Memaknai Hari Anak Nasional

Wiwit Sri Arianti

Hari Anak adalah event yang diselenggarakan di seluruh dunia dan setiap negara memiliki tanggal yang berbeda-beda, sebagai contoh Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni, dan Hari Anak Universal diperingati setiap tanggal 20 November. Peringatan Hari Anak ini bertujuan menghormati hak-hak anak di seluruh dunia. Siapakah yang disebut dengan anak? Menurut Konvensi Hak Anak dan mengacu pada pasal 1 Undang Undang Perlindungan Anak (UUPA) Nomor 23 tahun 2002 yang diperbarui dengan UUPA Nomor 35 tahun 2014, yang disebut anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih ada dalam kandungan.

Di Indonesia, Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap tanggal 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984. Indonesia menentukan Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, dan sejak itu setiap tahun dilaksanakan di tingkat Pusat dan daerah serta Perwakilan RI di Luar Negeri. Peringatan HAN merupakan momentum penting untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh komponen bangsa Indonesia dalam menjamin pemenuhan hak anak atas hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi serta partisipasi anak secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

Tema yang diusung setiap tahun berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan tujuan apa yang akan diraih pada tahun tersebut. Tahun 2019 peringatan HAN mengusung tema “Peran Keluarga Dalam Perlindungan Anak” pelaksanaannya secara nasional dipusatkan di Kota Makassar Sulawesi Selatan. Pada waktu peringatan HAN 2019 saya sedang melaksanakan tugas untuk tanggap darurat terjadinya bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di daerah Pasigala (Palu Sigi dan Donggala) Sulawesi Tengah. Dalam situasi yang belum benar-benar pulih, dengan dampak bencana yang luar biasa buruk pada anak, meningkatnya kekerasan pada anak mulai dari kekerasan fisik, psikologis sampai kekerasan seksual bahkan perkosaan dan meningkatnya perkawinan anak, sedih yaa…. Dengan tema yang sudah ditentukan, kami melaksanakan rangkaian peringatan HAN dengan melibatkan keluarga dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak sehingga menjadi hiburan sejenak yang menggembirakan bagi anak-anak. Karena mereka yang sedang mengalami kekerasan tidak langsung selesai dengan peringatan HAN karena pada kenyataannya banyak anak yang yang justru mengalami kekerasan dari orang-orang terdekatnya yang disebut keluarga.

Pada tanggal 20 Juli 2020, judul dari headline harian Kompas adalah “Anak Korban Kekerasan Cari Sandaran di Medsos” sedih sekali membaca berita hari itu karena kekerasan yang dimaksud adalah kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang terdekat anak-anak, mereka adalah orang tua dan keluarga/saudara. Dari data yang disajikan Kompas, pada lima tahun terakhir sejak tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 orang tua merupakan pelaku kekerasan pada anak terbanyak setiap tahunnya. Medsos yang dimaksud dalam judul tersebut adalah Facebook dan group WhatsApp (WA), anak-anak yang mengalami kekerasan tersebut bebas mengungkapkan apa saja jenis kekerasan yang mereka alami dan apa dampaknya pada dirinya. Anak-anak korban kekerasan akan melukai dirinya sendiri untuk mengalihkan rasa sakit yang mereka alami bahkan ada yang berusaha bunuh diri dengan minum racun obat serangga. Dan dampak yang lebih buruk lagi mereka yang ikut di WA group sering menerima konten-konten yang menjurus ke pornografi bahkan ada anak yang mendapat telpon untuk diajak ketemuan. Persoalan kekerasan pada anak sudah sangat berbahaya dan tidak bisa diabaikan, perlu penanganan yang sangat serius dan melibatkan banyak pihak, ini “PR” kita semua supaya perlindungan pada anak benar-benar dapat dilaksanakan.

Peringatan HAN pada tahun 2020 kali ini dilaksanakan pada masa terjadinya pandemi Covid-19 dengan tema “Anak Terlindungi, Indonesia maju”  harapannya dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian semua pilar bangsa Indonesia, baik orangtua, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media massa dan pemerintah terhadap pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak. Melalui kepedulian tersebut, diharapan juga dapat menghormati, menghargai, dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi, serta memastikan segala hal yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Sehingga dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air di masa pandemi Covid-19. Insya Allah…. di bawah ini tema Hari Anak Nasional 2020.

Karena adanya protokol kesehatan yang harus diterapkan dalam masa pandemi Covid-19 maka acara lebih banyak dilakukan melalui virtual, seperti yang ada dalam panduan pelaksanaan peringatan HAN 2020. Bahwa penyelenggaraan Peringatan HAN 2020 dilakukan secara virtual, sederhana, bermakna dan mudah diikuti oleh anak, pemangku kepentingan, mayarakat, dunia usaha dan media massa untuk mendukung terwujudnya pemenuhan hak dan perlindungan anak. Setelah selesai peringatan HAN pada masa pandemi Covid-19 ini, bukan berarti tugas perlindungan anak selesai, justru setelah ini banyak “PR” yang harus kita kerjakan bersama. Kalau mendengar guyonan dari anak-anak, bahwa mereka bilang sudah kangen ke sekolah, belajar di rumah tidak asyik karena ibu di rumah lebih galak dari guru di sekolah.  Dan keluhan dari para ibu bahwa mereka sudah sangat stress karena anaknya diajari tidak ngerti-ngerti. Kalau kondisi ini dibiarkan saja dengan anggapan setelah terbiasa pada akhirnya semua akan baik-baik saja dan orang tua di rumah bisa mengajar anaknya dengan lebih baik, justru sangat berbahaya apalagi bagi orang tua yang sudah stress karena dampak Covid-19 pada perekonomian keluarga. Dengan kondisi seperti itu orang tua sangat berpotensi untuk melakukan kekerasan pada anak.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang dirilis Kompas pada tanggal 20 Juli 2020 dalam berita headline tersebut di atas, orang tua dan keluarga menjadi pelaku kekerasan terhadap anak jumlahnya meningkat setiap tahun dan selama bulan Januari sampai 14 Juli 2020 atau pada masa pandemi Covid-19 tercatat ada 735 orang tua dan keluarga yang melakukan kekerasan pada anak. Ini masalah serius di negeri kita tercinta Indonesia, dampak buruk dari kekerasan terhadap anak berupa trauma itu tidak bisa dianggap remeh karena selain bisa melukai diri sendiri untuk mengalihkan rasa sakit juga bisa berusaha bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Anak yang ingin bunuh diri menurut anak yang diwawancara Kompas karena merasa sudah tidak punya alternatif untuk mengalihkan sakit luka batinnya. Dan pelaku kekerasan terhadap anak kebanyakan juga pernah mengalami kekerasan dari orang tuanya di masa kecilnya, kalau masalah ini tidak diselesaikan maka akan terus berulang dan menjadi lingkaran setan.

Selain kekerasan yang dialami anak-anak dari orang tua dan keluarganya, anak-anak juga rawan mengalami kekerasan di luar rumah mulai dari teman sepermainan, di sekolah oleh guru dan warga sekolah lainnya, dalam berpacaran, di tempat-tempat yang seharusnya melindungi anak-anak seperti taman baca Al Qur’an oleh guru ngaji atau di sekolah Minggu oleh gurunya, di jalanan tempat para pedofilia berkeliaran , dan lain-lain.  Ada lima bentuk lekerasan yang mengancam anak-anak seperti kekerasan fisik, psikologis, seksual, eksploitasi, dan penelantaran. Semua bentuk kekerasan yang dialami oleh anak-anak akan memberikan dampak buruk dan menimbulkan trauma yang dapat mengganggu proses tumbuh kembangnya. Kalau kita sepakat dengan ungkapan bahwa anak adalah amanah, titipan dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa; anak adalah generasi penerus dan masa depan bangsa; maka sudah seharusnya setiap orang berusaha untuk memberikan perlindungan dan melakukan yang terbaik untuk kepentingan terbaik anak serta memenuhi hak-hak anak.

Menurutku kita harus bergandeng tangan dengan banyak pihak, bekerja sama membangun komitmen untuk upaya yang serius agar dapat mencegah dan menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap anak. Pemerintah sudah melakukan banyak hal bekerjasama dengan organisasi non pemerintah dan organisasi berbasis masayarakat untuk memastikan terjadinya perlindungan anak. Mulai dari pembuatan regulasi dan membangun sistim perlindungan anak dari tingkat masyarakat yang dikenal dengan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) ada juga Program Kesejahtaeraan Sosial Anak Integratif (PKSAI). Ada IDOLA atau Indonesia Layak Anak yang dimulai dari Desa/Kelurahan Layak Anak, Kecamatan Layak Anak, Kabupaten/Kota Layak Anak, Provinsi Layak Anak dengan sederet indikator yang harus dicapai oleh masing-masing Dinas sesuai tupoksinya. Program-program tersebut menjadi tidak efektif jika masing-masing masih mempertahankan ego sektornya, karena pada dasarnya semua itu dibuat untuk memperkuat sistem agar perlindungan anak dapat terwujud. Jika komitmen bisa terbangun di semua tingkatan dan dilaksanakan dengan baik untuk mencapai indikator yang sudah ditetapkan, insya Allah kekerasan pada anak dapat menurun, anak-anak Indonesia akan terlindungi dan terpenuhi hak-haknya.

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli 2020… Kita penuhi hak-hak anak termasuk perlindungan khusus, untuk kepentingan terbaik anak, untuk Indonesia yang lebih baik. Bismillah….. J

One Response to "Memaknai Hari Anak Nasional"

  1. James  25 July, 2020 at 08:14

    Kasian anak-anak di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.