Anik

Tidak Selamanya Diam itu Emas

Tidak Selamanya Diam itu Emas

Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda meski dilahirkan sekandung. Hal itulah yang membuat terjadinya perselisihan di rumah. Apalagi orangtuaku dikaruniai tiga anak dan aku adalah anak bungsunya. Kadang, suasana rumah…

Dialog Diri

Dialog Diri

Di tengah temaram lilin dan seberkas rembulan yang masuk melalui jendela, kulihati wajahmu. Kali ini saja izinkan aku melihatmu begitu lama. Menikmati alis tebalmu, hidungmu yang besar seperti jambu air, dan pipi yang semakin lama seperti bakpao…

Ketika Malaikat Berbisik

Ketika Malaikat Berbisik

Kakiku mulai gemetar. Tulang-tulangku ngilu melihat ada bayangan banyak orang di depan warung yang remang-remang. Mereka lagi, gumamku. Aku tidak pernah menatap mereka. Aku selalu menunduk jika berjalan melewatinya. Jantungku berdetak…

Obrolan di Cafe itu

Obrolan di Cafe itu

Aku memandangi secangkir coklat panas di hadapanku. Kupegangi pinggiran cangkirnya. Ini kebiasaanku dari dulu, aku suka memegangi cangkir yang panas. Entah, aku merasa panas yang menjalar ke tangan lalu perlahan merambat ke tubuhku…

Meninggalkanku Bersama Senja (2)

Meninggalkanku Bersama Senja (2)

Sudah tidak ada lagi temuan tanpa nama pengirim amplop hijau. Dan sudah tidak ada lagi puisi-puisi penyambut pagi yang sering diam-diam dikirimkannya. Tapi senyuman itu masih ada, senyuman itu masih dia tujukan untukku. Bahkan, sekarang aku bisa melihat senyuman…

Meninggalkanku Bersama Senja (1)

Meninggalkanku Bersama Senja (1)

Isi surat itu adalah puisi. Puisi yang selalu berisi pujian-pujian seorang pria kepada wanita. Dan selalu saja di amplop berwarna hijau itu bertuliskan untuk Dea yang aku kagumi. Kadang merasa bingung dengan pengirimnya. Apa dia tidak salah kirim? Mana mungkin orang…

Cukup, kali ini saja!

Cukup, kali ini saja!

Sedari tadi aku mencari, meniti satu-persatu yang ada di hati. Aku ingin tahu apa yang mengusikku. Kelebatan bayangannya yang sama sekali tidak terbayang sebelumnya melesat begitu saja di benakku. Ah, dia. Lagi-lagi dia. Aku tidak ingin ada dia di benak dan hatiku…

Aku Menunggu JawabanMu, Tuhan

Aku Menunggu JawabanMu, Tuhan

Lama sekali aku tak bergeming. Menikmati setiap angin yang membelai manja rambut panjangku yang kubiarkan terurai. Pandanganku kosong. Pikiranku sibuk menghapus ucapannya tadi siang. Ingin rasanya aku tak ingat sama sekali dengan kejadian tadi, tapi nyatanya…

1 2 3