Perjalanan Religi 7

Abu Dhabi (Perjalanan Religi 7)

Sangatlah tidak sopan kalua saya tidak mengulas sedikit tentang Abu Dhabi. Kenapa begitu? Karena penerbangan yang terlama selama perjalanan religi ini dengan maskapai Etihad. Kepemilikan Etihad ini adalah negara Abu Dhabi. Perjalanan dengan Etihad menurut saya cukup menyenangkan. Layout dan warna kursi kecoklatan.
Kebanyakan penerbangan jarak jauh seperti ini jarang yang pesawatnya terlambat atau tertunda.

Namun pada saat kepulangan kami dari Jordan ke Abu Dhabi dengan Jordan Air terpaksa terlambat 2 jam. Untuk ukuran penerbangan International keterlambatan selama 2 jam itu cukup serius. Ternyata ada di dalam pesawat kami seorang penumpang yang sakit sehingga harus diturunkan dan bagasi juga harus dikeluarkan. Terbayang membongkar bagasi pesawat Namun system bagasi di pesawat sekarang sudah canggih.

Beruntung Transit kami di Abu Dhabi sekitar 5 jam. Meskipun ada keterlambatan 2 jam dari penerbangan sebelumnya, tidak ada pengaruh terhadap pemberangkatan Abu Dhabi ke Sydney. Kami tetap berangkat on time menuju Sydney. Tiba di Sydney tepat pada waktunya.

Abu Dhabi International Airport (AUH) merupakan “hub” tempat transit dan airport yang sangat sibuk setelah Dubai International Airport. Hampir 23 juta penumpang memakai fasilitas Abu Dhabi International Airport menurut survey tahun 2015. Untuk fasilitas airport cukup lumayan. Cuman tempat sholat sangat kecil di terminal transit. Untuk membuka pintu saja harus berhati-hati karena bisa menendang/menolak orang yang sedang sholat. Tidak seperti di terminal keberangkatan tempat sholatnya agak luas. Fasilitas seperti air minum gratis dan kursi-kursi untuk pijat cukup bagus semua.

Abu Dhabi sangat kaya mempunyai sumber daya alam 95% minyak dan 92% gas. Abu Dhabi merupakan negara terkaya di United Arab Emirate dengan Gross Domestic Product per kapita $49,600 di tahun 2010. Dinasty Al Nahyan adalah penguasa Abu Dhabi saat ini.

Sepenggal cerita tentang Abu Dhabi. Saat saya sedang menunggu sholat maghrib di pelataran Masjid Nabawi, Madinal Al Munawarrah. Suasana Masjid Nabawi di pelataran luar sangatlah eksotik. Matahari tenggelam semburat dengan warna jingga. Sementara paying-payung telah ditutup. Kita menatap langit dan melihat sepintas burung-burung dara menghilang di udara.

Sebelah saya duduk seorang ibu cantik dari Abu Dhabi. Saya memperkenalkan diri. “Kok tumben anda duduk sendiri tanpa ada teman?”. “Benar, saya sendirian saja sholat. Namun anak-anak ada di hotel”. Dia bilang datang ke Madinah naik mobil dengan keluarga saja. “Anak saya enam (6), sudah ada yang menikah”, katanya. Dia cerita 5 anaknya perempuan, satu yang paling kecil laki. Ibu ini usianya sekitar 48 tapi masih kelihatan muda. Dia bilang hidup di UAE cukup menyenangkan. Pendapatan suaminya cukup dan setiap liburan sekolah seperti saat ini antara bulan Desember/Januari mereka selalu melakukan perjalanan ke Madina. Demikian sekolah-sekokah International juga bagus. Ibu ini Bahasa Inggrisnya bagus sekali. Setelah beramah tamah kami saling cerita sambal menunggu sholat Isha.

Selama perjalanan religi ini saya banyak berkenalan dengan ibu-ibu dari manca negara. Namun mayoritas adalah ibu-ibu dari Indonesia tercinta.

Silahkan lihat film document www.reddit.com/r/Dodumentaries/Comments/Baxghg/abu_dhabi_the _island_kingdom_of_sheikhs_2017

Silahkan bermimpi tinggal disana. Barangkali yang masih single bisa menemukan sheikh sheikh yang kaya dari negeri tsb. Negara negara United Arab Emirate ini sangat bergantung pada para buruh dari negara-negara seperti Nepal, India, Pakistan, Philipina, Indonesia dsb. Penduduk UAE ini tidak mau menjadi buruh. Lebih baik memperkerjakan orang lain dan bangsa lain yang bisa diperintah.
Sekilas tentang Abu Dhabi (Perjalanan Religi 7)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.