Muda Atau Tua

Griwo Degriva Adam

DI Indonesia,usia muda sangat potensial meraup keuntungan. Bukan berarti menjadi jaminan bisahidup aman. Sebab, usia di atas 35 tahun, apalagi yang sudah berkepala empat ataulebih, kadang masih berkesempatan mendapatkan upah dari keahliannya.

Di Indonesialebih banyak kaum muda ketimbang yang tua. Sayangnya banyak anak-anak muda menyia-nyiakankesempatan dan hak suksesnya untuk masa depan. Selain itu hanya sedikit yangmemiliki keahlian. Berbeda dengan yang lebih tua. Meski kalah banyak dibandingyang muda, namun keahlian tidak diragukan.

Dua pekan saya mencoba melakukan percobaan menawarkan diri menjadi karyawan di sejumlah perusahaan. Meski saya punya pengalaman dan keahlian yang mumpuni, tidak semua perusahaan mau menerima saya sebagai karyawan. Alasannya umur.

Lagi-lagi di Indonesia usia mutlak menjadi sebuah ukuran. Tidak hanya dalam dunia kerja. Dalam pertemanan pun umur masih dipandang sesuatu hal yang sangat penting. Lebih tepatnya prestis. Bahkan orang yang semula berniat mencari teman pun masih menanyakan soal umur. Padahal banyak yang bilang: “Ah! Umur itu tidak penting! Tua-muda gak masalah, yang penting punya keahlian dan asyik diajak berkomunikasi.”

Sebuah perusahaan di Indonesia tidak akan menerima orang yang sudah berumur 40 tahun ke atas. Itu pasti! Kalaupun ada mungkin karena belas kasihan atau lantaran sebab hubungan baik. Parahnya lagi usia di atas 40 tahun yang berupaya menciptakan peluang kerja bagi orang lain malah kesulitan mendapatkan mdal usaha. Tidak satupun bank-bank yang mau memberikan bantuan. Uniknya, bantuan itu justru diberikan bukan kepada penduduk asli pribumi yang jelas-jelas kerap melakukan kecurangan. Mereka kerap melarikan diri ke luar negeri dan menghilang. Kucuran uang dari bank raib.

Mengetahui kasus-kasus terhadap warga non pribumi, jelas memastikan bahwa penduduk asli pribumi tidaklah bermasalah. Kenyataannya seluruh bank-bank sangat sulit memberikan bantuan modal kepada penduduk pribumi asli Indonesia. Kalapun bisa, modal yang diberikan itu pun nominalnya masih sangat jauh dibanding mereka yang selalu melarikan uang bank.

Saya sampai sekarang pun masih seperti ini. Kerjaan saya masih seputar tulisan, rancang grafis dan foto. Kelak bisa jadi ada yang memodali saya karena keahlian yang saya miliki. Atau barangkali ada orang yang menghargai keahlian saya lebih tinggi sehingga saya patuh dengan peraturan kantor. Masuk kerja pagi pulang sore. Atau bisa pula masuk sore pulang pagi. Seperti masa-masa lalu ketika saya masih di surat kabar harian umum—pergi sore pulang pagi.

Belakangan saya baru sadar seusia saya tidak lagi dibutuhkan oleh perusahaan—meskipun punya keahlian yang sebenarnya menguntungkan mereka. Tapi bagi owner yang cerdas tentu tidak akan melewatkan kesempatan yang tidak datang dua kali. Seperti permainan yang dapat menghasilkan keuntungan, meski usia tidak muda keahliannya sangat dibutuhkan.

Usia muda harusnya lebih produktif. Sayangnya generasi milenial cenderung mati kutu jika jauh dari gawai. Hanya sedikit yang bersungguh-sungguh menyingkirkan gawai berusaha menjadi seorang ahli. Bangsa ini milik kaum muda. Seharusnya malu sama yang tua sebab lebih enerjik. Punya etos kerja. Cermat memutuskan sesuatu.

Saya punya banyak teman yang umurnya lebih tua mendekati setengah abad. Bahkan lebih dari itu. Semangatnya tidak kalah dengan yang muda. Misalnya teman-teman wartawan yang masih aktif di redaksi. Mereka tidak mau kehilangan peristiwa juga hal menarik yang harus ditulis setiap hari.  

Selain itu, teman-teman penulis lain yang umurnya lebih tua dari saya, bahkan selalu mencari-cari waktu untuk dapat menulis. Setiap kali gagasan itu muncul di awang-awang, buru-buru mencari mesin ketik manual atau digital untuk menumpahkan isi dalam otaknya. Itu belum seberapa, masih ada lainnya melebihi mesin yang boros sumber tenaga. Dua puluh empat jam terus menerus selama sepekan hanya dikasih wedang dan ubi. Berhenti hanya jika masuk waktu sholat baik wajib maupun sunnah. Karena kerja yang sebanarnya adalah sholat. Selain itu hanya selingan kerja.

Nah! Saya belum banyak menuliskan hal lain yang pernah saya alami sendiri. Mungkin di lain kesempatan saya akan akan membeberkan kegarangan manusia tua berjiwa muda. Kaum muda harus mencontoh yang tua—sekaligus malu karena kalah samangat. Tapi ingat! Jangan meniru kelakuan bejat para orang tua yang melalaikan sholat. Akibatnya, mereka terjerumus. Ada yang kena cekal karena korupsi. Ada yang melarikan diri karena takut diproses hukum. Ada pula yang berusaha melakukan makar secara diam-diam.

Akhirnya muda dan tua saya serahkan kepada pembaca. Keputusan dan resiko ada pada pembaca. Ini bukan pemilihan presiden, bukan pula pemilihan ketua RT. Sebuah pilihan di usia yang sekarang ini menjadi jawaban yang kelak dapat berubah menyesuaikan usia. Salam!

One Response to "Muda Atau Tua"

  1. James  17 July, 2020 at 07:28

    MAU BEKERJA, usia tidak menjadi penghalang, di Ozi dalam usia 42 tahun kena PHK, masih mendapatkan pekerjaan baru, dalam usia 55 tahun kena PHK kembali, masih mendapatkan pekerjaan baru, dalam usia 60 tahun mengundurkan diri karena argument dengan Leading Hand, masih mendapatkan pekerjaan baru, dalam usia 62 tahun kembali dipanggil oleh perusahaan sebelumnya, dalam usia 65 tahun PENSIUN, diberi Pensiun oleh Pemerintah Ozi dan menikmatinya.
    jadi modalnya adalah Mau Kerja, Jujur dan Rajin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.