Hamba Tuhan

Hamba Tuhan

Pertemuan awal terjadi di terminal Bus tengah Kota Dingin itu. Kami bertemu begitu saja, tanpa ada rencana. Semua karena kebetulan. Dia datang dari mana dan hendak ke mana, aku tidak tahu. Perkenalan pun diawali dengan identitas anonim. Ya! Anonim. Kami berdiri begitu lama tanpa sepatah kata pun…

Tsunami

Tsunami

Dia datang pada sebuah subuh. Kampung masih sepi. Semua orang masih terlelap dan mungkin terbuai mimpi jelang mentari terbit. Kampung itu memang kampung tidur. Hampir semua penghuninya dibangunkan oleh seberkas sinar mentari pagi yang menerobos masuk lewat jendela atau cela pelupuh dari bambu…

Tikus

Tikus

Gemuruh angin siang bolong menghantam atap seng rumah-rumah penduduk. Debu beterbangan tak karuan menyambutku lalu bersarang dan menempel di wajah basah keringatku. Dari kejauhan, lewat hembusan angin kencang siang bolong itu, akumendengar suara sayup-sayup memilukan. Awalnya aku kira suara…

Curhat Jelatah Kepada Bulan

Curhat Jelatah Kepada Bulan

Keresahanku semakin menggelora, ketika sebulan terakhir rembulan genit tak lagi melirikku yang saban malam meloi dari balik gorden lusuh…Aku mau mengadu padanya tentang hujan yang kian rajin menyambangi rumah reot kami, yang membiarkan airnya merembes masuk lewat celah atap seng yang sudah…

Gaun Merah

Gaun Merah

Itulah saat terakhirku melihat kamu, saat kamu berjalan dengan rambut terutai di bawah sengatan mentari…The last October, sekian tahun silam di Kota bermatahari penuh…Malam ini, kau datang lagi.. Aku bahkan sudah lupa siapa namamu…Aku hanya ingat gaun merah yang kau pakai itu dulu pernah menjadi gaun istimewa…

Langit Jingga pada Sepotong Senja

Langit Jingga pada Sepotong Senja

Tak ada pengalaman yang lebih indah dari pengalaman pada sepotong senja, duduk menatap langit tepi barat dan menyaksikan jejak sang surya pada petak-petak langit jingga. Seperti senja itu, saat aku melepas lelah setelah seharian berjalan, merangkak menelusuri padang tandus menuju kampung halamanku yang kian…

Buih Laut

Buih Laut

Ya laut…Kau seperti telaga luas…Riuhmu maut…Suaramu ganas…Sekelompok nelayan akrab denganmu…Engkau memberi mereka hadiah tanpa menuntut imbalan…Dari rahimmu mereka mencangkul sesuap nasi…Hidup mereka adalah engkau…Lalu aku…Berjuang menangkap buihmu dengan cidukan tangan…

Ketika Hujan Lewat

Ketika Hujan Lewat

Susah sekali bagiku merangkai kata untuk menyulam kisah. Apa lagi aku lahir pada malam bisu di lingkungan hening. Bahasa kami adalah hening dan kami sering berbicara dalam diam. Ketika aku diminta untuk berceritera dengan suara, jujur saja aku kalang kabut karena lidahku kaku. Tetapi entah mengapa…