Arca mengenal baik pedih itu. Saat rindu-rindu mulai menimbun. Saat perih tak lagi bersembunyi. Dari jauh terbaca sepi, membuncah dalam bentuk puisi. Saat banyak pertanyaan akan hati kasmaran. Seperti...…
Hujan mendekat. Kembali melontarkan daun-daun ke jalanan. Perlahan mereka menyatu. Arca, diam-diam, memejamkan mata. Membiarkan lelakinya bersibuk membasahi bibirnya, hingga penuh...…
Di luar masih hujan. Titik-titik airnya bersimpuh di kisi-kisi jendela. Arca hanya bisa memandang dengan tanpa menyentuhnya. Diam-diam ada suara halus menyelinap di hati...…
Kamu suka hujan. Kamu suka mendengar suara percikannya. Menciumi aromanya. Merasakan suasananya. Semua itu buatmu makin menyukai hujan. Ah, Arca...…
Terbanglah pulang kupu, hinggaplah dalam kuncup-kuncup bungaku yang mengembang. Sentuh putiknya, hisap sarinya...…
“Yang kamu suka saja, Arca.” Si lelaki tetap tak melepaskan pandangannya dari layar laptop. “KAMU !!!” jawab Arca lantang...…
Recent Comments