Endah Raharjo

Tembak di Tempat (18)

Tembak di Tempat (18)

Tim ditemani Hommer dan asisten manager hotel melarikan Rudi ke rumah sakit dengan van hitam yang dikendarai supir. Hommer, lelaki berdarah Thai-Belanda itu memintaku menyusul ke rumah sakit bersama Fat, melarang aku kembali ke kamar walaupun manager hotel menjamin keselamatanku…

Tembak di Tempat (17)

Tembak di Tempat (17)

“Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Seharusnya aku bisa membaca perilaku Tong Rang yang kerap menghilang di luar jam kerja. Aku hanya menduga… awalnya… dia gay. Aku jarang berasumsi dan tidak suka intervensi kehidupan pribadi teman kerjaku; kecuali bila mereka mengeluhkan sesuatu lebih…

Tembak di Tempat (16)

Tembak di Tempat (16)

Endah Raharjo   Pada hari yang sama ketika aku di Petchaburi, Senin, di Bangkok, seperti dituturkan Rudi padaku. Lepas tengah hari, Rudi dan Naing Naing keluar dari kantor LSM Justice and Peace for All, atau JPA, yang mengurusi konflik dan pengungsi di kamp-kamp kawasan baratlaut perbatasan Thailand-Burma. Tim sudah tahunan bekerjasama dengan LSM ini. Mereka […]

Tembak di Tempat (15)

Tembak di Tempat (15)

Denyut nadiku memburu. Bersahabat dengan orang seperti Ronn pasti jadi impian banyak orang. Namun aku ragu-ragu, teringat laporan tentang kegiatan bisnisnya, yang tersimpan dalam amplop berlabel classified itu; dosa-dosanya yang ia akui dan hendak ia tebus dengan hartanya; juga kata-katanya tentang…

Tembak di Tempat (14)

Tembak di Tempat (14)

Bilioner ini tak secongkak dan seflamboyan seperti tertulis dalam artikel-artikel di majalah. Menurutku ia justru sederhana, suka bercanda, rendah hati, dan menghormati tamu. Mungkin saja aku salah, hanya silau oleh pesonanya. Duduk begitu dekat dengannya, di dalam van super mewah yang melaju pelan…

Tembak di Tempat (13)

Tembak di Tempat (13)

Terapong “Ronn” Rittinondh duduk di kursi rotan, bersilang kaki. Rambut salt-and-pepper-nya dipangkas tidak rata, lurus dan lebat, tergerai menyentuh bahu. Angin kering berhembus cukup keras, menyibakkan anak-anak rambut lelaki itu. Di benakku melintas seekor kuda jantan yang telah berkali-kali…

Tembak di Tempat (12)

Tembak di Tempat (12)

Interior restoran di lantai dua ini warna dindingnya broken white, dengan aksen pelisir keemasan membingkai tiap lubang jendela dan pintu. Semua lampunya tertanam ke dalam plafon. Sinar kuningnya hangat. Kursi-kursinya rotan, dengan dudukan bantal bersalut kain polos merah. Semua mejanya satu ukuran…

Tembak di Tempat (11)

Tembak di Tempat (11)

Kudengar ketukan di pintu kamar saat aku hendak melakukan posisi ardha chandrasana. Pasti Tim. Sore tadi, selepas kami sama-sama keluar kantor karena gusar, ia menelpon, mengajakku bicara. Saat itu aku tengah menyusuri jalanan, membuang semua energi negatif yang tertimbun sejak seminggu lalu…