Saya dan Bapak

Saya dan Bapak

Saya tidak seberani bapak saya. Saya tidak mungkin bilang saya keluar dari Islam meski saya tak lagi memahami agama saya seperti dulu. Tapi toh saya juga membaca banyak buku dan mempelajari banyak hal dari ‘agama-agama’ lain. Saya membaca buku-buku Anthony de Mello…

Mereka Bilang Saya Kafir

Mereka Bilang Saya Kafir

Saya, adalah produk ‘kekacauan’ agama. Kalo saat ini saya tampak seperti ‘kacau’, saya rasa itu baik saja. Saya senang mengalami ini semua. Karena saya tau, dibalik sebuah kekacauan, akan ada sebuah kejernihan yang saya dapatkan sendiri. Bukan kejernihan…

Fanatik

Fanatik

Fanatisme, menurut Wikipedia, artinya orang yang meyakini sesuatu dengan membabi buta. itu kata Wikipedia. Mungkin apa yang saya pahami kurang lebihnya sama. Ceritanya, beberapa waktu lalu seorang teman saya tag foto saya. Dia bilang, ‘kamu…

Kelas Baru Izza

Kelas Baru Izza

Begitulah, ternyata Izza juga harus belajar tentang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan aku senang dia belajar sejak dini. Tidak ada yang tetap dalam hidup ini. Selalu berubah. Kalau kita terpaku pada satu situasi, pada satu kondisi, kita tidak akan maju. Kita akan berhenti pada satu titik ketika situasi…

Love, Light and Joy

Love, Light and Joy

Beberapa saat tangis anak itu berhenti. Aku bertanya-tanya, kenapa kiranya anak kecil itu menangis. Jarinya terjepit? Lis mejanya baik-baik saja kok. Tidak ada yang rusak. Aku amati anak itu. Lucu. Pipinya bulat. Kini air mata masih membasahi pipinya. Aku melihat polah anak itu. Kebiasaan…

Level Spiritual Saya

Level Spiritual Saya

Setiap saat saya selalu mengamati level saya. Ketika saya masih mudah tersinggung, ketika saya masih mudah kuatir atas harta benda dan keluarga saya, ketika saya masih mudah menghakimi orang lain, buat saya, level spiritual saya belum sampai mana-mana…

Aku Menerimamu

Aku Menerimamu

Dan aku terpana. Ketika semua orang berkata senada. Kukira kamu mengucapkan nada yang sama. Ternyata kamu berbeda. Dan memang semua kata-katamu membuatku merasa bahwa kamu mampu menerimaku, seutuhnya. penerimaan yang sempurna…

Langit dan Kita

Langit dan Kita

Aku kembali menatap langit. Tiba-tiba awan yang tadi bergelung di sana sudah pergi. Yah, tak ada yang sama. Itulah kenapa aku suka sekali menatap langit saat aku sedih. Karena dengan melihat langit aku tau, tak akan ada yang lama. Juga kesedihanku. Seperti awan yang…