Pengalaman Bersama KKMK Sintang

Oleh. Angela Januarti Kwee

Ketika kamu mengalami sesuatu yang menyenangkan, kamu benar-benar merasakannya hadir, baik di dalam hati maupun pikiran. Jadi cobalah lebih banyak berinvestasi di pengalaman daripada di objek fisik.

 Itulah sepenggal kutipan dari buku The Art of The Good Life karangan Rolf Dobelli. Entah kenapa, ketika membaca kalimat ini, aku merenung sendiri. Memikirkan pengalaman-pengalaman yang kudapatkan dalam hidupku. Dapat dikatakan, aku memang pribadi yang senang berinvestasi pada pengalaman.

Nah, baru-baru ini, aku mengalami pengalaman yang sangat berkesan bersama teman-teman di Komunitas Karyawan Muda Katolik (KKMK) Sintang. Kami mengunjungi beberapa paroki dan tempat wisata di Kabupaten Kapuas Hulu. Pengalaman ini membuat kami susah move on karena hanya dalam tiga hari, ada banyak kisah yang terangkai.

PERJALANAN LEBIH DARI 260 KM

Kalau dilihat dari map, perjalanan yang ditempuh dari Sintang ke Putussibau memerlukan waktu lebih dari lima jam. Namun, karena kami rombongan dan sempat berhenti di beberapa titik, waktu yang dibutuhkan lebih panjang. Kami memilih memakai kendaraan roda dua. Layaknya seperti touring motor yang biasa anak muda lakukan. Sedangkan seorang kakak dan dua teman lainnya menggunakan satu mobil.

Bermotor itu menyenangkan, membuatku dapat merasakan hembusan angin yang menenangkan. Membiarkan cahaya matahari menyengat kulitku yang tidak terlindungi. Aku pun dapat menikmati pepohonan, langit biru dengan awan berbagi bentuk dan jalanan yang terhampar panjang di depan. Semuanya tanpa sekat. Dan, ketika hujan turun dalam perjalanan kami, aku dapat merasakan dinginnya air yang mencoba menembusi mantel yang kugunakan. Semuanya menjadi rangkaian pengalaman yang sempurna.

MAKAN YANG SEDERHANA

Selain perjalanan yang seru. Suasana makan kami juga unik. Jadi, kami tidak singgah makan di warung, tapi membawa bekal atau membeli nasi bungkus dan makan di hutan tepi jalan seraya berbincang. Bagiku, momen ini indah sekali. Kami berbagi makanan, menyatu dengan alam, dan menikmati kebersamaan. Tidak lupa, selesai makan, kami memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Anak muda harus menjadi contoh untuk menjaga lingkungan.

WISATA ROHANI

Berpetualangan bersama komunitas gereja, rasanya kurang seru kalau tidak menikmati wisata rohani. Wisata ala kami bukan yang wah sekali. Temanya memang sederhana. Pertama, kami menginap di Rumah Retret Deo Soli. Seperti kebanyakan rumah retret, tempatnya hening, jauh dari keramaian. Dan, kami menghadirkan kehebohan di sana.

Di hutan belakang rumah retret, ada gua Maria Tahta Kebijaksanaan dan jalan salib. Beberapa dari kami berkesempatan mengujunginya dan berdoa. Ada pula, gua Maria Paroki Siut yang jaraknya tidak jauh dari rumah retret. Di hari pertama kedatangan, kami menghabiskan waktu di sana, berdoa dan menikmati alamnya.

Selain itu, kami juga mengunjungi beberapa paroki. Berbicang dengan pastor di sana dan menikmati keindahan gerejanya. Ada satu momen yang tak akan aku lupakan saat kunjungan kami ke Paroki Mendalam. Saat itu, sudah menjelang senja. Beberapa teman sedang berdoa di makam Pastor Ding, SMM (imam Montfortan pertama Indonesia) yang berasal dari Mendalam, Kalimantan Barat. Makam itu sendiri khas, karena mengikuti tradisi suku setempat. Jenazah tidak dikuburkan, tetapi diletakkan di atas tanah dengan dua tiang penyangga membentuk sebuah gerbang. Dalam kekhusyukan teman-teman, aku heboh sendiri melihat pelangi. Letaknya tepat di atas makam. Jujur, aku bahagia sekali. Bagiku, momen itu bukan kebetulan.

Anggaplah, semesta ikut bergembira dengan petualangan yang kami lakukan.

WISATA ALAM

Inilah yang kami tunggu-tunggu, menikmati alam di pedalaman Kalimantan Barat. Pilihannya jatuh pada air terjun Mukong, tak jauh dari Paroki Siut. Untuk sampai di sana, kami harus menggunakan speedboat selama lebih kurang 20 menit. Kehebohan kami tak terbendung lagi. Hutan di sekeliling kami, arus sungai yang deras di beberapa titik. Ditambah lagi, cuaca yang sangat cerah, langit yang membiru, awan-awan nan cantik. Tak henti-hentinya kami berteriak dan mengucap syukur atas ciptaan yang indah dan kesempatan bagi kami menikmatinya.

Tiap kami berkata, momen ini tak mudah didapatkan. Beruntungnya, kami pergi dengan jumlah orang yang lumayan banyak, sehingga kami juga dapat patungan membayar biaya speedboat. Kalau sedikit orang, biayanya lumayan bengkak.

WISATA BUDAYA

Bila berpetualangan di Kalimantan Barat, apalagi Kabupaten Kapuas Hulu, rasanya tidak lengkap kalau tidak berkunjung ke rumah panjang/rumah betang. Maka, kami pun dibawa oleh Pastor Paroki Siut singgah di Rumah Betang Lunsa Hilir. Rumah betang dengan 30 bilik ini sudah menjadi cagar budaya. Saat kedatangan kami, tak banyak penduduk yang berada di balai ruai, hanya beberapa orangtua yang sedang bersantai sambil berbaring sore. Ada pula anak-anak sedang bermain. Indahnya masa kecil mereka.

Aku sempat berbincang dengan seorang pemuda yang memintaku mengisi buku tamu. Ternyata, kami adalah tamu perdana di New Normal ini. Ketika pendemi melanda, kunjungan tamu-tamu luar ke rumah betang ditiadakan. Bahkan ketika gawai, hanya dibatasi penduduk setempat. Terasa berbeda memang. Tapi, kita harus beradaptasi.

Meski tak lama, aku pribadi senang dapat menikmati keindahan rumah betang ini. Berbincang sebentar dengan beberapa penduduk dan melihat langsung kehidupan mereka.

Jadi, begitulah pengalamanku bersama KKMK Sintang. Pengalaman yang tak memerlukan investasi besar, tapi hanya perlu meluangkan waktu saja. Pengalaman yang banyak tawa di dalamnya. Dan, pengalaman itu sebenarnya diatur sedemikian rapi oleh romo pendamping kami – Romo Wawan, SMM.

*kado kecil untuk ia yang bertugas di tempat baru.

(AJ)

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Pengalaman Bersama KKMK Sintang"

  1. Angela Januarti  26 July, 2020 at 15:37

    Terima kasih James dan kak Alvina VB sudah mampir ke sini

  2. Alvina VB  17 July, 2020 at 11:01

    Pengalaman yang menarik Angela. Masa muda memang seharusnya dilewatkan dengan pemgalaman indah seperti ini.

  3. James  16 July, 2020 at 05:44

    nah ini baru artikel panjang Angela, dan ada foto nya lengkap, jadi teringat sewaktu muda di Indonesia sering tamasya naik motor

  4. Angela Januarti  15 July, 2020 at 13:08

    Terima kasih Pak Han

  5. Handoko Widagdo  15 July, 2020 at 11:41

    Saya selalu suka tulisan Angel. Renyah mengalir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.