Fidelis R. Situmorang

Pejaten (2)

Pejaten (2)

Malam selalu lekas habis jika sedang bersamanya…Taksi yang membawanya pergi perlahan mulai menghilang di ujung jalan…Dapat kurasakan, ia malambaikan tangannya dari balik kaca belakang taksi,..sampai akhirnya ekor kendaraan biru itu lenyap dari pandangan mataku…Lampu-lampu jalanan sudah padam…

Pejaten (1)

Pejaten (1)

Tersesat aku, di alis manis itu, keindahan yang sabar menunggu, di dekat rindu matamu…Tersesat aku, di alis manis itu, yang membawaku masuk menuju, ke sejuta mimpi di matamu…Embun luruh di jalan itu…Di lelap tidur debu-debu, di deru suara-suara taksi yang terdengar satu-satu, di lirih bisik nafasmu…

Dan Bayi Mungil Itu

Dan Bayi Mungil Itu

Perempuan itu menatap parit sempit berair dangkal di hadapannya. Mungkin sedang membaca repihan cerita tentang kenangan masa kanak-kanaknya yang dibawa aliran air. Mungkin tentang kampung halaman, Ayah dan ibu tercinta, atau mungkin hanya beristirahat setelah lelah berkeliling. Tapi di tengah malam…

Ibu

Ibu

“Udah pikun banget kali ya, Bro… seneng banget jalan-jalan sendiri, tapi lupa jalan pulang ke rumah. Hilang bisa 2 hari. Makanya sekarang di kerudung nyokap ditulis nama nyokap sama alamat rumah. Jadi kalo ada orang lain yang nemuin, bisa dianterin pulang ke rumah. Pernah ada orang baik yang nganterin…

Ririn

Ririn

Dia kemudian mempercepat langkahnya. Saya juga ikut ‘over gigi’, menyamakan kecepatanya berjalan. Lalu saya menyapanya dan bersikap sok kenal sok dekat. Dia diam. Lantas saya berbicara sendiri tidak karuan menahan debar jantung saya karena salah tingkah. Saya bicara terus, yang penting terlihat orang…

Nyala

Nyala

Ketika lagu Indonesia Raya tak lagi menyentuh hati anak-anaknya…Ketika para pemimpin tak lagi mengerti bahasa rakyatnya…Ketika ramai saudara-saudara sebangsa melihat ketidak-adilan sebagai hal yang biasa…Seorang pemuda berdiri tegak di depan Istana…Mengusap air matanya…Lalu menyulut tubuhnya…

1 4 5 6