Merdeka Dari Pandemi, Mungkinkah?

Oleh: Djodi Budi Sambodo

17 Agustus 2020 tinggal satu bulan lagi, jumlah yang terjangkit virus Covid-19 masih saja bertambah. Alih-alih bicara penurunan, justeru penambahan di atas angka seribu sudah berapa kali terjadi selama tiga minggu terakhir. Lihat saja data nasional per 14 Juli, Selasa (14/7/2020) pukul 12.00 WIB, diketahui ada 1.591 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan kini ada 78.572 kasus Covid-19 di Indonesia, terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020, dengan rekor tertinggi adalah 2.657 pada 9 Juli 2020.  Jumlah terbanyak sekarang adalah berasal dari Jawa Timur yang semula berada di posisi kedua setelah DKI.

Pandemi Covid-19 sudah menjadi momok menakutkan dan kini ‘menjajah’ kebebasan penduduk bumi. Bagaimana tidak, sifat sosial sebagai manusia adalah berinteraksi satu sama lain, ternyata kini menjadi sumber penyebab terjadinya penyebaran virus Covid-19. Misalnya pertemuan empat seminar besar di Jawa Barat pada bulan Februari dan Maret 2020 telah mengindikasikan terjadinya penularan Covid-19. Akad pernikahan di Semarang bulan Juni lalu telah menjadi klaster penyebaran Covid-19, 10 orang positif terjangkit dan dua orang meninggal dunia. Belum lagi peristiwa tertularnya seorang ibu dari pedagang sayuran keliling yang positif terjangkit Covid-19. Peristiwa ini tentunya dapat dijadikan sebagai peringatan bagi masyarakat yang perduli dengan kesehatan dan keselamatan jiwanya. 

Pelaksanaan Peraturan Daerah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) semakin menegaskan adanya  pembatasan aktifitas sosial masyarakat. Mulai dari himbauan kepada mesjid untuk tidak menyelenggarakan sholat Jumat, tarawih dan Ied berjamaah. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online. Anjuran kepada perusahaan agar karyawannya bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Hanya memperbolehkan toko yang menjual kebutuhan pokok masyarakat yang diperbolehkan buka. Peringatan hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2020 misalnya oleh Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) hanya dihadiri langsung oleh pejabat eselon 1 dan 2, sedangkan seluruh karyawan diwajibkan menyaksikan secara virtual atau online. Kondisi seperti ini sangat jauh berbeda di saat sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

Pada tahun sebelumnya peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus begitu maraknya diperingati oleh seluruh masyarakat. Misalnya saja perayaan Kemerdekaan RI ke-74 tahun 2019 oleh warga RW 06 Perumahan Taman Mangu Indah (TMI), Pondok Aren Tangerang Selatan. Acara yang dimulai dari perlombaan menggambar anak usia 4 sampai 7 tahun, futsal usia 16 tahun, tenis meja sampai lomba memasak berlangsung sangat meriah. Hal ini terlihat pada acara penutupannya,  warga yang terlibat mulai dari acara kesenian pencak silat warga betawi Pondok Aren, paduan suara anak-anak Sekolah Dasar, panggung hiburan musik Karang Taruna, tarian daerah ibu-ibu sampai dengan pembagian hadiah pemenang perlombaan mengekspresikan rasa kemerdekaannya dengan begitu riang dan lepasnya.

Acara Peringatan 17 Agustus 2019 Warga RW 06 Perumahan TMI, Pondok Aren, Tangerang Selatan

Mengacu kepada kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, apakah tahun 2020 ini kita masih akan semerdeka tahun-tahun sebelumnya terutama dalam memperingati Kemerdekaan RI? Selama masih ada wabah atau tidak ada penurunan kasus, belum tersedianya obat penangkal resmi dan vaksin untuk melawan virus Covid-19, kita memang belum bisa merdeka dari pandemi. Tetapi bukan berarti harus menyerah. Sebab roda perekonomian harus kembali berjalan normal layaknya sebelum adanya pandemi Covid-19. Tetapi bagaimanakah caranya?

Dalam hal ini Pemerintah sudah mengantisipasinya dengan istilah ‘New Normal’ atau kenormalan baru. Artinya PSBB bisa saja tidak diberlakukan lagi, tetapi masyarakat harus siap untuk hidup berdampingan bersama virus dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan Covid-19. Antara lain menjaga kebersihan tangan, tidak menyentuh wajah, menjaga etika batuk dan bersin, menggunakan masker, menjaga jarak aman (physical distancing), isolasi mandiri ketika tidak sehat dan selalu menjaga kesehatan serta imunitas tubuh. Menghindari kerumunan sebisa mungkin adalah langkah yang terbaik, walau terpaksa dan tidak bisa mengelak dari keramaian, kita tidak boleh lupa untuk selalu mengenakan masker serta rajin mencuci tangan bila telah bersentuhan dengan benda apapun.

Walau masih belum merdeka dari pandemi Covid-19, setidaknya kita masih bisa merdeka untuk beraktifitas apa saja termasuk dalam memperingati 17 Agustus 2020 sepanjang mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Mungkin saja tidak semeriah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tetapi yang pasti keseruannya belum tentu kalah, karena merayakan hari kemedekaan RI di tengah pandemi Covid-19 pada Agustus 2020 nanti adalah akan menjadi pertama kalinya dalam sejarah Indonesia.(*Pondok Aren, 17 Juli 2020*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.