Membangun Mimpi Indah dari Desa (1)

Wiwit Sri Arianti

Mulyo Rejo Farm (MRF), Mulyo (mulia/hidup enak), Rejo (ramai/banyak aktifitas/suasana yang hidup), Farm (tanah pertanian) begitulah nama yang kami pilih dengan mengambil nama almarhum bapak mertua, untuk menandai sebuah tempat kegiatan ekonomi produktif keluarga berupa penggemukan sapi pedaging sekaligus sebagai rumah pembelajaran masyarakat di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebetulnya usaha penggemukan sapi ini sudah kami laksanakan beberapa tahun lalu dengan cara dititipkan ke saudara dan para tetangga di desa, namun setelah kami evaluasi nampaknya belum berdampak signifikan pada peningkatan pendapatan keluarga. Tahap berikutnya, kami laksanakan dengan uji coba 5 sapi, dipelihara sendiri, dengan kandang “modern” berbentuk kandang “koloni”. Semua pengeluaran atau ongkos produksi dicatat dengan rinci, dimonitor perkembangan dan kesehatannya, makanan dan minuman ditakar, diberi vitamin, dan dijaga kebersihan kandangnya. Alhamdulillah dengan cara pemeliharaan tersebut, setelah dipelihara selama 5 bulan diperoleh keuntungan bersih satu sapi sebesar Rp.600.000,- – 1.200.000,-.. Tahap pertama ini disiapkan untuk pasar Hari Raya Idul Adha, sehingga sekitar satu minggu sebelum Idul Adha, semua sapi sudah habis terjual. Satu minggu setelah Idul Adha, kami dihubungi oleh para ta’mir masjid yamg membeli sapi kami dan menyampaikan trimakasih banyak karena sapi yang mereka beli dari kami dagingnya bagus dan hasilnya banyak sehingga bisa dibagi merata kepada masyarakat. Dan yang membahagiakan kami, komunikasi itu ditutup dengan “Untuk qurban tahun depan kami membeli lagi ya pak,”. Alhamdulillah, hehehe… J  Di bawah ini foto sapi2 kami tahap kedua. 

Berdasarkan hasil evaluasi tahap pertama, akhirnya kami memutuskan untuk mulai lagi dengan jumlah lebih banyak, kami menyiapkan kandang untuk 14 sapi dan alhamdulillah sudah terisi semua. Diatas itu adalah foto sapi2 kami berjajar rapi di kandang yang bersih dan nyaman sambil makan dengan lahap. Ternyata mereka sudah hapal, ketika tempat makan sudah dibersihan dari sisa makanan kemaren berarti sebentar lagi akan datang makanan hijauan segar dari Pak Warno, nama suamiku yang bertekat besar untuk menghabiskan masa tua di desanya. Nama lengkapnya Warno Hadi Winarno, biasa dianggil pak Warno/cak Warno/Pakdhe, kami sekeluarga memanggil beliau Babe, ngikutin panggilan sayang dari anak-anak. Babe adalah seorang aktivis lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat yang sudah malang melintang di dunia pemberdayaan di berbagai pelosok tanah air mulai dari Aceh sampai Papua, jadi inget judul lagu dari “Sabang sampai Merauke” termasuk beberapa daerah terpencil di Nusantara. Karya terakhir beliau di Papua sebagai konsulan Unicef selama 5 tahun lebih dalam urusan partisipasi masyarakat dan pengembangan kapasitas untuk legislatif, hasil akhir yang diharapkan adalah masyarakat dan anggota DPRD memahami hak anak akan pendidikan yang berkualitas dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan termasuk di kekerasan yang terjadi lingkungan sekolah. Tujuan dari program tersebut diharapkan anggota DPRD memahami sehinga tidak asal mencoret saja ketika mereviu anggaran daerah untuk komponen pendidikan anak karena mereka paham akan pentingnya pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak.

Kembali ke MRF, tujuan utama mengembangkan MRF ini sebetulnya ingin berbakti pada daerahnya setelah lebih dari 35 tahun membangun masyarakat di daerah lain di berbagai pelosok negeri tercinta Indonesia. Beliau terpanggil pulang kembali ke desa agar bisa mewujudkan mimpinya untuk membangun masyarakat di desanya. Seperti sebuah pepatah, “sejauh-jauh burung terbang, akan kembali ke sarangnya juga” , begitulah kira2 sehingga beliau akan menikmati masa tua di desanya bersama masyarakat yang dicintainya. Kami sekeluarga sangat mendukung mimpinya supaya beliau bisa bekerja dengan tenang dan bahagia di masa tuanya. Sebagai istri yang baik ciiee….aku juga sudah merancang kegiatan apa yang akan kulakukan di desa supaya krasan dan hidupku di masa tua jadi lebih bermakna J

Sebelum memutuskan untuk memulai usaha penggemukan sapi ini kami berdiskusi bersama anak-anak sekaligus melalukan analisa SWOT, melakukan analisa sebelum mengambil keputusan adalah wajib, apapun metode dan pisau analisis yang digunakan. SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Kami menggunakan metode analisa SWOT yang lebih mudah dan sudah biasa kami gunakan sehingga perencanaan jadi lebih matang karena berdasar hasil analisa SWOT kami mengetahui informasi tentang apa kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya jika kami akan melaksanakan usaha tersebut.  Tahap berikutnya setelah mengetahui hasil analisanya kami memutuskan untuk melanjutkan usaha penggemukan sapi sesuai kandang yang tersedia untuk 14 sapi. Kemudian kami cek ketersediaan dana dan berbagai kemungkinan jika dana yang kita miliki tidak mencukupi dan beberapa informasi kredit seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) serta kerjasama dengan beberapa teman yang berminat. Setelah menyelesaikan seluruh proses persiapan, akhirnya kami memutuskan untuk bekerjasama dengan beberapa teman yang berminat menitipkan sapinya untuk kami gemukkan sehingga modal awal pembelian bibit sapi sudah teratasi. Sedangkan untuk operasioanal termasuk pembelian mesin coper perajang rumput dan kebutuhan tenaga selama menjalankan usaha menggunakan dana kami sendiri.

Bibit sapi kami beli dari beberapa kota antara lain Muntilan, Magelang dan Gunung Kidul sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pakan 14 ekor sapi di kandangnya, kami menyewa lahan masyarakat untuk ditanami rumput gajah, dan menanam jagung serta indigofera di lahan sendiri, saat musim panen tiba, kami  membeli jerami atau batang padi dari para tetangga yang panen padi. Jika masih kurang, kami juga mendapat pasokan jerami dari daerah lain. Jerami tersebut difermentasi supaya awet sehingga bisa bertahan sampai 3 bulan, ketika musim kemarau tiba dan kesulitan mendapatkan rumput dan hijauan yang lain, maka jerami yang sudah difermentasi menjadi makanan sehat buat para sapi. Di bawah ini foto jerami padi pasokan dari daerah lain dan makanan ternak dari pabrik.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi sapi selain jerami dan rumputan hijau juga diberikan makanan dari pabrik pada sore hari dicampur dengan air, kami menyebutnya komboran sapi. Kelihatan sekali bedanya ketika sapi hanya diberi minum air saja dengan minum komboran yang dicampur dengan makanan dari pabrik sehingga sapi terlihat lebih cepat pertumbuhannya dan lebih sehat. Maka pantaslah kalau para takmir masjid berminat langganan membeli sapi dari kami  untuk korban.

Di bawah ini beberapa foto makanan hijau untuk para sapi, mulai dari rumput gajah, indigofera, dan batang pohon jagung yang kami tanam di halaman rumah.

Rumput Gajah

Rumput gajah ini ditanam di dekat kandang sapi sehingga mudah mengambilnya jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Selain menanam di dekat kandang, kami juga menyewa lahan tetangga untuk menanam rumput gajah, hal ini untuk memastikan pasokan makanan untuk para sapi tetap terjamin.

Indigofera

Kenapa indigofera yang menjadi salah satu pilihan, karena indigofera termasuk jenis tanaman  leguminosa yang kaya akan protein, kalsium, fosfor dan sudah dikenal mempunyai potensi sebagai sumber pakan ternak bermutu tinggi, terutama selama musim kering saat ketersediaa hijauan rumput menurun tajam.

Tanaman Jagung

Kami juga menanam jagung di halaman rumah selain untuk diambil buahnya untuk konsumsi sendiri, batang pohon jagung atau Bahasa Jawa disebut “tebon” nya bisa untuk makanan sapi. Namun apabila kehabisan rumput maka pohon jagung yang masih muda terpaksa dipanen untuk makanan sapi dan buah jagung yang masih sangat muda, kecil-kecil kami menyebutnya janten dipetik untuk dimasak. Jika kami kekurangan batang jagung, kami juga bisa membeli tanaman jagung milik tetangga, mereka lebih senang karena seringkali harganya lebih mahal dibanding harga jual jagung pada saat musin panen jagung tiba. Sebelum diberikan ke para sapi, pohon jagung dirajang terlebih dulu seperti foto di bawah ini sehingga mempermudah para sapi untuk mengunyah.

Babe sedang merajang pohon jagung

Selain makanan yang terjamin dengan kualitas yang baik, sapi dimandikan rutin setiap 3 hari sekali,  kandang sapi dibersihkan setiap hari, kotoran dimasukkan ke tempat penampungan kotoran dan air kencingnya juga dimasukkan ke tempat penampungan yang terpisah dengan kotoran. Setelah terkumpul banyak, kotoran sapi bisa diproses menjadi pupuk dan rencana kedepan selain untuk pupuk, kotoran sapi juga akan diproses menjadi bio gas. Di bawah ini foto tenaga kerja kami yang sedang membersihkan kandang sapi. Menjaga kebersihan kandang termasuk tempat makanan dan minumnya ini untuk memastikan agar sapi tetap sehat dan baik pertumbuhannya.

Para sapi menunggu makanan dengan sabar setelah tempat makannya dibersihkan.

Dengan 14 ekor sapi ini pasar yang kami bidik tidak hanya untuk korban pada Hari Raya Idul Adha, tapi kami juga mempersiapkan pasar untuk konsumsi reguler. Rencana yang kami susun, setelah kami pelihara selama 5 bulan, secara bertahap kami akan memilih tiga ekor sapi yang sudah memenuhi target pasar dan siap dijual. Bersamaan dengan menjual tiga ekor sapi, kami juga akan membeli tiga ekor sapi baru yang bagus kualitasnya untuk kami gemukkan. Bulan berikutnya juga demikian, kami pilih tiga ekor sapi yang siap jual dan membeli tiga ekor sapi baru untuk digemukkan, demikian seterusnya setiap bulan. Sehingga secara ekonomi kami akan memperoleh penghasilan setiap bulan dari keuntungan harga jual dan sistim bagi hasil dengan teman-teman yang menitipkan sapinya pada kami. Selain itu, rencana ke depan kami akan memproduksi bio gas dan pupuk kompos dari kotoran sapi yang kami tampung.

Sesuai dengan rencana kami untuk mengabdikan diri bagi masayarakat di desa, Babe juga sudah mulai membuat pelatihan-pelatihan kecil dengan masyarakat seperti membuat fermentasi jerami, pelatihan bercocok tanam yang baik dan sesuai kontur tanah daerah Gunungkidul yang tandus, membuat emping dari tanaman garut, serta bekerjasama dengan Dinas Peternakan mengadakan kegiatan Posyandu ayam. Saat ini aku juga sedang mempersiapkan beberapa aktifitas yang akan kulakukan di desa supaya hidup ini tetap bermanfaat buat masyarakat. Sesuai dengan pengalamanku bekerja untuk isu anak dan perempuan, maka aku bisa mulai dengan diskusi-diskusi kecil dengan para tetangga tentang pengasuhan tanpa kekerasan pada anak, istilah kerennya “Parenting without Violence” atau untuk mendudukkan anak sebagai pribadi yang memiliki hak seperti halnya orang dewasa dengan kegiatan pengenalan hak-hak anak. Diskusi tentang bagaimana memberdayakan anak agar mereka mengetahui hak-haknya dan mampu mengambil keputusan yang berkaitan dengan dirinya, supaya bisa meraih cita-citanya, terhindar dari pernikahan anak, mampu berkata “tidak” untuk melindungi diri sendiri dari berbagai jenis kekerasan pada anak, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan bersama para perempuan, mungkin saya bisa mengajak diskusi ibu-ibu tentang bagaimana mengkapasitasi diri supaya lebih “cerdas”, mandiri dan memperoleh penghasilan dari ketrampilan yang dimiliki tanpa mengabaikan tugasnya sebagai ibu serta bisa menjadi sahabat buat anak-anaknya. Atau aku juga bisa berbagi pengalaman dengan para perempuan dan remaja di desa tentang pembuatan jamu atau obat tradisional yang dikenal dengan obat herbal yang pernah kupelajari di KSED (Kursus Sosial Ekonomi Desa) di Bandungan waktu sekolah di SMPS Tarakanita Jogjakarta. Selain itu, mungkin aku juga bisa memanfaatkan waktu luang dengan menuliskan pengalaman ke dalam buku sehingga bisa menjadi proses berbagi pengalaman bagi siapapun yang ingin atau sedang berkegiatan bersama perempuan dan anak2. Hmm…. sepertinya indah banget ya kalau semua ini dapat terlaksana. Sekarang aku masih tinggal di Sidoarjo karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Semoga Allah mengabulkan doa kami dan doa kita semua dan aku bisa segera pulang kembali ke desa menemani Bapak yang sudah tua dan berbagi waktu membangun desa bersama Babe Warno belahan jiwaku. Aamiin…. Tunggu lanjutan ceritanya ya sahabat Baltyran….J

6 Comments to "Membangun Mimpi Indah dari Desa (1)"

  1. Wiwit Arianti  18 July, 2020 at 14:03

    Hehe…makasih mas @Syaifuddin… masih merintis semoga berhasil sesuai rencana. Alhamdulillah kalau bermanfaat

  2. Syaifuddin  11 July, 2020 at 13:22

    Keren bu Wiwit, setelah berdayakan yang jauh, sekarang berdayakan yang dekat. Jadi pingin ikutan bu. Salam kagem Babe, sehat selalu. Njenengan berdua memang pemberdaya tulen, energik, kreatif , inovatif. Tulisannya clear dan menginspirasi,

  3. Wiwit Arianti  10 July, 2020 at 23:14

    Halo mbak Betty…
    Salam kenal kembali, trimakasih doa n support-nya ya mbak. Semoga slalu sehat.

  4. Wiwit Arianti  10 July, 2020 at 23:09

    Makasih mbak Sri Suratini…
    Belajar konsisten & menerapkan ilmu semoga bermanfaat buat masyarakat

  5. Sri Suratini Sigid  10 July, 2020 at 16:10

    Luar biasa mbak Wiwit dan mas Warno semangatnya dlm pengembangan masyarakat. Dimanapun, tidak pernah berhenti..
    Sy kagum dan appreciate that.

  6. Betty Lambeth  9 July, 2020 at 20:56

    Wiwit … wowwww … kandang sapi nya bersih banget deh … no wonder sapi2 tsb bisa “berisi” krn selain diberi makanan yg bergizi juga tempat sapi2 tsb bersih, jadi sapi2 tsb betah tinggal di kandang nya sambil menikmati makanan bergizi tsb. Terus semangat meraih impianmu yg hanya tinggal selangkah lagi. Salam kenal juga dari pojokan Malibu Sondi – Los Angeles – CA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.