Pangeran Dari Timur

Judul: Pangeran Dari Timur

Penulis: Iksaka Banu dan Kurnia Effendi

Tahun Terbit: 2019

Penerbit: Penerbit Bentang                                                                                           

Tebal: x + 594

ISBN: 978-602-291-675-8

Novel “Pangeran Dari Timur” karya bersama Iksaka Banu dan Kurnia Effendi ini sangat menarik. Sebab novel ini mengisahkan kehidupan pelukis terkenal asal Hindia Belanda yang bernama Raden Saleh, sekaligus pandangan khalayak yang terbelah terhadap sosok nyentrik ini, khususnya di jaman pergerakan. Benarkah Raden Saleh layak dipuja sebagai seorang pahlawan? Atau dia sesungguhnya adalah pengkhianat karena telah menikmati kemewahan yang disediakan oleh penjajah?

Novel ini terdiri dari dua kisah yang saling berhubungan. Kisah pertama adalah kisah tentang Raden Saleh. Kisah kedua adalah tentang Syamsuddin, Syafei dan Ratna Juwita – serta disisipi tokoh Tionghoa bernama Ho Pit Liong yang hidup di masa pergerakan. Secara menarik, Iksaka Banu dan Kurnia Effendi merangkai dua kisah berbeda jaman ini dalam tuturannya. Alur pertama berkisah tentang kehidupan Raden Saleh. Alur kedua tentang pemuda di jaman pergerakan. Alur kedua ini dipakai oleh sang penulis untuk mengungkapkan dua pandangan yang berseberangan tentang tokoh seni lukis tersebut. Kisah kedua ini dipakai oleh Kurnia Effendi dan Iksaka Banu supaya bisa leluasa mendiskusikan posisi Raden Saleh dalam kontkes perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Penggunaan dua alur dalam satu novel bukanlah teknik baru. Teknik ini setidaknya pernah juga dipakai oleh seorang sastrawan perempuan Mesir yang bernama Ahdaf Soueif dalam novelnya yang berjudul “The Map of Love.” Soueif menggunakan dua alur untuk menunjukkan konsistensi kegelisahan masyarakat Mesir atas identitasnya selama 100 tahun. Kegelisahan tentang identitas sebagai bangsa yang pernah berjaya di jaman Firaun tetapi terus-menerus menjadi bangsa yang ditaklukkan. Mula-mula oleh bangsa Arab, kemudian oleh Inggris dan Amerika Serikat.

Meski tidak baru, pilihan berkisah melalui dua alur cerita ini dipakai secara kreatif oleh Kurnia Effendi dan Iksaka Banu dalam novel ini. Dengan menggunakan dua alur, maka penulis tidak perlu memasukkan dua pandangan yang saling bertentangan tentang tokoh utamanya saat menceritakan kronologi kehidupan sang tokoh. Sebab di alur kedua penulis bisa dengan leluasa menuangkan dan mendialogkan dua pandangan yang berseberangan tentang Raden Saleh.

Baiklah saya sampaikan dulu pengetahuan saya tentang tokoh utama di novel ini dan tentang penulisnya.

Saya mengenal sosok Raden Saleh dari buku pelajaran saat SMP. Karena saya bukan orang yang gemar memperhatikan lukisan, maka saya tak telalu paham tentang tokoh ini. Sampai suatu saat saya bertandang ke Musium Manusia Purba Sangiran di Sragen. Saya menjadi tertarik dengan tokoh ini. Ternyata yang mengilhami Eugene Francois Thomas Dubois ke Sangiran adalah pameran “balung buto” yang diselenggarakan oleh Raden Saleh. Sebagai seorang penggemar sejarah dan kehidupan masa lalu, saya kemudian mempelajari beberapa informasi tentang sosok Raden Saleh. Penelusuran yang saya lakukan secara amatiran hanya mendapatkan sedikit sekali informasi, yaitu bahwa ia pernah tinggal di Semarang, sehingga namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Semarang. Ia pernah belajar melukis ke Eropa dan beberapa cerita tentang betapa hebatnya dia melukis sehingga tentara yang mau menangkapnya terkecoh dengan lukisan dirinya yang buruh diri di depan pintu, atau lukisan bunganya yang mengundang kupu-kupu.

Informasi lain yang saya dapat tentang Raden Saleh adalah tentang lukisan “Penangkapan Diponegoro” yang menggambarkan betapa geramnya Diponegoro dikhianati oleh Jenderal De Kock. “Lukisan Penangkapan Diponegoro” saya lihat setelah saya berkesempatan mengunjungi gedung dimana Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang pada tahu 1995. Sejak itu ketertarikan saya kepada sang tokoh hebat ini semakin meningkat. Maka, ketika pre-order novel “Pangeran Dari Timur,” saya segera memesannya. Apalagi novel tersebut ditulis bersama oleh Kurnia Effendi dengan Iksaka Banu. Iksaka Banu adalah seorang penulis yang saya suka. Saya telah membaca buku “Semua Untuk Hindia,” “Sang Raja” yang mengisahkan kehidupan sang raja kretek dari Kudus, Nitisemito dan “Teh dan Pengkhianatan.” Saya menikmati karya-karya Iksaka Banu karena detail alur sejarahnya, terutama sejarah kolonial, posisi moralnya yang memuja kemanusiaan dan cara bertuturnya yang renyah menghibur. Sedangkan Kurnia Effendi saya kenal melalui tulisan-tulisannya di blog Global Community Nusantara atay baltyra.com

Sekarang mari kita lihat selengkap apa biografi Raden Saleh dalam novel ini.

Saya mendapatkan banyak informasi tentang tokoh hebat dari Jawa yang menghabiskan Sebagian waktu produktifnya di Eropa. Kisah Raden Saleh diawali dari sejak tokoh ini berumur 8 tahun sampai dengan saat wafatnya. Kisah Raden Saleh disusun berdasarkan kronologi sejarah yang sesungguhnya. Kedua penulis ini memerlukan setidaknya selama 20 tahun untuk melakukan riset tentang tokoh seni lukis ini. Riset yang dilakukan tidak terbatas pada memeriksa referensi, tetapi kunjungan ke tempat-tempat dimana Raden Saleh pernah tinggal atau singgah, baik di dalam negeri maupun di Eropa. Fakta-fakta tersebut kemudian dijadikan bahan penovelan kisah hidup sang pelukis. Seperti karya-karya Iksakan Banu lainnya, alur cerita sama sekali tidak menyimpang dari fakta sejarah. Namun dramatisasi tentu dimasukkan sebagai sebuah syarat untuk menjadi novel.

Dalamnovel ini saya mendapatkan perjalanan karier melukis Raden Saleh dari sejak masa kecilnya, saat di Bogor sebelum berangkat ke Eropa, masa belajar melukis di Belanda, persahabatannya dengan para petinggi kerajaan, kehidupan cintanya di Eropa dan perjumpaannya dengan Revolusi Perancis. Raden Saleh adalah seorang pelukis yang sangat berbakat. Itulah sebabnya banyak petinggi Eropa saat itu, termasuk Ratu Belanda dilukisnya. Lukisan-lukisan Raden Saleh menjadi koleksi istana-istana besar di Eropa.

Dalam novel ini juga dikisahkan bagaimana kehidupan Raden Saleh saat kembali ke Hindia Belanda, kehidupan serumah dengan seorang janda Eropa dan kemudian menikah dengan seorang gadis dari Keraton Jogjakarta. Pernikahannya cukup bahagia. Istrinya sempat diajak ke Eropa dalam perjalanannya yang kedua ke benua biru ini.

Novel “Pangeran Dari Timur” juga memuat perseteruan Raden Saleh dengan Belanda di akhir masa hidupnya. Raden Saleh dipermalukan sedemikian rupa karena didakwa ikut dalam kegiatan makar. Raden Saleh sangat terkejut saat Residen menggunakan Bahasa Melayu dan memanggil Raden Saleh dengan kata “kowe,” ketika Raden Saleh datang memenuhi undangan sang Residen. Keterkejutan Raden Saleh bertambah karena Residen membentak-bentaknya tanpa rasa hormat sedikitpun. Meski dalam pemeriksanaan selanjutnya Raden Saleh tidak terbukti terlibat dalam kegiatan makar yang disangkakan, tetapi perlakuan kasar tersebut telah melukai hati Raden Saleh.

Seperti apa posisi Raden Saleh di mata pemuda di jaman pergerakan?

Iksaka Banu dan Kurnia Effendi menggunakan tokoh Syamsudin dan Syafei. Dua tokoh ini dipilih untuk mempersonifikasikan pandangan para pemuda di jaman pergerakan. Syamsudin adalah personifikasi dari pemuda yang yakin bahwa kemerdekaan Indonesia akan dicapai suatu saat. Tetapi untuk mencapai kemerdekaan tersebut harus disiapkan secara matang dan tak tergesa-gesa. Masyarakat harus dididik dan disiapkan. Oleh sebab itu bekerjasama dengan Belanda untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia adalah jalan baik yang harus ditempuh.

Sedangkan tokoh Syafei adalah tokoh yang mewakili pemuda yang berpandangan bahwa kemerdekaan harus direbut. Rakyat, khususnya pemuda harus menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan. Kalau perlu melalui pemberontakan. Syafei digambarkan sebagai tokoh pemuda berhalauan kiri yang bergabung dengan Partai Komunis Indonesia yang tidak percaya bahwa Belanda akan memberikan kemerdekaan secara cuma-cuma.

Kisah kedua ini mengambil waktu dari Malam Tahun Baru 1925 sampai dengan 1946, ketika Belanda kembali ingin menguasai Indonesia yang telah merdeka. Alur dibangun dengan acuan sejarah pergerakan di jaman itu. Masa dimana pergerakan terbelah menjadi dua strategi, yaitu strategi kolaboratif dan strategi konfrontatif. Masa 20 tahun dari tahun 1925 sampai 1946 dipilih untuk menunjukkan bahwa pada masa itu kaum kiri ikut berjuang dengan gigih mengupayakan kemerdekaan.

Melalui jalinan kisah cinta segitiga antara Syamsudin, Ratna Juwita dan Syafei, penulis dengan leluasa mendiskusikan posisi Raden Saleh dari kacamata pemuda di jaman pergerakan. Syamsudin sangat mengagumi Raden Saleh karena kehebatannya dalam melukis, khususnya dalam hal kompsisi dan detail sapuannya. Ia tidak mempermasalahkan sikapnya yang menerima dukungan Belanda supaya bisa belajar melukis ke Eropa. Syamsudin juga tidak mempermasalahkan kehidupan Raden Saleh yang glamour dan hedonis.

Sementara Syafei sangat kritis tentang tokoh seni lukis yang dianggap melukis untuk membiayai kehidupannya yang mewah. Syafei menjuluki Raden Saleh sebagai Sang Pesolek. Di mata Syafei lukisan-lukisan yang dibuat oleh Raden Saleh adalah karya yang ketinggalan jaman. Usang! Sebab saat Raden Saleh melukis dengan gaya Romantisme, aliran itu sudah mulai redup di Eropa. Meski Syafei menghargai detail dari lukisan Raden Saleh, tetapi Syafei mengecam lukisan-lukisan tersebut karena mengokohkan dominasi Eropa terhadap negara jajahannya.

Melalui tokoh Syamsudin kita bisa melihat sisi kehebatan Raden Saleh. Sedangkan melalui tokoh Syafei kita bisa mengetahui kritik terhadap sang pelukis ini. Di sisi mana seharusnya Raden Saleh ditempatkan? Jawabannya adalah terserah dari para pembaca novel ini. Tugas Iksaka Banu dan Kurnia Effendi adalah menyajikan sosok Raden Saleh seutuhnya serta pandangan para pemuda di jaman pergerakan.

Meski sudah ditulis berdasarkan riset panjang dan hati-hati, supaya kisahnya tidak menyimpang dari sejarah yang diyakini oleh penulisnya, novel ini masihlah belum sempurna. Ada dua hal yang menurut saya perlu ditambahkan atau diluruskan. Pertama adalah tentang peran Raden Saleh dalam mempengaruhi Eugene Francois Thomas Dubois untuk melihat Sangiran dalam upayanya membuktikan the missing link. Pameran balung buto yang diselenggarakan oleh Raden Saleh telah membuat Dubois memutuskan untuk memeriksa Sangiran. Di Sangiranlah Dubois menemukan bukti the missing link sejarah evolusi manusia Purba. Kisah ini ditulis dan dipajang di Musium Manusia Purba Sangiran. Sayangnya episode ini luput dari pengamatan Iksaka Banu dan Kurnia Effendi. Dalam novel ini tidak disebutkan bahwa balung buto yang dipamerkan oleh Raden Saleh di Rumah Cikini pada Bulan Juni 1866 tidak sedikitpun menguak tentang Sangiran.

Hal kedua yang menggelitik pikiran saya adalah penggambaran Pangeran Diponegoro yang menyandang keris Nogososro (saya lebih suka menyebutnya sebagai dhapur Nogosiluman). Keberatan saya dalam penggambaran Diponegoro memakai keris Nogososro adalah karena keris Nogososro adalah tipe keris ageman, bukan keris gaman. Menurut orang Jawa ada dua jenis keris, yaitu keris ageman dan keris gaman. Keris ageman dibuat dengan sangat detail karena dipakai sebagai perhiasan. Sedangkan keris gaman dibuat sederhana tetapi kuat, karena bertujuan sebagai alat perang. Mungkin benar bahwa Diponegoro pernah memiliki keris dengan dhapur Nogososro, tetapi memakainya saat berperang sangat kecil kemungkinannya.

Keberatan kedua saya adalah tentang bentuk keris yang ditampilkan di gambar-gambar Diponegoro, termasuk dari lukisan yang dibuat oleh Raden Saleh. Dalam gambar-gambar tersebut Diponegoro ditampilkan memakai keris yang lebih kecil dan berwarangka gayaman, bukan ladrang. Sementara warangka Keris Nogososro adalah bertipe ladrang.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.