Three ‘ING’

Dian Nugraheni

Masa kecil kurang bahagia….

Itu bukan cuma candaan bagiku. Sejak usia 6 tahun, aku harus berpisah dengan Ibuku. Sore itu sangat mendung dan akhirnya hujan, ketika Ibuku mengenakan gaun kuning berbintik hitam, berpamitan akan ke rumah saudara, memelukku sangat erat. Aku melihat di matanya tergenang air yang sangat ditahannya agar tak sampai terjatuh.

Drama. Untuk pertama kali dalam hidupku aku berkenalan dengan sebuah drama yang akhirnya tak pernah lepas dari ingatanku. Karena sejak sore itu, Ibuku tak pernah lagi pulang dan tidur menemaniku di tempat tidur besi berkelambu putih. Dan sejak sore menjelang malam itu, aku kecil hanya punya satu doa: Tuhan, buatlah Ibuku bahagia…

Dan, drama demi drama menyusul bertubi-tubi, ketika seorang anak kecil usia enam tahun diasuh oleh banyak tangan yang kerap kali juga lengah dan tak bertanggungjawab, setidaknya karena mereka bukan Ibuku.

Bullying, insulting, humiliating, silih berganti dilakukan oleh sosok-sosok dewasa yang harusnya melindungiku.

Akibat three “ing” itu, aku menjadi pribadi yang bungkam, jelas-jelas soliter, dan susah happy ketika bersama banyak orang di sekelilingku. Dunia terindahku adalah kamar tidurku, tanpa boneka, hanya barang-barang kesukaanku, pita, lilin, cat air, dan buku bacaan yang aku pinjam dari perpustakaan.

Dewasa, berkali-kali aku menemukan diriku terdorong untuk menerjunkan diri dari gedung lantai sekian di mana aku berada. Setelah aku analisis panjang, aku simpulkan, bahwa kiranya aku terlalu sedih berkepanjangan, merasa sendiri, dan tak mampu menemukan jalan keluar. Beban yang teramat berat..

Keras, sangat keras aku berusaha untuk menemukan jalan keluar, agar aku bisa menjadi sosok yang “normal” seperti teman-teman lain di sekitarku.

Bukan perjalanan yang pendek ketika cahaya terang mulai kutemukan untuk membuat aku bisa happy: keep moving…! Keep moving otak dan tubuhku, agar aku bisa melupakan banyak hal yang menekan dan membuatku sedih…

Kapan aku menemukan kesimpulan dari pembelajaran terhadap diriku sendiri itu..? Baru di usia empatpuluh something kemaren dulu, ketika aku sudah tinggal di Amerika, dan statusku sudah single dari yang semula double.

‘Keep moving’ yang menjadi rutinitasku saat ini adalah, sangat sibuk bekerja di dapur warung sandwich dengan pelanggan lebih seribu orang per hari, menulis status di Facebook 🤣, dan sekarang tambah satu lagi, menggambar di atas kanvas, melukis ☺️

Seorang teman bilang, mbak Di produktif sekali (melukis). He..he.., yaa, karena dengan melukis, mbak Di berasyik masyuk dengan segala usaha keras membuat sebuah lukisan, dari yang benar-benar belom pernah melukis di atas kanvas, kemudian kenal, lalu rasanya mau keep doing terus, nggak mau berhenti, karena melukis akhirnya menjadi semacam self healing bagiku.

Jadi, lindungi anak-anakmu dari bullying, insulting, humiliating, dan hal-hal lain yang berpotensi mencederai jiwa mereka, karena jejak sakitnya tak akan mudah hilang hingga mereka dewasa, bahkan ketika mereka menua usia..

3 Comments to "Three ‘ING’"

  1. Handoko Widagdo  23 July, 2020 at 08:35

    Terima kasih sudah berbagi tentang hal penting ini.

  2. Alvina VB  17 July, 2020 at 11:59

    Thank you sudah sharing tentang 3 ‘ing’, Dian. Salut, kamu bisa survive dan keluar dari belenggu 3 ‘ing’. Kalau kamu inget2, orang yg bullying kamu pasti orang2 yg juga tidak bahagia dan bermasalah. Kalau mereka bahagia dan punya empati, pasti tidak melakukan hal tersebut. Teruskan saja melukisnya, memang bagus sekali; itu termasuk terapi lewat seni. Masalah bullying, sekitar 10 tahun (2010/11) yg lalu sudah pernah saya tulis di sini dan masalah tsb masih berlanjut sampe saat ini, terutama di sekolahan. Apalagi jaman COVID-19, pasti entar project seni marak lagi, untuk menanggulangi bullying (terutama untuk anak2 Asia) di sekolahan2 di sini. Anak2 musti diajarin empati secara dini untuk menanggulangi masalah bullying.

  3. James  14 July, 2020 at 14:25

    setuju dan benar sekali 3 “ing” ini akan tetap membekas sepanjang hidup meski sampai diihari tua sekalipun, apalagi ditambah dengan pernah dibuang plus diskriminasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.