berbantal ombak, berselimutkan angin

“MLUUN VAVUAT NE MSAR’EW NIOT”

(berbantal ombak, berselimutkan angin)

 

“Selalu ada yang lebih LESTARI

saat PERAHU mencium bibir pantai kampung halaman….!

Dialah RAHIM cinta yang menampung seluruh DAHAGA.

Di sana,

terpantul segala cahaya surga….”

(Pantai Duroa, Januari 2020)

Puisi di atas ditulis saat liburan di kampung halaman DUROA-Kei-Maluku kemarin, tepat ketika para nelayan kampung menyandarkan perahunya dan kampung Duroa sebagai rahim cinta menyambut mereka dengan cinta membara. Kampung Duroa memang selalu melemparkan raung sepanjang jalan bagi nelayan yang pulang dan tanahnya yang magis serta pasirnya yang halus senantiasa menjaga pun memantulkan cahaya surga kepada mereka yang kembali.

LAUT adalah ruang EKSPRESI yang merdeka! Di atas hamparannya, kapal, perahu, sampan dan manusia berlayar meniti hidup! Kapal-motor dan perahu-sampan nelayan melabuhkan ‘pantat’. Nelayan mempertaruhkan nyawa, mengais hidup, bermandi keringat. Pada pagi hari, mereka pulang membawa ikan dan kegembiraan. Bersama deburan ombak yang mencumbu lembut bibir pantai, para nelayan menyorongkan sampan. Orang berebutan, meminta pun membeli ikan, lalu membawa pulang ke rumah. Para nelayan adalah manusia bebas berekspresi di tengah lautan kebebasan yang menyimpan rahasia. Laut adalah rahasia. Laut adalah kehidupan! Di atasnya, rahasia kehidupan justru tersibak kepada mereka…!!

Tapi di atas segalanya, ada yang lebih lestari dari perahu, ikan dan gelombang, yaitu pelukan rahim cinta kampung halaman…! Dia abadi.

Para nelayan Duroa dengan latar kehidupan di pesisir adalah komunitas yang relatif mandiri, kolektif, punya identitas yang khas, berkarakter keras, tegas dan terbuka.!

Sebagaimana masyarakat pesisir-pantai di Kei pada umumnya, kehidupan yang keras menempa nelayan Duroa sebagai manusia dengan karakter tangguh dan pantang menyerah.

Mereka punya prinsip, “MLUUN VAVUAT NE MSAR’EW NIOT,” berbantal gelombang, berselimutkan angin.

Ungkapkan ini menggambarkan kehidupan manusia Duroa yang keras, tahan bantingan, bermental baja hadapi gempuran badai dan gelombang.

Bagi masyarakat Duroa, nelayan adalah pilihan penting untuk hidup, salah satu profesi terpenting untuk hidup selain bertani. Ikan-ikan yang ditangkap sudah cukup untuk hidup sehari. Mereka selalu yakin,Tuhan dan Leluhur  menyiapkan rejekiNya kepada mereka setiap hari, baik di Laut pun di darat…!! Sebab, KHALIK LANGIT selamanya SETIA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.