Ki Telo

Sulit menerkanya, bahkan kalaupun sampean sudah cukup mengenalnya. Ia bisa sekuat kerbau. Tahan lapar kayak ular. Mampu menemukan rayap di celah kayu tersempit seperti trengggiling. Dan anggun seperti ayam. Ia puitik seperti Rumi. Licin seperti Kusni Kasdut. Teguh dan cerdas seperti Althuser. Dan selucu Asmuni.
 
Sehari-hari yang ia lakukan adalah mengolah pekarangan dan kebun sendiri. 
 
Ketika saya bertandang ke rumahnya yang sederhana siang itu, ia sedang menjemur sarung.
 
Dulu ia pernah mendorong saya untuk mengambil S3 dalam bidang rawa rontek. 
Sampean tahu rawa rontek? Ia adalah sejenis ilmu kuno yang membuat seseorang tak bisa mampus selama masih menginjak bumi atau tanah. 
 
Tapi saya menolaknya, bahkan ketika ia sudah susah payah mengenalkan saya kepada seekor kluwing yang profesor dalam ilmu itu.
 
Apa enaknya tak bisa mampus? Demikian pikir saya waktu itu.
 
Balakangan baru saya tahu, bahwa ia menyuruh saya belajar rawa rontek bukan untuk sulit mampus, tapi untuk ngaji tentang bumi dan tanah.
 
Tapi kalau mau belajar tentang bumi dan tanah, kenapa tak melalui geologi saja?
 
Rawa rontek meliputi geologi, tapi geologi tak meliputi rawa rontek. Demikian jawabnya melucu.
 
Ya, iya hanya melucu.
 
Lalu ia menjawab serius. “Memang ada banyak jalan, milyaran, untuk ngaji tentang bumi dan tanah. Tapi jalan rawa rontek ini penting bagi sampean.”
 
“Kenapa?” tanya saya.
 
“Karena..”
 
Angin kering bertiup dari selatan. Sarung basah yang ia jemur berkibar-kibar.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.