Waspada Bentuk kejahatan, Termasuk Kejahatan Perasaan

Majnum Murokab

Sepanjang sejarah peradaban kehidupan umat manusia. Ada beberapa hal yang sudah ada sejak ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Banyak terjadi kejahatan yang menyebabkan kerugian materiil ataupun immateriil. Sejak peristiwa pembunuhan yang dilakukan qobil terhadap habil, ada banyak perilaku kejahatan yang terus beranjak hingga di peradaban atau zaman sekarang. Misalnya, perang, penjarahan (begal), perampokan, penipuan, pemerkosaan, perbudakan tanpa upah dan tentu banyak lagi.

Tentu ada kejahatan terbesar dan kejahatan terkecil. Perilaku dosa terbesar dan dosa terkecil. Apapun itu, pembaca tentu bisa menerka-nerka sendiri. Lalu apa kejahatan yang bisa atau banyak orang sadari dari awal? Tentu ada banyak. Semisal, seperti peperangan antara suku, ras, kelompok, golongan, atau apapun istilahnya. Biasanya terjadi karena dualisme yang menyebabkan perseteruan. Perseteruan apa itu? Tentunya banyak motifnya. Adalagi soal seksual, pembegalan, dll. Itu sebuah tindakan kejahatan yang cepat bisa disadari.

Lalu, bentuk kejahatan apakah yang jarang untuk disadari?

Ada kejahatan yang begitu tersetruktur, sistematis dan begitu masif. Seperti faham kapitalisme, itu merupakan bentuk penjarahan dimasa kini. Tapi, tentunya ada kapitalis yang dirugikan, ada juga kapitalisme yang diuntungkan. Dalam pemikiran marxis, kapitalisme adalah sebuah lomba antara kapitalis satu dengan lainya. Karena seseorang yang menganut atau mengasas faham kapitalisme akan menjurus ke laba-laba dan laba. Melalui kapitalis industri, industri-industri itulah yang akan terus bersaing. Lalu siapa yang menjadi korban kapitalisme? Tentunya pekerja industri itu sendiri.

Bila dilihat dari kutipan wikipedia, “Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin terlebih dahulu, kemudian buruh yang berperan sebagai operator mesin guna mendapatkan nilai dari bahan baku yang diolah.

Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.” Akan jadi lebih bahaya jika kapitalisme melubur dengan faham lain seperti sosialisme dan lain-lain tentunya. Karena akan menjadi lebih lunak untuk melancarkan inti dari faham kapitalisme.

Itu merupakan kejahatan yang banyak orang bawah tidak menyadari akan hal itu. Tapi ada kejahatan secara individualisme yang juga jarang disadari seseorang. Yakni kejahatan “rasa rekuh”. Karena kejahatan ini menggunakan atau mempermainkan perasaan. Ada kaitanya dengan cinta, balas-budi, dan hanya sebatas loyalitas. Tapi, itu bisa menjadi kejahatan yang sangat begitu menyakitakan berkepanjangan. Eh, soal sakit berkepanjangan ini juga tergantung sikap atau respon seseorang dalam menanggapi situasi kondisi juga ya..

Bayangkan, korban dibuat untuk semakin percaya, semakin dibuat mempunyai rasa rikuh untuk tidak membalas budi, atau ada timbal balik terhadap pelaku. Serius, ini bisa terjadi kepada siapapun, baik itu realasi hubungan kekeluargaan, teman, sahabat, bahkan kekasih sendiri.

Tentu mungkin banyak yang sudah merasakan bagaimana rasanya ditipu, dibohongi, hingga dikhianati oleh orang merasa sudah dekat sekali. Hal itu memang sudah hal yang sangat wajar bagi seseorang makhluk sosial yang masih mempunyai rasa atu perasaan. Nah, malah inilah yang menjadi motif pelaku, yaitu membuat orang merasa dekat denganya. Dengan berbagai doktrin, konsep, atau motif pendekatan juga.

Ada cerita juga, seperti cerita temanku ini. Sebut saja Si A dan pacarnya Si B (pelaku). Nah Si B ini sebagai pelaku mendekati si A yang merupakan motifnya awalnya untuk menipu. Dengan berbagai doktrin, dan alasan tertentu Si A hingga jatuh cinta terhadap si B. Karena ulah yang begitu baik dengan Si A, Si B menyiapkan momentum untuk meminta bantuan kepada Si B. Nah karena begitu banyak kebaikan Si B yang di berikan kepada Si A ini, si A merasa mempunyai “perasaan rikuh” Juga untuk tidak mengabulkan permintan Si B.

Nah, pada puncak kesempatan si A itu mempunyai rasa rikuh dan dalamnya cinta. Si B mempunyai bantuan permintaan, yakni meminjam uang puluhan juta untuk membayar hutang. Nah temanku Si A ini terpedaya kepada Si B untuk meminjamkan uangnya, dengan menggadaikan sertifikat rumahnya dulu dan berbagai menjual barang berharganya. Setelah mendapat uang Si B ini juga sempat meminjam motor guna untuk transpot dalam membayar hutangnya.

Apa yang terjadi? Si B ini kabur. Memang karena ternyata sudah mempersiapkan untuk kabur ke luar kota. Dan Si A ini habis harta bendanya gegara kebodohannya sendiri. Tentu banyak pelajaran yang bisa kita ambil disini. Yakni awal sebab kejahatan perasaan itu sendiri.

Ada juga sesekeluaga yang pelaku dan korbanyanya merupakan kakak beradik. Karena adiknya ini baru saja mengambil sebuah motor di dealer motor, motornya dipinjam kakaknya. Karena mempunyai perasaan rikuh, dipinjamkanlah motor tersebut yang juga berhasil dibawa kabur dan digadaikan dulu. Ini real nyata kejadian di lingkunganku sendiri.

Itulah banyak kejahatan yang berawal dari rasa saking bucinnya, dari mempunyai rasa rikuh dan banyak polemik perasaan tentunya.

Dari banyaknya tulisan yang seorang Jomblo ini tulis di atas tentunya banyak yang kita semua bisa ambil pelajaran. Mengambil dari falsafah jawa yang mengatakan “Eling lan Waspodo”. Memang kita harus tetap bisa eling terhadap diri sendiri ataupun Tuhan, dan tetap waspada terhadap situasi dan kondisi di ruang, lingkup dan waktu apapun itu.

Sudah, ya. Jomblo lelah menulis sebanyak ini.. Salam santun siang 

Pojok sunyi, 070720.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.