Kabar Kematian

Penulis: Leo Sastrawijaya

Aku mungkin adalah bayang masa lalumu yang sirna. Dan kemudian kisahnya jatuh pada kuntum mawar nan rapuh.

Kubaui kisah itu seiring teriakan sia-sia seorang kenek angkutan kota. Hilang di tengah terik, suaranya redam oleh deru motor-motor yang berlalu-lalang di Purwokerto.

Matanya putus asa, gairahnya mati!

Lalu aku teringat pada mata terindahmu yang mengadu. Mencoba menyudutkanku, mengingatkanku.

Pada ucapanmu kala itu. Saat burung-burung rajawali masih menjadi tunggangan kita.

Apakah cinta adalah nista bagi seorang satria? Tanyamu seolah kepada awan diam yang berarak menghiasi langit.

Sementara seekor cerpelai jinak memainkan rambut ikalmu, memancing rasa cemburu.

Aku menjadi terlalu yakin betapa aku telah terpana terhadap semua yang ada padamu. Sampai aku tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya.

Apakah harus dengan cara sederhana seperti cerpelaimu itu?

Sementara rasa yang menggelora, jauh melebihi rasa menang kepada siapapun, apapun. Saat penaklukan demi penaklukan usai dan teriakan kemenangan membahana.

Tahukan engkau?

Bahwa istana-istana perak dengan singgasana-singgasana gading bersepuhkan emas berhiaskan permata, bukanlah impianku lagi.

Semuanya hanyalah manifestasi yang sepi.

Aku kini terus bermimpi tentang kamu dengan semua keelokan tersembunyi yang tak habis kunikmati. Kamu singgasana masa depanku, gairah yang dikirim Dewata untukku.

Jika kemudian tiada kata terucap dariku, bisakah itu kuganti dengan sepasang mataku?

Dari dalamnya kau bisa temukan,

Jiwaku menderu seperti angin musim kotamu dengan rindu dan gairah yang mengalir laksana arus Kali Serayu.

Karena aku satria, seumur hidupku bahasa yang kukenal hanyalah ringkik kuda dan gemerincing pedang yang beradu!

Bagaimana aku bisa membahasakan cinta dengan kalimat pujangga; merdu merayu?

Mengapa kamu hukum semua ketidakmampuanku ini dengan sinar mata yang meredup dan sepasang bibir yang terkatup?

Derita sepi ini kubawa melintasi abad… melewati samudera, hutan-hutan belantara, padang-padang rumput serta gurun-gurun merana.

Kerinduanku kusampaikan kepada burung-burung dan angin yang melintas di setiap ujung pengembaraan.

Aku mungkin adalah bayang masa lalumu yang sirna. Dan kemudian kisahnya jatuh pada kuntum mawar nan rapuh.

Kubaui kisah itu seiring teriakan sia-sia seorang kenek angkutan kota. Hilang di tengah terik, suaranya redam oleh deru motor-motor yang berlalu-lalang di Purwokerto.

Matanya putus asa, gairahnya mati!

Apakah engkau merasakan derita yang sama sebagai karmapala?

Lalu haruskah kutulis dengan sedih bahwa hidup yang kita jalani melintasi abad semata hanyalah sebuah rangkaian lagu kematian?

==================

PRALAYA, Purwokerto 2000

Pralaya = kabar kematian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.