Wina Rahayu

Meretas Jalan, Menuai Waktu

Meretas Jalan, Menuai Waktu

Banyak memori yang sudah mengendap tanpa tahu berada di mana saat ini. Namun bukan berarti lenyap tanpa mampu terurai kembali dalam ingatan. Rel kereta api dan bantalan rel dari kayu jati yang kokoh sudah tak berbekas dan tersisa, yang nampak adalah si hitam…

Diary (2)

Diary (2)

Suasana rumah itu nampak lengang, kondisi pintu tertutup tapi tak terkunci. Aku tetap memencet bel untuk meyakinkan diri. “Assalamualaikum,” itulah bunyi kas bel rumah mbak Gin. Setelah 2 kali tak ada reaksi dari dalam akhirnya kuputuskan untuk bertanya ke 2 orang laki-laki yang ada…

Diary (1)

Diary (1)

Peran Mbak Gin di pabrik garmen,selain sebagai clearning service juga sebagai perawat teman-teman buruh yang sakit. Paling sedikit 5 orang buruh dalam sehari yang harus ia urus di “ruang istirahat”. Mungkin sebutan itulah yang paling pas, karena prasyarat untuk sebuah poliklinik…

Selamat pagi, Samas (2)

Selamat pagi, Samas (2)

Pertemuan Sunthi dengan seorang laki-laki yang berperawakan gagah, di pagi yang gerimis di pantai Samas. Pertemuan ini berkat kepekaan Sunthi menangkap sebuah informasi yang secara tidak sengaja Sunthi dengar. Saat Sunthi berteduh di sebuah gubuk dekat penimbangan ikan, ada seorang pemuda bertanya…

Penjelajahan Sunthi (2)

Penjelajahan Sunthi (2)

Setelah banyak belajar melihat kehidupan di pasar Kalimaling, Sunthi balik dan kali ini menggunakan sebuah bis “Konco Narimo”. Sunthi sudah sering mendengar nama bis ini dari teman Sunthi yang lahir dan tumbuh di desa Bantal, sebuah desa yang kurang…