Jemy Haryanto

Yeni, Oh Yeni (4)

Yeni, Oh Yeni (4)

Aku tersentak. Jantungku seakan berhenti berdetak. Lututku juga gemetar saat pak Samsu, bapak Yeni, membentakku dengan suara keras. Dia melakukan itu, lantaran dari mulutku, tercium aroma alkohol begitu menyengat. Aku hanya bisa tertunduk lesu, juga malu…

Yeni, Oh Yeni (3)

Yeni, Oh Yeni (3)

Aku melangkah mengikuti Yeni dari belakang. Lalu merebahkan tubuh di atas sofa empuk berwarna merah maron. Tujuan Yeni memintaku datang, tak lain adalah, dia ingin mendengar langsung penuturan dari mulutku, terkait isi hatiku padanya. Dia menuturkan juga, lewat selembar surat…

Yeni, Oh Yeni (2)

Yeni, Oh Yeni (2)

Ku ambil surat itu dari tangan Jo. Membukanya penuh kehati-hatian. Saat membuka amplop putih bercorak bunga mawar itu, jantungku berdegub sangat kencang, kedua tanganku gemetar. Hanya saja, dalam kasus ini, aku tak berani berandai-andai, untuk menarik kesimpulan sebuah misteri…

Yeni, Oh Yeni (1)

Yeni, Oh Yeni (1)

Wajahmu, cantik. Kulitmu, putih bersih. Simpulmu, menawan hati. Tak salah bukan, jika sekonyong-konyong aku jatuh cinta padamu. Berkhayal tentang dirimu, di atas perahu ranjang, yang akan membawa ke peraduan, hingga kita bertemu sebagai kekasih. Tapi aku ragu, bertanya-tanya…

1 2 3