Endah Raharjo

Satu Rahim, Tiga Cinta (2)

Satu Rahim, Tiga Cinta (2)

Kami bertiga memandang sosok Raysa yang membujur tenang di tempat tidur. Seorang perawat baik hati mengepang rambut panjangnya agar tidak meriap ke mana-mana. Raysa sejak kecil rapuh, namun aku sama sekali tidak mengira ia akan berusaha bunuh diri. Aku merasa telah mengajarinya bersikap lentur dalam…

Satu Rahim, Tiga Cinta (1)

Satu Rahim, Tiga Cinta (1)

Baru keesokan harinya, di antara rinai air mata, anakku dari suami kedua itu mau bicara. Tidak banyak, hanya intinya saja. Ia diputus Aryo, pacarnya, begitu orang tuanya tahu aku pernah bercerai tiga kali. Orang tua Aryo tak sudi bermenantukan anak janda penggemar kawin-cerai – begitu mereka menyebutku. Mereka jeri…

Tembak di Tempat (24 – Tamat)

Tembak di Tempat (24 – Tamat)

“Kalau pertambangan giok, Ronn justru berusaha memperlunak semuanya. Dia sukarela menjadi donor dan membiayai sekolah anak-anak pengungsi itu, memberi ketrampilan dan pekerjaan ke perempuan, kamu tahu sendiri. Ribuan, mungkin belasan ribu jumlahnya. Beda dengan ayahnya yang hanya berbuat…

Tembak di Tempat (23)

Tembak di Tempat (23)

Berada di dalam kantor mewah dengan pakaian seadanya aku menjelma itik buruk rupa yang tersesat ke dalam istana. Apalagi Ronn tampak prima dengan setelan katun Mesir warna abu-arang rancangan Balmain, mirip yang kulihat di majalah GQ edisi terbaru. Namun dari caranya memandangku, ia tak…

Tembak di Tempat (22)

Tembak di Tempat (22)

Kami menuju lift berpintu khusus yang dijaga lelaki berseragam, berkacamata hitam, dan bertopi. Selain wajah kakunya bisa kulihat juga tonjolan di punggungnya. Dia menyandang senjata, pikirku. Telunjuk tangan kanannya yang kokoh dan berhias cincin perak bermata kepala ular itu menekan huruf P…

Tembak di Tempat (21)

Tembak di Tempat (21)

Heran, sewaktu Ronn bercerita tentang ayahnya yang bernama Shakrit, aku sama sekali tak mengaitkannya dengan lelaki yang disebut Tim itu. Ia dijuluki ‘Shak the Shark’ karena kegemarannya mencaplok perusahaan-perusahaan di penjuru Asia. Ia pula yang dituding berada di balik eksploitasi tambang giok…

Tembak di Tempat (20)

Tembak di Tempat (20)

Kami mengikuti perintah darurat Tim: tidak menelepon siapapun kecuali menyangkut hidup dan mati. Orangtuaku tidak kuberi tahu nomor baruku. Melalui SMS yang kukirim dengan ponsel bernomor Indonesia kusampaikan kalau 5 hari ke depan aku hanya bisa dihubungi lewat surel atau nomor Indonesia…

Tembak di Tempat (19)

Tembak di Tempat (19)

Mulutku mencangah melihat pemandangan langka di depanku. Tim dan Ronn saling berhadapan, seperti dua ekor serigala jantan yang masing-masing siap menyerang. Mungkin mereka telah bicara lewat telepon ribuan kali, namun baru kali ini mata mereka saling menatap. Sepasang telinga Tim seolah melebar…