bisa mengontrol pikiran orang gak jelas itu. Tapi kita juga gak bisa berdalih ala-ala liberalis yang bilang “harusnya otak laki-laki yang dikontrol”. Ya silakan kontrol otak lelaki-lelaki itu. Aku kontrol otak 34x-ku saja tak mampu kok kontrol otak orang lain.

Maaf, aku singgung sedikit tentang agama ya. Itu mengapa ada anjuran memanjangkan jilbab atau larangan baju ketat yang menampilkan siluet. Itu karena toh kita gak bisa kontrol pikiran lelaki. Bolehlah kamu sebut agama itu sexist, atau terry fisher sexist. Bagi liberalis abaikan paragraf ini.

Dan penjelasan singkatku kututup dengan kesimpulan sederhana “bahwa pacarmu cuma tidak ingin kamu dijadikan obyek seksualitas laki-laki lain”. Pacarmu bertujuan baik, tapi cara marahnya salah. Memang ada laki-laki yang terima pasangannya dijadikan obyek seksual? Ada sih. Dan pacarmu bukan seperti itu.

Jadi sebaiknya kalian berbaikan kembali dan membicarakan hal-hal yang menjadi ganjalan kalian. Itu sederhana kok solusinya. Tinggal tanya dulu sebelum upload, “mas, aku boleh upload yang ini?”

Kukira kalau foto selfienya tidak melulu fokus wajah atau siluet anggota tubuh sensitif lainnya takkan serumit itu masalahnya. Tinggal dicrop, upload, aman. Apalagi kalau selfienya seimbang antara fokus diri dan lingkungan sekitarnya.

Aku tahu banyak yang tak suka dengan tulisanku terkait selfie. Sebodo amat. Unfriend ya monggo. Oh ya, tulisanku ini tidak berlaku sama sekali untuk lelaki yang hobby selfie seperti seseorang yang tak boleh disebut namanya. Laki2 mah bebas.

One Response to "Hakikat Selfie"

  1. Dewi Aichi  11 July, 2020 at 07:43

    Kikik..aku tukang selfie….hahaha..tapi aku selalu suka tulisanmu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.